JENDER DALAM
ARSITEKTUR Adanya ungkapan jender dalam arsitektur mungkin salah dipahami
orang, yakni sebagai paham yang membeda-bedakan sebuah perancangan sebagai milik wanita atau milik pria. Pemahaman ini selain keliru, juga akan berimplikasi menjadikan sempit dalam berkarya. Dampaknya, banyak orang yang menentang upaya penelitian yang berbau jender dalam bidang
arsitektur, atau memandang sebelah mata. Meskipun, baik diakui
maupun tidak, bahwa wanita secara lahiriyah (jasadiyah) terlahir memang ada perbedaan dalam bentuk tubuh, potensi yang berbeda dengan pria, misalkan dalam potensi mengandung, melahirkan, menyusui, besar-kuatnya otot tubuh dll. Namun hal-hal tersebut bukanlah tujuan dari dibicarakannya gender dalam arsitektur. Juga bukan bertujuan untuk semata-mata mencari kuota suara perempuan dalam ikut andil dalam permasalahan arsitektur, untuk menghindari sebuah karya disebut arsitektur pria atau sebaliknya, arsitektur wanita. Meski tak dapat dipungkiri bahwa boleh jadi terdapat kesan yang berbeda dari sebuah karya arsitektur, hasil dari sentuhan seorang arsitek pria dengan sentuhan seorang arsitek wanita.
Tujuan sebenarnya dari diskusi tersebut adalah untuk mencari keterkaitan antara psikologi sosial, psikologi lingkungan, psikologi arsitektur atau psikologi tempat (Canter,1977) dengan basis pemahaman arsitektur dan psikologi gender.
Jadi, ketiga hal tersebut di atas adalah berbeda duduk permasalahannya. Yang pertama cenderung bersifat posesif, sempit, pragmatis; yang kedua cenderung bicara kesetaraan jender dalam arti vulgar, tekstual; sedangkan hal yang ketiga ungkapan gender dalam arsitektur, cenderung bersifat merangkul, terbuka, kontekstual dan luas karena dipahami sebagai, upaya eksplorasi terhadap pemahaman persepsi, kognisi para wanita maupun pria masing masing dalam menanggapi (bahkan merencana dan merancang) suatu karya desain baik arsitektur maupun interior. Lebih terkait permasalahan psikologi wanita maupun pria, menyangkut, hubungan/ interaksi antara mereka (sosial) baik antara pria dengan wanita, pria dengan pria atau wanita dengan wanita; bagaimana ‘menangkap’, ‘memperkirakan’, memetakan, seperti apa persepsi, sikap dan respon tindakan mereka ketika berada dalam sebuah lingkup ruang buatan.
Keberhasilan dari memahami karakterisitik seorang wanita, sekumpulan wanita, seorang pria, sekumpulana pria, seorang wanita bersama seorang pria, sekumpulan wanita dan pria, jika berinteraksi dengan suatu lingkungan buatan (karya arsitektur/ ruang) adalah merupakan keberhasilan yang ideal. Seperti kata Alexander (1977) bahwa setiap bagian dari suatu lingkungan, dibuat dari campuran instink pria dan wanita, keseimbangan maskulin dan feminim,…Sehingga selain mengakomodasi masalah gender, paham yang muncul dari pemahaman ini, bahwa sebuah karya arsitektur bukanlah karya yang diktatorisme, bukan karya yang senantiasa mendikte, memimpin atau mencari label tersendiri, bukan karya seni yang egois, tetapi sebuah karya arsitektur adalah yang populis, demokratis, open minded, dan dinamis, kondusif, adaptif, akomodatif sesuai dengan persepsi, maupun perspektif baik dari sang arsitek/ perencana maupun masyarakat para pengguna. Dengan upaya ini, semoga hal ini dapat mengembalikan citra peran arsitek sebagai ‘fasilitator’, moderator, dinamisator maupun pemain dalam sebuah proses perencanaan dan perancangan arsitektur.
Yogyakarta, 5 Februari 2008
Lidi Wilaha, Arsitek-Peneliti “Jender pada Mall Perbelanjaan di Yogyakarta”, tahun 2004. (Hp.+6281578796931)