Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

BERKURBAN

oleh: sefrizal     Pengarang : Zaim Uchrawi
ª
 
Oleh : Zaim Uchrowi Apa makna kurban bagi kita? Para kontraktor lama di negeri ini tahu. Hingga sekitar seperempat abad silam, setiap kali membangun jembatan, mereka harus menyiapkan kerbau. Fondasi jembatan, di masa itu, tak cukup dengan semen dan batu. Fondasi jembatan harus juga dengan kepala kerbau. Lengkap dengan tanduknya tentu. Maka, kerbau harus dipotong. Upacara harus digelar. Hanya dengan itu semua merasa tenteram. Hanya dengan itu semua percaya bahwa tak akan ada gangguan apa pun pada jembatan tersebut. Baik saat dibangun, maupun saat dipakai kelak. Kepercayaan begitu bukan hanya di sini. Hampir setiap masyarakat punya praktik semacam itu. Sebuah praktik yang berpangkal dari keyakinan bahwa ada kekuatan lain di luar kekuatan manusia. Kekuatan itu gaib, tak terlihat, namun sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia. Kita harus berbaik-baik dengan kekuatan itu jika ingin selamat. Kita harus memberi persembahan atau kurban agar yang gaib tidak marah. Dulu, di masa yang paling primitif, kurbannya tak cukup kepala kerbau. Bila perlu kurban itu adalah anak gadis terbaik. Buat dipenggal. Atau, dilempar hidup-hidup ke kawah gunung berapi. Syukur, tradisi begitu tak lagi ada di dunia. Di kawah Gunung Bromo, yang dilempar hidup-hidup dalam upacara Kesodo juga bukan manusia. Cukup ayam. Begitupun, banyak orang masih rela menuruni dinding kawah buat mengambil ayam kurban. Sayang, kan. Pola pikir primitif berkurban semestinya sudah lenyap sejak 4.000 tahun silam. Yakni, saat Tuhan mengajarkan makna kurban lewat pengalaman keluarga Ibrahim AS. Saat itu, Allah SWT meminta Ibrahim meninggalkan anak dan istrinya di bukit berbatu di tengah gurun. Lalu menyeru pula buat memenggal kepala sang anak. Tak ragu keluarga Ibrahim memenuhi seruan itu. Ketakraguan atau keteguhan yang dibalas Tuhan dengan kemuliaan. Kisah itu mengajarkan bahwa berkurban bukanlah pembunuhan yang hidup agar Tuhan tidak marah. Berkurban adalah penyerahan jiwa sesadar-sadarnya hanya untuk-Nya. Bukan untuk yang lain. Reza Aslan lewat bukunya No God But God mengisahkan betapa takjub Muhammad kecil pada sikap Zayd, kerabatnya. Zayd menolak daging kurban persembahan bagi sebuah berhala di Taif. "Aku tidak makan daging apa pun yang disembelih untuk persembahan selain pada Tuhan," ucapnya. Ia seorang Hanif. Ia tahu persis bahwa tak ada persembahan yang boleh dilakukan selain untuk-Nya. Sebaliknya, persembahan untuk-Nya justru harus terus diberikan. Persembahan seperti itu, sebagaimana ditunjukkan keluarga Ibrahim AS, menjadi kunci kemuliaan manusia. Makin besar nilai persembahan kita, makin besar pula kemuliaan yang menanti. Dengan kata lain, kemuliaan manusia berbanding lurus dengan pengurbanan diri untuk-Nya. Lihat saja ungkapan jer basuki mowo beo. Atau no pain no gain. Tak akan ada pencapaian tanpa pengurbanan. Dalam hal apa pun. Prinsip itu semestinya kita pegang erat. Dengan prinsip itu, semestinya kita lebih banyak berkurban. Daging hewan yang kita sembelih memang sangat berarti bagi mereka yang membutuhkannya. Tapi, lebih dari sekadar daging itu, jiwa pengurbanan kitalah yang benar-benar berarti. Sudahkah kita memiliki jiwa berkurban itu? Acap kali kita merasa telah cukup menyembelih kambing atau sapi. Dengan itu kita merasa tugas telah selesai. Tak ada yang perlu ditunaikan lagi. Toh kewajiban sudah digugurkan. Salahkah bila berharap kemuliaan segera datang? Pola pikir seperti itu masih sering menjerat kita. Kita merasa telah berkurban, tapi kita tak memupuk jiwa pengurbanan. Tak heran bila bukan kemuliaan, melainkan kenestapaan, yang datang. Korupsi menjadi-jadi. Sekitar 40 juta bangsa ini, sama dengan 10 kali jumlah penduduk Singapura, masih terjebak dalam kemiskinan. Mungkin sebanyak itu pula yang hampir miskin. Tidakkah kita ingin keterpurukan ini berakhir, dan berganti menjadi kemuliaan? Jika demikian, mari bangkitkan jiwa berkurban. Mari sisihkan sedikit kemapanan dankenyamanan diri dalam comfort zone masing-masing. Jika kita miskin, mari singkirkan kenyamanan bergelayut dalam buaian nasib. Mari perjelas cita-cita dan tekad. Mari perkeras belajar dan berusaha. Mari malu bergantung pada yang lain. Tekadkan untuk tidak pernah lagi punya "tangan di bawah". Sebaliknya, jika kita berkecukupan, mari bebaskan diri dari buaian gengsi. Mari singkirkan segala atribut kemewahan, untuk bergeser ke keindahan kesederhanan. Mari sisihkan sebagian yang yang kita miliki, buat membantu yang lain. Mari malu jika tak sering menjadi "tangan di atas". Berkurban seperti itu bukanlah berkurban buat orang lain. Berkurban pada hakikatnya adalah bagi diri sendiri. Hasilnya, insya Allah, kemuliaan akan menanti. Bagi diri sendiri, bagi masyarakat ini, juga bagi seluruh bangsa ini.
Diterbitkan di: 04 Agustus, 2007   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.