Halaman Utama Shvoong > Seni & Humaniora > MAESTRO MANTI MINUIK

.

MAESTRO MANTI MINUIK

Pengarang : ABEL TASMAN/DKSB
Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 108  kata: 600   Diterbitkan di: Juli 20, 2007
Manti Menuik









Merawat Seni TradisI Minang dengan Tulus OLEH Abel Tasman/DKSB Namanya
Manti Menuik. Laki-laki. Usianya sudah 81 tahun. Malam itu, 19 Maret
2005, di Teater Tertutup Taman Budaya Sumatra Barat, dalam pertunjukan
maestro seni tradisi Minangkabau yang digelar oleh Dewan Kesenian
Sumatra Barat (DKSB) dalam Pentas Seni IV 2005, dia tampak masih tegar
memainkan silek jalik, tari Adok, dan Tan Bentan,
salah satu seni tradisi Minangkabau yang masih ada sampai sekarang.
Lelaki itu salah seorang pewarisnya. Kepiawaian Manti Menuik memainkan silek jalik, tari Adok, dan Tan Bentan,
bagian seni tradisi Minangkabau menjadikan dia sosok yang
ditunggu-tunggu penonton. Manti Menuik malam itu hadir sebagai salah
seorang maestro seni Minangkabau dari tiga orang maestro yang diundang
khusus DKSB, yaitu Islamidar dan Upiak Palatiang. Di
atas pentas, karena usianya yang sudah tua, gerakannya tampak agak
lamban. Namun, kaki dan tangannya masih bergerak mantap. Sorot matanya
tajam mengawasi gerak-gerik lawan. Tubuhnya
merespons sangat baik. Malam itu, Manti Menuik telah memperlihatkan
“magis”, filosofis, dan makna dari seorang pesilat atau pandeka (guru besar) silek tuo (silat tua) dalam tradisi Minangkabau, serta seorang maestro seni tradisi Minangkabau. Mendengar bunyi Adok (sejenis gendang) yang elok, apalagi suara penyanyi (pendendang) yang rancak, dia akan menari dengan totalitas dirinya: “Raso ka patah lantai (Rasa mau patah lantai),” katanya. Begitulah spirit tari Adok atau Tan Bentan yang dirasakan Manti Menuik—sang maestro penari tradisi paling gaek yang ada di ranah Minang saat ini. Tari Tan Bentan, Tari Piriang, silat Jalik telah
menjadi bagian tak terpisahkan dari hayatnya. Bila menari, Manti Menuik
seperti ekstase—larut dalam irama dan liukan gerak tubuh yang seolah
tak ingin berhenti. Nama Populer Manti
Menuik adalah panggilan populer. Ia diberi nama oleh orangtuanya Jamin,
yang setelah dewasa ditambah dengan gelar Manti Rajo Sutan. Manti (panungkek atau
tangan kanan dari penghulu) merupakan gelar warisan dari sukunya Guci.
Manti Menuik lahir pada tahun 1924 di kampung halamannya Saniangbaka,
Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok. Sejak kecil sampai
sekarang, ia tetap tinggal di kampung, tak pernah merantau seperti
banyak warga Saniangbaka atau lelaki Minang lainnya. Pendidikan
formalnya hanya sampai kelas dua Sekolah Rakyat, hanya sampai bisa
tulis baca. Katanya tak sanggup meneruskan sekolah karena uang sekolah
mahal. Namun belajar Al-Quran atau mengaji di surau ia jalani sampai
tamat, sehingga ia sekian lama menjadi guru mengaji di sebuah surau
dekat rumahnya beberapa tahun lamanya.

Ringkasan lain tentang MAESTRO MANTI MINUIK
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------