Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Sains>Rekayasa>High tECH hIGH tOUCH

High tECH hIGH tOUCH

oleh: bagindamuslim     Pengarang : NAISBIT
ª
 

high tech adalah pikiran manusia ke depan dengan perantaraan teknologi dengan melupakan tradisi kemanusiaan atau yang sudah dicapai sebelumnya.
Sementara itu high touch adalah meyakini adanya kekuatan purba yang menunjang kehidupan dan kematian. Ia adalah mempercayai sesuatu yang mengakui adanya hal-hal yang lebih besar dari pada kita. Di luar manusia tersimpan kekuatan lain yang berbeda dengan sesuatu yang dihasilkan hanya dari teknologi. High touch adalah perkembangan manusia yang mengesampingkan teknologi. Manusia sisi kemanusiaanya memang hidup tetapi tidak bisa bekerja secara efisien dan efektif, seperti perkembangan jaman purba manusia atau kaidah-kaidah tradisional.
Sedangkan high tech high touch adalah merangkul teknologi yang memelihara kemanusiaan kita dan menolak teknologi yang merasuki kemanusiaan kita itu. High tech high touch adalah mengakui bahwa teknologi itu bagian yang utuh dari evolusi kebudayaan, produk kreatif dari imajinasi manusia dan hasrat menciptakan teknologi baru yang lebih manusiawi dengan penyadaran betapa bermaknanya menjadi manusia tanpa terampas kebebasannya oleh teknologi . Dengan kata lain, high tech high touch adalah usaha sadar memilih, memanfaatkan teknologi tatkala ia menambahkan nilai pada kehidupan manusia.
High tech telah mengantarkan manusia pada kehampaan spiritual yang mencemaskan. Bahkan teknologi telah "didewakan" atau "dipertuhankan" untuk kemudian dijadikan indikator kemajuan, penilaian atau pun "nyawa" perilaku manusia.
Penulis buku ini mengidentifikasi kecenderungan high tech yang mengantarkan manusia pada zona mabuk teknologi tersebut antara lain ditandai dengan munculnya; usaha manusia dalam menyelesaikan masalah secara kilat dari masalah agama sampai gizi, manusia takut sekaligus memuja teknologi (teknologi perang), manusia mengaburkan perbedaan antara yang nyata dan yang semu, manusia menerima kekerasan sebagai sesuatu yang wajar (adegan-adegan kekerasan televisi), manusia mencintai teknologi dalam wujud mainan dan manusia menjalani kehidupan yang berjarak dan terenggut.
Oleh karena itu, tak ada jalan lain untuk kembali ke high tech high touch. Yakni dengan menikmati buah kemajuan teknologi dan menyesuaikannya dengan Tuhan kita, gereja ataupun keyakinan spiritual kita dengan memahami teknologi melalui kacamata manusia dalam melihat permainan, waktu, agama dan seni.
Dengan banyak contoh yang disajikan dalam buku ini pembaca diharapkan pandai-pandainya mencari makna dari apa yang terkandung di teknologi yang semakin masuk ke ruang batin manusia. Tak lain agar pembaca tidak ikut-ikutan terbuai dengan kemajuan teknologi membabi buta tanpa bisa menyikapinya secara arif.
Ini disebabkan, buku ini sering memakai kata-kata “kita”. Tetapi, “kita” di sini konteksnya atau bukan membicarakan kita sebagai orang Indonesia. Tetapi "kita" yang
dimaksud adalah orang Amerika. Sebab, jangan-jangan pembaca kita hanya terbuai dan ikut-ikutan masuk dalam zona mabuk teknologi tersebut.
Meskipun konteksnya Amerika, buku ini telah menggugah pemikiran dan ruang batin-spiritual umat manusia di seluruh dunia akan bahaya sekaligus keuntungan, kemudahan dari penggunaan teknologi. Bagi penulis, satu kata kunci untuk mengatasi itu semua, "Menyadari bahwa kita memang berada di dalamnya".
Buku ini juga terasa lengkap sebab dilengkapi dengan profil orang-orang yang diwawancari/dijadikan rujukan dalam buku ini beserta alamat legkap. Sehingga, jika pembaca meragukan buku ini atau data yang tersaji, mereka bisa menanyakan lebih lanjut kepada orang yang dimaksud.
Berbeda ini sangat dengan buku John Naisbit yang lain. Jika buku sebelumnya (Megantrens, Global Paradox, Megatrends Asia, Megatrens 2000, Megatrends for Woman) pembaca diajak untuk mengandaikan atau membayangkan masa depan. Tetapi buku ini berbicara tentang masa kini, di sini dan sekarang ini. Dengan amat jernih ia mengamati konflik-konflik raksasa yang perlu diselesaikan dalam kehidupan pribadi dan pekerjaan umat manusia. Tak hanya untuk masa sekarang, tetapi sepanjang abad ke dua puluh satu. Selamat membaca

Diterbitkan di: 28 September, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.