• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Qadr (Kekuatan) Malam itu pada Kekuatan Al Qur''an

.

Qadr (Kekuatan) Malam itu pada Kekuatan Al Qur''an

oleh : sefrizal     

Pengarang : Syamsi Ali
Hanya saja, saya pribadi cukup menyayangkan kalau kehebatan malam itu hanya terbatas pada jumlah dan bentuk ibadah-ibadah
yang kita persembahkan. Apalagi kalau penilaian kita dibatasi oleh malam, dalam arti sepotong masa dari bulan ini sendiri. Saya sayangkan demikian karena sesungguhnya Allah Maha Adil, tidak pernah membedakan antara waktu-waktu yang ada, semuanya tergantung pemanfaatannya saja. Untuk itu, maksimalisasi "Laelatul Qadr", menurut saya, justeru tidak terletak pada jumlah dan bentuk ibadah-ibadah yang kita lakukan. Maksimalisasi "Kekuatan Malam" itu justeru terletak pada ayat pertama dari Surah Al Qadr: "Sungguh Kami telah turunkan pada malam Al Qadr".
Sebenarnya, kalau dikembalikan pada urutan-urutan pertanyaan tadi: "Dan tahukah kamu apa Laelatul Qadr itu?- Laelatul Qadr lebih baik dari seribu bulan-". Lalu pertanyaan yang timbul kemudian dari kita: "kenapa kiranya malam itu lebih baik dari seribu bulan?". Jawaban yang tepat adalah karena " Sungguh Kami menurunkan al Qur''an pada Malam Al Qadr itu". Artinya, keistimewaan malam itu sangat erat terkait dengan diturunkannya sebuah Kitab yang sangat istimewa (Al Qur''an). Itulah sebabnya, Allah menyebutkan: "Sungguh Kami turunkan (al Qur''an) pada malam yang diberkahi" (Ad-Dukhaan: 3). Sekali lagi, Allah mengaitkan "keberkahan" malam itu dengan diturunkannya Kitab yang membawa berkah (al Qur''an).
Dengan demikian, kehebatan/kekuatan/keunikan/keistimewaan/kelebihan Laelatul Qadr tidak lain karena terkait dengan kehebatan/kekuatan/keunikan/keistimewaan/kelebihan yang ada pada "al munazzal" (yang diturunkan berupa al Qur''an) pada malam itu. Sehingga saya sendiri sangat terkejut menyaksikan beribu-ribu umat menyatakan menang dengan "Laelatul Qadr", hanya karena shalat-shalat sunnah yang dilakukan, terlebih lagi jika dirasakan sebagai penutup dari kekurangan-kekuarangan di masa depan, sementara "hidayah qur''ani" diabaikan dalam proses hidup selanjutnya. Saya justeru menilai bahwa ibadah seseorang pada malam itu, tapi dalam proses selanjutnya "substansi" (hidaya/al Qur''an) diabaikan justeru seperti apa yang dikatakan Rasulullah: "Refleksi akal semalam seorang alim itu lebih baik ibadah yang dilakukan seorang ''aabid dalam seribu malam".
Dengan demikian, sesungguhnya kalaulah kita ingin untuk meraih malam yang jauh lebih baik dari seribu malam itu, sebaiknya selain diperbanyak amalan-amalan ibadah, juga sangat penting untuk dipergunakan untuk "mentadabburi" ayat-ayat Ilahi yang datang pada malam itu dan menjadikan malam itu menjadi istimewa. Satu malam yang dipergunakan untuk merefleksikan "hidayah" Allah, dihayati, dimengerti dengan komitmen diamalkan, tentu jauh lebih baik dari sekedar shalat-shalat sunnah yang terkadang bertujuan menghitung-hitung pahala semata. Kehidupan semalam dengan naungan "petunjuk" sebagai bekal dalam menggapai sisa-sisa kehidupan ke depan, jauh lebih baik dari kehidupan seribu bulan lagi atau sekitar 84 tahun, namun jauh dari hidayah-Nya Allah SWT. Karena nilai hidup manusia bukan pendek dan panjangnya, tapi ditentukan oleh nilai "kesadaran kebesaran Ilahi (taqwa) yang dimiliki seseorang.
Diterbitkan di: September 10, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Komentar

Showing 1 out of 1   Tambahkan komentar Anda
  1. 0 Tinjauan 03 Oktober 2007
    1

    bogie

    BOGIE@ziza.com

    biarkan Allah menilai hambaNya dengan ilmu-Nya, karena Allah paham betul kapasitas akal, pikiran, amalan dan kemampuan ibadah dari semua mahkluknya. karena tidak ada jaminan kita mati dalam keadan baik atau buruk.

Bookmark & share this post

.