Apabila kutinggikan
adzan Aku arahkan kepala ke Gunung Bungsu.
Nenek, bangun
Aku pemakan
pagi Sajak tanpa judul dan belum terpublikasi ini dilisankan Chairil Anwar kepada ponakan ayahnya, Zulfahmi (67).
Pada usia 7 tahun Chairil dibawa ayahnya, Tulus, dari Medan ke Taeh, Payakumbuh, Sumatera Barat, Indonesia. Chairil Tinggal
dengan etek, adik ayahnya, Zubaidah. Sampai usia belasan tahun Chairil besar dan bermain bersama kelima anak Zubaidah: Mazni, Ar-Ra’i, Zulfahmi, Zulkifli, dan Yurida Emni.
Chairil dipanggil teman-teman sebayanya dengan
Sinik. Kata Zulfahmi, itu karena di awal kedatangannya, Chairil senang mengajak temannya bermain dengan:
“Sini kau!” Chairil terkenal
tongka (bandel). Kalau tiba
waktu pergi mengaji ke surau, Chairil tidak pernah mau adzan selain di waktu Subuh. Dia punya alasan tersendiri: kalau adzan di waktu Subuh, ia bisa membangunkan neneknya untuk segera bangun dan memasak makanan pagi untuknya.