Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Sains>Fisika>Rahasia Cahaya ke-Ilahi-an: Cahaya Di atas Cahaya Bagian III

Rahasia Cahaya ke-Ilahi-an: Cahaya Di atas Cahaya Bagian III

oleh: WandiPutra     Pengarang : Wandi Putra
ª
 
Dalam bagian ke II dari artikel ini telah disebutkan bahwa cahaya matahari memancarkan radiasinya dalam bentuk cahaya yang terdiri dari: sinar gamma, sinar ultraviolet, cahaya tampak dan sinar inframerah. Yang menjadi pertanyaan sekarang ialah mengapa hanya cahaya tampak dan sebagian kecil sinar ultraviolet dan sinar inframerah ini saja yang bisa mencapai permukaan bumi. Adakah hal ini merupakan suatu kebetulan saja ataukah ada suatu kekuatan yang telah mengaturnya?
Jawabannya adalah karena hanya panjang gelombang dan frekwensi cahaya inilah yang ideal sehingga menyebabkan terus berlangsungnya kehidupan di muka bumi ini.

Pada artikel sebelumnya telah disebutkan bahwa energi suatu gelombang bergantung kepada panjang dari gelombang tersebut. Semakin pendek panjang gelombang maka energinya akan semakin besar. Dengan gelombang energi yang besar, cahaya ataupun sinar mampu untuk membelah molekul-molekul suatu atom. Dalam buku yang berjudul "Energy and the Atmosphere" Ian Campbell seorang fisikawan dari Inggris menunjukkan ketakjubannya terhadap radiasi sinar matahari yang sampai ke bumi dimana hanya sebahagian kecil saja dari pita spektrum elektromagnetik tersebut yang bisa diloloskan oleh atmosfir. Seorang fisikawan terkenal menyatakan di dalam sebuah artikelnya yang berjudul "Life and Light" pada Scientific American: "Radiasi yang berguna untuk memulai reaksi kimia yang teratur terdiri dari sebagian besar radiasi matahari kita". Ini berarti bahwa untuk memulai reaksi kimia diperlukan adanya energi agar reaksi tersebut berjalan. Dan energi yang digunakan oleh organisme yang ada di permukaan bumi terutama tumbuhan, sumbernya berasal dari radiasi matahari (proses fotosintesis). Sedangkan tumbuhan itu sendiri merupakan makanan bagi hewan herbivora (termasuk bagi manusia) sebagai sumber energi.

Oleh karena itu, penulis mencoba untuk memahami Surat Annur ayat 35 pada artikel bagian I bahwa Cahaya Allah lah sumber dari segala bentuk cahaya yang terpancar baik yang terpancar ke langit maupun ke bumi. Baik yang terpancar ke alam nyata maupun hingga ke alam ghaib. Kekuatan energi dari Cahaya Allah ini sungguh tidak terbayangkan oleh akal pikiran manusia. Seperti kata-kata dalam ayat tersebut di atas yang menyatakan bahwa Cahaya Allah seperti pelita yang besar yang kacanya saja bagaikan bintang (matahari) yang bercahaya sedangkan bahan bakarnya pun berupa minyak yang diumpamakan "hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api". Sehingga dengan kekuatan energi inilah gunung di dekat Musa hancur lebur karena tidak sanggup untuk menahan energi Cahaya Allah. Demikian pula halnya dengan Jibril akan terbakar apabila ia melampaui batas ketahanan dirinya untuk menerima Cahaya Allah.

Jibril pernah berkata kepada Nabi Muhammad bahwa antara dirinya dengan Tuhan ada dinding (hijab) yang berlapis-lapis. Demikian pula halnya dengan Nabi Muhammad. Seandainya satu lapis saja dari dinding tersebut terbuka maka dirinya akan habis terbakar. Perumpamaannya dengan bumi kita adalah kehidupan tidak akan pernah berlangsung seandainya Allah tidak memberikan dinding (hijab) pada bumi berupa atmosfir yang melindungi bumi dari pengaruh cahaya ataupun gelombang dengan energi yang besar. Jadi cahaya matahari yang menembus atmosfir hingga sampai ke bumi merupakan suatu hal yang memang sudah diatur oleh-Nya.
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.