Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>How To>Writing >Menyongsong bulan Ramadhan By : Ustazah Dedeh Agustina

Menyongsong bulan Ramadhan By : Ustazah Dedeh Agustina

oleh: nismawarni    
ª
 
Banda Aceh, 6 Juni 2012

Nabi Muhammad saw rupanya jauh-jauh hari telah mempersiapkan bekal menghadapi bulan yang penuh berkah yaitu bulan Ramadhan. Rasulullah telah memulai persiapan menyambut Ramadhan sejak bulan Rajab dan Sya’ban.

Kita sebagai manusia biasa timbangan amal kebaikan kita itu berat sebelah, maksudnya keburukan lebih banyak ketimbang kebaikan, nah saat menjelang Ramadhanlah kita berusaha menaikan timbangan kebaikan kita, syukur-syukur bisa naik timbangan kebaikan kita sehingga kita berpeluang memasuku surganya tanpa dicuci dulu dineraka.

Ustazah ini juga menggambarkan grafik pertambahan iman kita :

Iman

100 100%

60%

30%

Rajab Sya’ban Ramadhan Syawal

Ket. Grafik

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa jika kita memulai persiapan dibulan Rajab misalnya dengan membiasakan puasa senin dan kamis, shalat duha yang biasanya 2 rakaat kita tambah menjadi 4 rakaat, qiamullail yang mungkin Cuma sebulan sekali kita targetkan seminggu sekali, baca Quran mungkin Cuma 1 lembar sehari kita tambah menjadi 3 atau 4 lembar dan lain sebagainya.

Begitu juga dibulan Sya’ban kita tambah terus target ibadah kita. Nah saat memasuki 1 Ramadhan diharapkan tingkat keimanan kita sudah mencapai 60% dan setelah Ramadhan usai maka keimanan kita diperkirakan 100%.biasanya memasuki bulan Syawal tingkat keimanan kita akan turun, hal ini mungkin disebabkan karena kelelahan kita dalam menghadiri acara halal bihalal di sana sini akhirnya kita pulang ke rumah langsung tidur, jangankan baca Quran untuk shalat saja harus dipaksakan. Nah saat ini otomatis tingkat keimanan kita terus berkurang, misalnya keimanan kita turun 60% maka tinggal 40% tingkat keimanan kita sebagai bekal untuk 11 bulan berikutnya. Kita masih memiliki berkah sisa Ramadhan.

Bayangkan seandainya persiapan kita untuk menyongsong bulan Ramadhan belum ada sama sekali alias mulai dari 0%, maka saat akhir Ramadhan mungkin keimanan kita dengan semangat 65 yang kita kerahkan akhirnya kita berhasil menggoalkan 40% tingkat keimanan kita. Memasuki Syawal mulai balas dendam, kita makan sebanyak-banyaknya, halal bihalal sana sini, akhirnya tingkat keimanan kita turun lagi 40%, hasil akhir yang kita dapat tak ada bekas Ramadhan (tingkat keimanan 0%), atau yang lebih tragis tingkat keimanan kita malah minus. Apa bekal kita meghadapi 11 bulan brerikutnnya?

Makanya setelah Ramadhan kita tak merasakan apa-apa, tak ada bekas Ramadhan.

NB. Ceramah ini disampaikan saat acara Darma Wanita di FMIPA Unsyiah, Banda Aceh.

Diterbitkan di: 10 Juli, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.