Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>How To>Writing >Candi Borobudur Sebagai Simbol Peradaban

Candi Borobudur Sebagai Simbol Peradaban

oleh: Alfatikhul     Pengarang : Hariyanto S. Th I
ª
 
Candi Borobudur Sebagai Simbol Peradaban

Semenjak 2550 tahun yang lalu ajaran Budha disebarkan oleh pendirinya, Sidharta Gautama. Sebagai salah satu produk kebudayaan warisan manusia yang cukup tua, jejak-jejak yang ditinggalkannya amat terasa hingga saat ini. Diantaranya adalah pembangunan candi-candi oleh para pengikut ajaran Sidharta, dan yang paling fenomenal adalah candi Borobudur di Indonesia.

Candi Borobudur merupakan salah satu warisan budaya yang selalu menjadi kebanggaan bangsa Indonesia dan masyarakat dunia. Keagungannya menggema ke manca negara sehingga masyarakat dunia menganugerahinya sebagai bagian dari tujuh keajaiban dunia.


Pencitraan tersebut tentu bukan sekadar pencitraan tanpa dasar. Konstruksi candi Borobudur yang indah, megah, dan penuh makna adalah prinsipnya. Relief-relief yang menghampar di dinding-dinding candi menggambarkan perjalanan Budha dalam menggapai pencerahan, begitu pula arca-arca yang terdapat pada setiap undakan menandakan betapa agungnya Sang Budha.

Dalam sejarahnya, candi Borobudur telah menjadi simbol kebesaran para pendirinya, yaitu raja-raja Syailendra (775-850 M) yang menganut paham Budha Mahayana. Ini adalah zaman keemasan bagi Mataram dan negara di bawah pemerintahannya karena keadaan saat itu aman dan makmur.

Ilmu pengetahuan, terutama yang bercorak Budha amat maju. Kesenian pahat mencapai taraf yang sangat tinggi. Pada waktu itu, seniman-seniman bangsa Indonesia telah menghasilkan karya seni yang mengagumkan. Selain Borobudur, juga berdiri candi Pawon, Mendut, Kalasan, dan Sewu (Prajayanto, 2007: 18).

Bahkan, candi Borobudur hingga saat ini selalu dijadikan tempat merayakan hari raya waisak umat Budha Indonesia, dan dikunjungi oleh penganut Budha di seluruh dunia. Artinya, meski Borobudur telah berdiri sejak tiga belas abad silam, ternyata tidak menjadikannya tak bermakna.

Berbeda dengan candi-candi lainnya yang berdiri di Indonesia telah banyak ditinggalkan dan tidak difungsikan sebagaimana layaknya. Spirit awal konstruksinya yang tidak bisa dilepaskan dari ajaran Budha seakan tak bermakna di mata umat Budha. Semisal, candi-candi yang berada di Pegunungan Dieng, Wonosobo.

Dalam buku Candi, Fungsi dan Pengertiannya, (Soekmono, 2005: 340) menyimpulkan bahwa candi (termasuk Borobudur) merupakan sebuah kuil. Sebagaimana diketahui bahwa kuil merupakan tempat peribadatan yang kedudukannya dapat disejajarkan dengan masjid dalam Islam, atau Haikal dan Sinagog dalam Yahudi, atau Gereja dalam Kristen (Hakim, 1985: 168).

Maka dari itu, candi Borobudur sebagai kuil memiliki makna kesakralannya sendiri yang hanya dirasakan dan dipahami oleh umat Budha. Sehingga menjadi sesuatu yang wajar jika umat Budha tetap konsisten menjalankan berbagai ritual keagamaannya di candi Borobudur.

Tingkah laku keberagamaan tersebut (menyakralkan Borobudur), tentu tidak dapat dilepaskan dari proses pemaknaan umat Budha terhadap candi Borobudur. Karena manusia tidak mungkin memungkiri bahwa setiap perbuatan yang dilakukan merupakan hasil dari pemaknaan terhadap sesuatu.

Pernyataan di atas dapat dikaitkan dengan premis yang dijadikan landasan para penganut teori interaksionisme simbolik sebagaimana yang diungkapkan oleh Sobur Alex (2003: 199), bahwa:

(1) Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka; (2) Makna itu diperoleh dari hasil interaksi sosial yang dilakukan dengan orang lain; (3) Makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial sedang berlangsung.

Dengan demikian, makna sebenarnya (filosofis) yang terkandung dalam candi Borobudur hanya akan dipahami oleh umat Budha. Karena hanya mereka (umat Budha) yang memiliki keterikatan dengan candi Borobudur, baik secara historis maupun emosi keagamaan.

Memang bukan berarti di luar umat Budha tidak dapat melakukan pemaknaan terhadap candi Borobudur. Tetapi sebagaimana penelitian yang sering dilakukan (tanpa melibatkan umat Budha), hasil pemaknaan terhadap candi Borobudur tidak lebih dari sebatas penerjemahan dari simbol-simbol (konstruksi bangunan), yang sebenarnya amat jauh dari hakikat makna.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Alex Sobur (2003: 256) bahwa makna seharusnya dapat mencakup sesuatu yang etik dan transendental. Sehingga ketika seseorang melakukan kajian mengenai makna maka seseorang tersebut harus mengerahkan kemampuannya secara integratif, yaitu indrawinya, daya pikirnya, dan akal budinya.

Kemudian yang terpenting dalam melakukan kajian tentang makna adalah materi yang dijadikan sandaran—dalam konteks ini adalah candi Borobudur—diposisikan tidak lebih dari tanda-tanda atau indikator bagi sesuatu yang lebih jauh, lebih substansial (makna filosofis).

Kunjungi http://ifqo.wordpress.com/

Diterbitkan di: 29 Januari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.