Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Struktur Kulit Ayam

oleh: Cahputra     Pengarang : http://cahyadiblogsan.blogspot.com
ª
 
Kulit Ayam
Secara garis besar kulit ayam sama dengan mamalia, terdiri atas epidermis dan korium. Lapisan epidermis agak tipis hanyai beberapa lapis sel. Strtaum korneum jelas, papil tidak tampak . Korium terdiri atas dua bagian, bagian superfisial jalinan serabut kolagen lembut dan bagian profundal lebih kasar. Sub kutis tebal dan banyak mengandung lemak, oleh sebab itu gampang digeser, sedangkan subkutis pada kaki tipis, karena kurang bertaut erat pada tulang kecuali bantalan kaki yang agak tebal dan padat dengan sel lemak dengan septa dan mengandung pembuluh darah. 2. Kelenjar Kulit 2.1 Glandula Surodifera Dibedakan atas dua type yakni : bentuk merokrin dan bentuk apokrin a. Bentuk Merokrin Bentuk kelenjar ini lebih banyak terdapat pada kulit yang sedikit atau tidak terdapat rambut misal : telapak kaki. Lumen ujung kelenjar agak sempit dan epithelnya berbentuk kubis, sel epithel mengandung lemak, glikogen dan kadang pigmen. Pada ujung kelenjarnya terdapat mioepithel yang lebih jarang dari bentuk apokrin. Tempat bermuaranya pada permukaan kulit dan sekretanya lebih bersifat cair dari pada bentuk apokrin. b. Bentuk Apokrin Banyak tersebar pada permukaan tubuh hewan piara karena selalu berkaitan dnegan rambut. Disebut apokrin karena sebagian dari ujung kelenjarnya tampak lebih luas dari merokrin dan kutub bebasnya terlepas sebagai sekreta. Bentuk epithel silindris dan tergantung aktivitasnya keadaan mioepithel relatif lebih rapat. Tipe apokrin berkembang baik pada mamalia. Glandula sudorifera tersebar hampir seluruh permukaan tubuh kecuali pada : gland penis, kulit dalam preputium dan membrana timpani. Kelenjar ini dilengkapi dengan sel mioepithel (Basket cells) yang terdapat diantara kutub basal epithel dan membran basal. Kelenjar peluh menghasilkan peluh, berbentuk cairan dengan bau khas. Sekresi kelenjar merokrin ternyata lebih encer. Bau khas kelenjar apokrin pada hewan ada kaitannya dengan kehidupan seks dan daya tarik seks. Dalam kelenjar peluh terdapat ureum pada kuda menyebabkan terjadinya busa, garam NaCl, Kholesterin, asam urin dan lain-lain. Kelenjar peluh pada berbagai hewan piara berbeda dalam beberapa aspek, kuda lebih cepat mengeluarkan peluh karena kelenjar merokrin relatif banyak, ruminansia besar agak kurang. Sedangkan kelenjar peluh pada anjing dan kucing bersifat rudimenter, karenanya apabila panas lidah menjulur keluar untuk mengatur suhu tubuhnya. Pada daerah tertentu suhu tubuh tampak subur, misalnya : didaerah ventral ekor pada domba, daerah puting susu pada babi dan daerah pinggir berambut. Pada manusia kelenjar merokrin tersebar seluruh tubuh sednagkan kelenjar apokrin terdapat didaerah aksilia. Kelenjar peluh sebenarnya adalah alat pembuang metabolit disamping sebagai termoregulator. 2.2 Glandula Sebasea Disebut juga kelenjar palit, membentuk semacam lobulus yang memiliki membran basal. Alat penyalurnya terdiri atas sel epithel pipih atau kubis rendah selapis dan bermuara didaerah folikel. Cara rekresi kelenjar ini adalah holokrin, sel tua hancur dan menjadi sebum (minyak) yang berguna untuk meminyaki rambut atau bulu, sebum mengandung protein dan kholestrin. Bentuk kelenjar palit ini tergantung dari lebat atau jarangnya rambut, besar atau kecilnya rambut, jenis hewan dan daerah pada tubuh. 2.3 Glandula Mammaria Kelenjar ini merupakan kumpulan kelenjar tubulo-alveolar, yakni modifikasi kelenjar keringat. Kelenjar ambing ini terdiri atas : puting dan ambing. Ambing disusun oleh : kapsula, jaringan ikat interstitial, epithel pansekresi dan sistem saluran pengeluaran. Penyebaran jaringan ikat dan parenkhim berfungsi dalam aktivitas sekresi dari kelenjar. Kelenjar yang berlaktasi aktif mempunyai sekresi dari kelenjar. Kelenjar yang berlaktasi aktif mempunyai lebih banyak parenkhim dan sedikit jaringan ikat dan keadaan akan berbalik apabila kelenjar tidak berlaktasi. Dengan demikian struktur kelenjar ambing pada hewan dewasa yang inaktif (tidak menyusui) berbeda dengan yang aktif dan yang sama sekali belum beranak (dara). Ciri khas kelenjar ambing masih aktif, ditandai dengan adanya benda kasein yang terdapat pada sisa alveoli, alat penyalur atau pada jaringan ikat bekas alveoli. Pengurangan ujung kelenjar secara progresif diimbali dengan terbentuknya jaringan ikat dan jaringan lemak. Pada permulaan laktasi dimulai dengan perkembangan ujung alat penyalur yang nantinya menumbuhkan ujung kelenjar (alveoli) yang diatur oleh pengaruh hormon progesteron selama proses kebuntingan. Strukutur histologi kelenjar ambing sebagai berikut : Ø Stroma : mencakup kapsula, septa dan jaringan interstitial atau interaveolar yang semuanya terdiri atas jaringan ikat sebagai kernagka / penunjang. Ø Parenkhim : Mencakup ujung kelenjar yang berbentuk tubulu alveolar bercabang majemuk dan alat penyalur. Pada hewan muda yang belum beranak ujung kelenjarnya tidak / belum tampak yang nampak hanya alat penyalur dengan banyak jaringan ikat interstitial, bahkan tampak sel lemak. Pada lumen terdapat susu.
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.