Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Sains>Fisika>Memahami PERILAKU ORANG LAIN DARI JIWANYA YANG TERDALAM

Memahami PERILAKU ORANG LAIN DARI JIWANYA YANG TERDALAM

oleh: bluetauries     Pengarang: Hj. Lilik Sriyanti; M.Si
ª
 

Manusia sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna adalah statmen yang tidak pernah diragukan. Manusia dibekali pikir, kecerdasan dan ilmu agar dapat mengungkap segala sesuatu yang masih misteri. Demikian juga manusia dapat mengungkap jiwa manusia yang terdalam dengan ilmu, dengan akal dan dengan teori.

Jiwa manusia berlapis-lapis sebagaimana langit dan bumi ini diciptakan berlapis. Lapisan jiwa paling luar adalah jiwa yang nampak, yang disadari, yangdiri sendiri bisa melihat dan orang lain juga bisa melihat. Lapisan kedua adalah jiwa prasadar atau subcounsious yaitu kondisi jiwa yang disadari secara samar-samar oleh diri sendiri, bisa juga tidak disadari dan tidak bisa dilihat orang lain. Lapisan ketiga adalah jiwa yang terdalam yaitu jiwa yang tidak disadari atau berada dalam alam bawah sadar unconsious.

Selama ini kita mengenal seseorang hanya dari perilaku yang nampak saja, itu artinya kita baru mengenal kulitnya. Padahal kulit tidak selalu mencerminkan isi, banyak orang tertipu membeli buah-buahan karena terpengaruh kulitnya yang mulus, ranum, menyala, ternyata masam. Bila kita ingin memahami seseorang secara total, maka perlu kita pahami beberapa kemungkinan perilaku yang bersumber dari alam bawah sadar, karena perilaku yang bersumber dari alam bawah sadar tidak disadari oleh yang bersangkutan.

Untuk memahami seseorang secara utuh, tidak cukup melihat perilaku yang nampak saja, tetapi perlu dipahami apa yang melatarbelakangi perilaku tersebut.

1. Cuek-tidak ramah-jarang tersenyum bukan berarti sombong

Dalam pergaulan bisa jadi ada teman kita yang sok cuek, tidak mau kumpul bersama teman-teman, sibuk dengan urusannya sendiri, jarang tersenyum, terkesan kurang ramah. Sepintas kita menilai orang tersebut sombong, karenanya banyak orang yang tak mau mendekati, tidak mau berteman dengannya.

O rang yang kelihatannya cuek, jarang tersenyum, dan kurang ramahadalah orang yang perlu dibantu, karena bisa jadi sebenarnya dia merasa rendah diri. Orang yang rendah diri akan mengambil jarak dengan orang lain, takut bergaul, takut bicara dan mempunyai perasaan takut lain termasuk ‘takut tersenyum’. Karena itu jangan cepat mengambil kesimpulan negatif terhadap orang-orang di sekitar kita .

2. Overacting, cerewet, lebay tidak selalu karena PD

Orang yang overacting, banyak tingkah, cerewet, lebay, kemayu dan sifat lain yangsejenis seakan menggambarkan bahwa orang tersebut sangat PD (percaya diri). Sifat seperti ini adakalanya kurang disenangi bahkan jadi bahan gosip, karena dianggap terlalu PD.

Orang yang merasa memiliki borok (baca : kekurangan), akan menyembunyikan kelemahannya agar tidak diketahui orang lain dengan cara bersikap dan berperilaku yang berbeda dengan yang dirasakan, termasuk bergaya overacting. Jadi sikap overacting, banyak tingkah, cerewet, lebay, kemayu sebagai jalan untuk menutupi kelemahan diri.

3. Ngompol bukan berarti menahan kencing

Ada anak SD kelas tiga tiba-tiba ngompol di kelas, remaja, ibu-ibu ngompol saat tidur pulas, merupakan perilaku regresi (kembali ke masa anak). Peristiwa tak wajar tersebut terj a di karena yang bersangkutan memiliki rasa tidak aman, merasa jiwanya terancam (bukan karena garong),yang disebabkan karena peristiwa tadi siang, lima hari lalu, bahkan sebulan yang lalu,sehingga yang bersangkutan berperilaku seperti anak-anak. Mengapa merasa tidak aman, mengapa merasa terancam? Ini yang perlu dicari lebih jauh.

4. Kesakitan tidak harus karena sakit

Dokter sering bertemu dengan orang-orang yang merasa sakit, seperti lumpuh, kejangperut, pusing, tetapi secara medis tidak ditemukan penyakitnya. Orang yang kesakitan tidak harus karena sakit, tetapi menyakitkan diri.

Ada siswayang mengeluh sakit kepala ketika pelajaran olah raga, siswa lain tiba-tibagatal-gatal ketika guru lesnya datang . Ada mahasiswa selalu mual, sakit perut setiap ketemu dosen pembimbing skripsinya yang ‘killer’ , adalahgaya menyakitkan diri yang disebut rasionalisasi.

Namun, p erlu digaris bawahi bahwa tidak semua orang pendiam karena kurang percaya diri, tidak semua yang cerewet karena punya kelemahan. Banyak juga orang ngompol karena menahan kencing, banyak orang sakit memang ada penyakitnya

Terakhir, kita perlu memahami seseorang tidak hanya dari perilaku yang nampak, akan lebih baik kalau kita mencari latarbelakang munculnya suatu perilaku. Dengan cara demikian kita akan maklum terhadap berbagai perilaku yang menurut kaca mata kita ‘tidak baik’.

Diterbitkan di: 10 Agustus, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.