Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>How To>Family >Bagaimana Cara Berbicara Pada Anak Tentang Seks dan Reproduksi ?

Bagaimana Cara Berbicara Pada Anak Tentang Seks dan Reproduksi ?

oleh: dikca     Pengarang : Alia
ª
 
Orang tua pasti senang bila sang buah hati memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Namun orang tua jadi kelabakan jika pertanyaan mereka tentang hal yang selama ini kita anggap tabu, yaitu seks. Arus informasi menggempur anak-anak kita. Lewat majalah, tayangan TV juga internet, mereka seringkali tak terhindarkan untuk mendengar atau melihat tentang masalah sexualitas. Apa itu pornografi, Bu? Dari mana datangnya bayi ? Apa itu perkosaan Bu, apa itu penis ? Apa itu vagina ? Pertanyaan seperti itu nyata-nyata pernah dihadapi oleh para orang tua. Menunda menjelas kan pada mereka sampai usia yang kita anggap pas, atau pada saat kita sendiri siap mental ternyata bukan cara yang paling tepat. Bisa jadi kita siap saat anak-anak sudah tak berminat lagi atau dia sudah mendapat informasi - yang mungkin keliru - dari pihak lain.
Secara umum berbicara prinsip berbicara pada anak adalah jujur dan amanah. Khusus untuk mengajak anak berbicara tentang seks perlu persiapan khusus, sebab ini bukan topik yang ringan.

Berikut ini cara yang bisa Anda coba saat si kecil bertanya tentang seks. Insya Allah dapat membantu.


1. Selalu mulai pembicaraan dengan Bismillah
2. Sebelum bicara, penting bagi Anda untuk mengenal diri dan nilai-nilai yang Anda pegang. Anda bisa dengan
mudah menjelaskan tentang "dari mana adik bayi berasal", tapi yang harus diingat adalah dasari semuanya
dengan tuntunan islam dan nilai ketaatan pada Allah. Hingga di akhir pembicaraan anak akan paham bahwa
bayi/anak adalah karunia Allah yang datang setelah adanya lembaga suci bernama pernikahan.
3. Anda canggung berbicara pada anak soal seks ? Anak akan menyadari kecanggungan Anda dan mungkin juga
akan bersikap canggung pula seperti Anda. Lebih baik sejak awal akuilah padanya dan katakan :
"Sebenarnya Ayah dan ibu agak canggung bicara tentang hal ini karena ini menyangkut aurat yang biasa kita
tutupi dan tidak dibicarakan secara terbuka. Tapi ayah dan ibu ingin tetap berbicara denganmu karena kamu
perlu belajar dan kami juga perlu belajar.
4. Berikan informasi sederhana dan secukupnya. Jika rasa ingin tahunya sudah terpuaskan, berhentilah bicara
5. Tak usah cemas, kalau anak usia 6 tahun bertanya tentang seks lalu dia tergoda 'mencoba-coba'. Sebenarnya
anak yang merasa harus menyembunyikan keingintahuannya lah yang justru lalu sembunyi-sembunyi dan
bereksperimen main dokter-dokteran. Keterbukaan orang tua membuat anak juga terbuka.
6. Gunakan istilah yang tepat.
Katakan penis bukan burung atau titit. Sebut vagina dan vulva bukan itunya adik. Katakan payudara bukan nenen.
Semua itu akan membuat anak memahami bahwa meski itu adalah aurat, tapi bukanlah misteri yang tak boleh
dikenali dan dipelajari.
7. Jangan tertawakan anak
Tawa Anda bisa menyebabkan anak merasa direndahkan dan menjadi enggan bicara. Jika Anda tak bisa
menahan tawa, katakan jujur bahwa Anda tak bisa menahan tawa karena merasa canggung dan tak biasa
berbicara terbuka tentang aurat.
8. Contoh percakapan dengan anak pra sekolah.
"Dari mana datangnya bayi ?"
"Bayi tumbuh besar di rahim ibu sampai siap dilahirkan. Rahim letaknya di perut ibu."
"Kok bisa masuk ke situ ?"
" Ada sperma yang sangat kecil yang berasal dari tubuh seorang ayah. Masuk ke dalam tubuh ibu lalu bertemu
dengan sebuah telur keciiiil sekali di sana. Lalu sperma dan telur kecil ini bergabung dan menjadi bayi kecil.
kalau sudah agak besar bayinya lahir."

Contoh percakapan dengan anak usia sekolah :
"Bagaimana cara bayi keluar ?"
"Lewat sebuah bukaan khusus di antara dua kaki ibu. Namanya Vagina. Kulit dan otot vagina bisa meregang
sehingga cukup untuk bisa dilewati bayi. Biasanya yang keluar kepalanya dulu. "
9. Bersiaplah mungkin Anda harus menulang-ulang penjelasan Anda. Anak mempelajari seksualitas secara
perlahan dan bertahap sampai mereka cukup matang mengolah potongan demi potongan pengetahuan dari
Anda. Ikutlah berkembang bersama anak. Pendidikan mengenai'seksualitas dan reproduksi adalah proses
belajar yang panjang, dan tidak bisa bisa dipisahkan dari pendidikan keimanan.
10. Kuasai pula sumber-sumber informasi yang dimiliki anak agar Anda mampu memberikan pengetahuan yang
unggul dan berkualitas. Banyak anak yang memperoleh potongan informasi dari TV atau internet, sehingga
membentuk konsep yang keliru. Pelajari apa yang anak peroleh dari sumber-sumber itu , lalu siapkan informasi
yang jauh lebih bermutu untuk disampaikan pada anak.

Seorang ibu mendapat pertanyaan dari anaknya yang berumur 12 tahun. Pertanyaan yang nyata-nyata terjadi. Tapi sebelumnya sang ibu ini dengan bijak selalu membimbing anaknya tentang masalah seksualitas.
"Betulkah penis babe masuk vagina ibu ?
"Itu memang benar Nak."
"Kenapa ?
"Itu sesuatu yang diatur Allah, bahwa suami istri boleh menunjukkan cinta mereka satu sama lain dengan cara seperti itu. Lalu sperma si suami yang dihasilkan oleh testisnya mengalir lewat penis dan berenang masuk ke dalam rahim istri sampai kemudian bertemu dengan sel telur. Insya Allah nanti jadi bayi"
"Babe dan ibu tukeran ? Jadi babe punya vagina, ibu punya penis ?"
"Nggak sayang, nggak tukeran. Babe tetap punya penis, ibu punya vagina."
"Tapi kok bisa masuk ?"
"Allah mengatur bahwa penis dan vagina suami istri selalu tepat ukurannya. Untuk yang ini kamu harus menerima kata-kata ibu. Percaya saja !"

Diterbitkan di: 22 Januari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.