/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-style-parent:"";
font-size: 11.0pt;
font-family:"Calibri","sans-serif";
mso-fareast-font-family:"TimesNew Roman";}
Di Indonesia, ternak itik merupakan
ternak unggas penghasil telur yang cukup potensial di
samping ayam. Kelebihan dari ternak itik
dibandingkan dengan ternak lain adalah itik lebih tahan penyakit, sehingga
peliharaannya mudah dan tidak terlalu banyak menanggung resiko.
Umumnya di Indonesia itik di pelihara
secara tradisional yaitu dengan cara menggembalakan itik dari sawah yang satu
ke sawah yang lain. Dikarenakan semakin sempitnya lahan dan resiko kasus
kematian pada itik dikarenakan keracunan pestisida maka pemeliharaan dengan
cara ini makin terancam kelestariannya, selain itu dalam pemeliharaan dengan
cara ini peternak biasanya kurang memperhatikan efesiensi produksi ternaknya.
Hal ini disebabkan karena umur itik yang terlalu tua ketika mulai dipelihara,
singkatnya periode bertelur, dan dewasa kelamin yang sangat lambat.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut
saat ini telah dikembangkan pemeliharaan secara system intensif, yaitu dengan
cara berternak itik tampa air. Pemeliharaan itik tanpa air ini lebih
menguntungkan dibandingkan dengan penggembalaan . keuntungan pemeliharaan itik
tanpa air antara lain produktivitas telur lebih tinggi, kesehatan dan
keselamatan itik lebih terjamin serta biaya pemeliharaan lebih efisien.
Pemeliharaan
itik tanpa air ini pemeliharaan dengan
cara dikandangkan. Itik tidak perlu digembalakan untuk mencari makan sendiri tetapi pakan dan
minum disediakan. Di dalam kandang tidak
perlu disediakan air untuk berenang-renang agar itik hanya memnafaatkan
energinya untuk produksi telur. Selain itu itik yang dipelihara secara intensif
tidak perlu diberi pejantan, sehingga mengurangi biaya pakan. Itik hanya diberi
pakan yang terjamin gizinya dan pemelihraan yang benar. Itik akan bertelur umur
5,5 – 6 bulan. Telur yang dihasilkan merupakan telur steril (tidak mengandung
benih) sehingga hanya cocok untuk telur konsumsi dan tidak bisa ditetaskan. Apabila
tujuan usahanya untuk menghasilkan telur tetas sebagai pembibitan baru
dipelihara pejantan. Untuk menghasilkan telur tetas yang baik, seekor pejantan
sebaiknya maksimal membuahi enam itik betina sebab dikhawatirkan telur yang
fertile menjadi sedikit. Selain itu system pemeliharaannya harus dilepas ke air
agar bisa kawin secara alami.
Dalam system
intensif, biaya yang dikeluarkan untuk pakan lebih banyak daripada system semi
intensif atau tradisional, namun biaya yang besar tersebut sebanding dengan
hasil yang diperoleh. Produksi telur itik yang digembalakan rata-rata 130 butir
telur/ekor/tahun. Adapun dalam pemeliharaan secara intensif produksi telurnya
dapat meningkat menjadi 200 – 250 butir telur/ekor/tahun.
Pertimbangan
ekonomis lainnya pemeliharaan itik secara intensif adalah cara ini dapat
menghemat tenaga. Dalam system penggembalaan seorang peternak hanya mampu
merawat paling banyak 100 ekor itik,
sedangkan dalam cara dikandangkan atau intensif mampu merawat 600 – 1000 ekor
itik sekaligus.