Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Tayammum

oleh: nordy    
ª
 

Secara bahasa tayammum berarti menuju ke suatu tujuan. Menurut istilah syara’, tayammum adalah mengusapkan debu ke wajah dan kedua tangan dengan niat untuk mendirikan sholat atau lainnya. Tayammum telah ditetapkan berdasarkan Al-Qur’an (An-Nisaa’ (4):43), hadits dan ijma’ (kesepakatan) para ulama.

Dalam hadits diriwayatkan dari Abu Umamah disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, artinya, “Telah dijadikan seluruh tanah di bumi itu untukku dan ummatku sebagai tempat sujud dan sarana bersuci. Karenanya, di mana saja waktu sholat itu tiba menghampiri seseorang dari ummatku, maka tersedia tanah sebagai sarana bersuci baginya.”(HR. Ahmad)

Adapun ijma’, para ulama membolehkan tayammum sebagai pengganti wudhu atau mandi wajib pada waktu dan kondisi tertentu.

Tanah yang digunakan untuk tayammum

Boleh tayammum dengan tanah yang suci, begitupun dengan segala yang sebangsa tanah seperti pasir, batu, dan bata, berdasarkan firman Allah ta’ala, “Hendaklah kamu bertayammum dengan sha’id yang baik.” Sedang ahli bahasa telah sepakat bahwa yang dimaksud engan sha’id itu adalah permukaan bumi, baik ia merupakan tanah atau yang lainnya.

Kaifiyat atau tata cara bertayammum

Hendaklah orang yang bertayammum itu berniat terlebih dahulu(ia termasuk pula dalam rukun atau fardhunya). Kemudian membaca basmalah dan menepukkan kedua telapak tangan ke tanah yang suci, lalu menyapukannya ke muka, begitupun kedua belah tangannya sampai ke pergelangan.

Mengenai hal ini taka da keterangan yang lebih sah dan lebih tegas daripada hadirs Ammar r.a., katanya: “Aku junub dan tidka mendapatkan air, maka aku bergulung-gulung di atas tanah lalu sholat, lalu kuceritakan hal itu kepada Nabi SAW., maka sabda nya, “Cukup bila kamu lakukan seperti ini: Nabi SAW. Menepukkan kedua telapak tangannya ke tanah, lalu meniupnya dan kemudian mengusapkannya ke muka dan kedua telapak tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Menurut lafadzh yang lain, hadits itu berbunyi seperti berikut, “Cukup bila kau tepukkan kedua telapak tanganmu sampai ke pergelangan.” (HR. Daruquthni)

Hadits di atas menerangkan bahwa menepukkan tangan ke tanah untuk tayammmum itu cukup satu kali saja dan mengusap tangan itu hanya smapai pergelangan. Menurut sunnah bagi orang yang bertayammum memakai tanah, hendaklah ia menggerak-gerakkan serta meniup kedua telapak tangan agar ia tidak mengusapkan terlalu banyak tanah ke mukanya.

Hal-hal yang diperbolehkan dengan tayammum

Tayammum adalah pengganti wudhu dan mandi ketika tak ada air, maka dibolehkan dengan tayammum itu apa yang dibolehkan dengan wudhu dan mandi seperti sholat, menyentuh Al Qur’an dan lain-lain. Dari Abu Dzar r.a. bahwa Nabi SAW telah bersabda, artinya, “Tanah itu menyucikan orang Islam, walau ia tidak mendapatkan air selama 10 tahun. Dan jika ia telah mendapatkan air, hendaklah membasuhkannya ke kulitnya, karena demikian lebih baik.” (HR. Ahmad dan Turmudzi yang menyatakan shahihnya)

Yang membatalkan tayammum

Tayammum batal oleh semua yang membatalkan wudhu karena ia merupakan penggantinya. Tayammum juga batal karena adanaya air bagi yang awalnya tidak mendapatkan air atau ia telah memakainya untuk bagi orang yang tidak sanggup apada mulanya. Tetapi bila seseorang melakukan sholat dengan tayammum kemudian ia menemukan air atau bila ia tidak dapat menggunakannya (karena sakit misalnya) kemudian ia menemukan air atau ia dapat menggunakannyasetelah selesai sholat, tidaklah wajib ia mengulang walaupun waktu sholat masih ada. (berdasarkan HR. Abu Daud dan Nasa’I dari Abu Sa’id Al Khudri r.a.)

Tetapi bila menemukan air itu atau dapat menggunakannya setelah mulai sholat tapi belum selesai, maka tayammum jadi batal dan ia harus mengulangi bersuci dengan memakai air berdasarkan hadits Abu Dzar di atas.

Dan seandainya orang junub atau perempuan haid bertayammum dikarenakan salah satu sebab yang membolehkan tayammum itu dan ia sholat, tidaklah ia wajib mengulanginya. Hanya dia wajib mandi bila telah dapat menggunakan air (berdasarkan hadits Imran r.a. riwayat Bukhari)


/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; line-heigh t:115%; font-size:11.0pt; font-family:" Calibri","sans-serif"; mso-bidi-font-family:"TimesNew Roman";}
Diterbitkan di: 15 September, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.