Mengingat
kecelakaan
pesawat terbang sipil yang kadang menelan korban jiwa yang tidak
sedikit, saya jadi berpikir bagaimana jika
di terapkan sistem “
eject” satu
kabin pesawat terbang. Sebuah pesawat Boeing mengalami kegagalan mesin ketika
di udara. Tindakan untuk merecovery mesin pesawat yang tersisa tidak
memungkinkan dalam waktu yang terlalu lama. Sementara bandara terdekat letaknya
masih puluhan mil
dan sekarang pesawat berada di tengah samudra pasifik yang
membutuhkan sekitar 1 jam penerbangan lagi. Ketinggian pesawat sudah tidak bisa
di pertahankan sementara
kecepatan pesawat terus jatuh hingga hamper menyentuh
titik “stall”. Prosedur pendaratan diatas air adalah pilihan yang tepat. Namun
tiba-tiba di ketinggian yang masih 15,000 kaki mesin yang lainnya mati akibat
tidak kuat menahan beban seluruh pesawat. Kecepatan pesawat “jatuh” dengan
kecepatan tinggi. Hidung pesawat mulai menukik 10 derajat, 20 derajat….. hingga
90 derajat. Bahkan awak pesawat pun menyerah dan berharap agar ada yang
menemukan rongsokan pesawat dengan menyalakan signal SOS ataupun memberikan
laporan kondisi dan koordinat terakhir pesawat di radio.
Tidak
ada satupun dari penumpang pesawat yang selamat setelah tercebur di laut
pasifik yang dalam. Yang hiduppun walaupun bisa berenang hingga ke permukaan
pun jika tidak di temukan dalam waktu dekat di pastikan tidak akan bertahan
hidup dengan support kehidupan yang minim.
Nah
yang mau di ajukan adalah mengapa tidak di pasang kabin yang mampu di “eject’
secara otomatis ataupun manual
sebelum pesawat tersebut jatuh. Seperti yang
banyak kita ketahui seperti pesawat militer yang mempunyai kursi yang dapat di
lontarkan agar awak pilot selamat dari pesawat yang malfungsi. Lalu kenapa di
pesawat sipil tidak bisa di terapkan demikian? Memang saya ada memperhatikan
salah satu kendalanya adalah G-force yang tinggi yang harus di alami para
penumpang ketika kabin tersebut di “eject”. Namun mengapa tidak kita buat
beberapa saat sebelum di eject seluruh ruangan tersebut dibuat anti gravitasi
untuk beberapa saat sebelum di kembalikan ke semula atau mungkin ada alternative
yang lebih baik sehingga ratusan jiwa bisa terselamatkan. Semoga para perancang
pesawat terbang pernah memikirkan ini sebelumnya dan mempertimbangkannya untuk
penerapannya.
Abstrak lain tentang “EJECT” SATU KABIN