Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Paradoks Kembar

oleh: Jarwo_Jacko    
ª
 
/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; line-heigh t:115%; font-size:11.0pt; font-family:" Calibri","sans-serif"; mso-fareast-font-family:"TimesNew Roman";}

“Menurut Hipotesa Einstein yang diberi nama Paradoks Kembar…jika seseorang melakukan perjalanan sejauh 25 thn cahaya dan membutuhkan waktu pulang pergi selama 50 thn, dgn 99,99 % kecepatan cahaya..umur orang tersebut hanya bertambah setengah tua saja selama 50 thn…”

Paragraf diatas adalah status salah satu teman saya di facebook yang bernama Wahid U.

Hipotesa Einstein…mmmhh…Ilmuwan kedua paling berpengaruh di dunia, setelah Sir Isaac Newton. Ini hanya menurut saya, untuk penggemar Einstein, jangan ditanggapi serius.

Oke..mengapa orang tersebut hanya bertambah “setengah tua ?”

Dalam sebuah penelitian dengan menggunakan jam atom, salah satu jam ditempatkan dalam gerakan osilasi maju-mundur, dan jam tersebut bergerak lebih lambat dari jam yang lain. Jam atom memiliki tingkat akurasi yang tinggi, tahun 1971, dua buah jam atom di set pada waktu yang sama, salah satu jam kemudian dibawa terbang mengelilingi dunia dengan kecepatan 966 km/jam. Ternyata, jam yang dibawa mengelilingi dunia menunjukkan keterlambatan waktu.

Paradoks kembar merupakan eksperimen bayangan dalam teori relativitas khusus-nya Einstein yang berkaitan dengan pelebaran waktu. Misalnya, ada sepasang saudara kembar berusia 25 tahun (Jono dan Joni). Jono melakukan perjalanan ke luar angkasa dengan kecepatan hampir mendekati cahaya, menuju Planet Nero berjarak 25 tahun cahaya. Untuk melakukan perjalanan bolak-balik Bumi-Nero, ia menghabiskan waktu 50 tahun. Ketika tiba di Bumi, Jono mendapati bahwa Joni telah berusia 75 tahun, sedangkan dirinya baru berusia 50 tahun. Apabila Jono mengalami waktu yang lebih lambat, bukankah ia memang akan lebih muda dari Joni ?

Memang eksperimen untuk Jono dan Joni belum dapat diimplementasikan, karena kita belum dapat memiliki kendaraan antariksa yang memiliki kecepatan hampir seperti cahaya (300.000 km/det). Namun, efek pelebaran waktu ini sesuai dengan teori relativitas umum, bahwa gravitasi dari benda yang memiliki massa besar, dapat melengkungkan ruang-waktu disekitarnya. Hal ini menyebabkan waktu dapat berjalan lebih cepat atau lebih lambat, dan meruntuhkan anggapan bahwa waktu bersifat mutlak, sekaligus menunjukkan relativistik ruang-waktu. Oh iya, saya tidak menuliskan “ruang dan waktu”, tapi “ruang-waktu”, karena “ruang” dan “waktu” adalah satu kesatuan.

Dengan melewati waktu yang lambat, pertumbuhan biologis-pun ikut melambat, wajar jika Jono akan lebih muda dari Joni. Einstein menganggap ruang angkasa adalah anyaman medan ruang-waktu, benda ber-massa, seperti Bumi, dapat melengkungkan ruang-waktu, dan waktu dapat berjalan lebih lambat didekat benda massive. Jadi, bila kita dapat lebih dekat ke matahari, kita mungkin dapat lebih awet muda :)

Teori Relativitas, menjadi dasar adanya kemungkinan perjalanan menembus waktu, impian yang sering kita saksikan dalam film science fiction. Apabila kelak segala sumber daya yang dibutuhkan manusia telah terpenuhi, dan manusia dapat melakukan perjalanan menembus waktu, dibalik keserakahan, emosi dan nafsu, semoga tujuan untuk memciptakan kehidupan yang lebih baik, tetap menjadi yang terdepan.

Diterbitkan di: 18 Desember, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.