Halaman Utama Shvoong > Seni & Humaniora > MAESTRO ISLAMIDAR

.

MAESTRO ISLAMIDAR

Summary by : NasrulAzwar
Kunjungan : 151  kata: 600   Diterbitkan di: Juli 20, 2007
Islamidar Maestro Musik Tradisi Minang Nama: Islamidar Tempat dan Tanggal Lahir: Nagari Talang Maua, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, 16 Juli 1941Pekerjaan: Penjaga sekolah dasar yang difungsikan sebagai kesenianPendidikan: Sekolah Rakyat Karya dan Pengalaman Seni : Di
Indonesia misalnya, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) beberapa kali,
di Taman Ismail Marzuki (TIM) beberapa kali, dan di Surabaya. Di luar negeri, misalnya di Malaysia 9 (sembilan) kali, di Eropa 5 kali: Belanda, Yunani, Jerman, dan Spanyol. Di Asia selain Malaysia, pernah tampil Brunei, Singapura, dan Jepang. Suaranya
merintih lirih namun merdu kala melantunkan syair/ lagu dendang
sampelong yang diiringi saluang bansi yang mengalun. Dialah Islamidar
yang akrab disapa Tuen oleh penduduk kampung sekitar. Tuen lahir pada
16 Juli 1941 di Nagari Talang Maua, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima
Puluh Kota. Di nagari itu pula ia tinggal hingga hari ini. Tuen adalah
pewaris dan penjaga seni sampelong, salah satu seni tradisi Minang yang
masih eksis sampai saat ini. Sejarah hidup Tuen identik dengan
perkembangan sampelong itu sendiri. Tuen
memang berasal dari keluarga yang berdarah seni. Ibunya adalah pelantun
dendang sampelong yang juga pandai memainkan gendang. Sedang sang ayah
adalah seorang qari yang mahir membaca ayat-ayat suci Al-Quran dengan
irama yang enak di telinga. Kakeknya adalah seorang pemain gambus.
Begitu pula etek dan mamaknya. Irama
sampelong adalah irama yang dimainkan dengan saluang sejenis bansi.
Dulunya, sampelong adalah sejenis irama musik yang dinyanyikan pada
saat menggampo gambir. Saat itu sampelong tak pakai
dendang. Kalaupun ada dendang berirama sampelong, tapi musik
pengiringnya adalah talempong. Baru sejak tahun 1965, sampelong pakai
dendang. Syair/lagu dendang sampelong lebih banyak berkisah tentang
kepahitan hidup, keperihan nasib, kegagalan cinta, kemiskinan dan
segala kenestapaan lainnya. Lirik-lirik sampelong adalah elegi: nasi
dimakan serasa sekam, air diminum serasa duri. Sampelong,
sebagaimana dituturkan Tuen sudah ada di Minangkabau sebelum kedatangan
Islam ke ranah ini. Nada sampelong adalah nada-nada lagu Budha. ini
dibuktikan dengan kesamaannya dengan nada yang ada di Thailand—sebuah bangsa yang kebudayaan dan seninya berakar pada agama Budha dan juga di Palembang—daerah yang pernah menjadi tempat berkembangnya agama Budha.

Ringkasan lain tentang MAESTRO ISLAMIDAR
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------