Jakarta merupakan kota terbesar kedua di Asia yang paling
rentan terhadap perubahan iklim. Ini tidak lepas dari udara tercemar Jakarta
yang sudah sedemikian parah.
Demikian kata Ubaidillah, Direktur Wahana Lingkungan Hidup
DKI Jakarta. Namun udara tercemar bukan satu-satu faktornya, ujar Ubaidillah.
Jumlah kendaraan mencapai hampir sepuluh juta tahun ini. Ditambah lagi tidak
adanya reboisasi atau penghijauan. Juga ruang terbuka di Jakarta sudah sangat
minim.
Sembilan persen
Ini akibat pengalihan fungsi ruang-ruang kosong yang berubah
menjadi beton-beton bertingkat dan menjadi pusat komersial seperti mall,
perumahan elit dan sarana hiburan lain. Itu semua menjadi faktor mengapa
Jakarta sangat rentan terhadap perubahan iklim.
Ini berlaku bagi seluruh ibukota, ujar Direktur Walhi DKI
Jakarta, Ubaidillah.
"Jakarta ini, yang dengan luas sekitar 6.500 meter
persegi, ini hampir semua wilayahnya sudah tidak ada wilayah kosong. Hanya 9
persen saja yang masih ada tanah-tanah yang terbuka. 9 Persen itu berada di
daerah-daerah selatan Jakarta."
Tapi pada umumnya Jakarta sudah sangat penuh dengan jumlah
penduduk, kendaraan dan beton yang sudah sedemikian meningkat. Seharusnya ini
ditanggulangi pemerintah melalui kebijakan-kebijakan yang bisa mendorong
meminimalisir dampak-dampak ini, kata Ubaidillah.
Sementara untuk kota-kota besar lain di Indonesia masih
dalam tahap menuju kerusakan lingkungan, tapi tidak separah di Jakarta.
"Daerah-daerah lain seperti di Bandung, Surabaya,
Medan, Makassar, itu juga daerah-daerah yang rentan. Tidak mustahil
daerah-daerah tersebut juga bisa sama seperti di Jakarta. Saat ini sudah
mengkhawatirkan."
Skenario terburuk
Jakarta sudah pasti akan mengalami banjir besar, ditambah
dengan iklim yang tidak menentu saat ini, tahun 2010, dan bahkan 2012, 80
persen ibukota bisa tergenang air.
Ini tidak hanya akibat air hujan yang tidak bisa terserap
tanah, karena tanahnya sudah menjadi beton semua. Selain itu juga air masuk ke
kali tidak bisa terbuang ke laut. Sementara laut mengalami pasang akibat
perubahan iklim tersebut.
"Lagi-lagi akibat perubahan iklim air laut sangat
potensi masuk ke darat, yang juga dikenal dengan banjir rob. Jadi Jakarta ini
akan menjadi tempat banjir akibat hujan, dan juga akan terkena akibat banjir
akibat luapan air laut. Itu sangat mengerikan sekali."
Tidak menentu
Saat ini, pertama, perubahan iklim sangat tidak menentu.
Musim kemarau lalu Jakarta masih dilanda hujan seminggu sekali atau seminggu
dua kali. Perubahan iklim tidak menentu seperti ini sangat terasa sekali dampak
perubahan iklim.
Walhi DKI Jakarta merekomendasikan pemerintah berani
melakukan audit pembangunan, jika terjadi pelanggaran aturan. Pelanggarnya
harus segera ditindak. Tidak hanya pengembangnya melainkan juga pemberi ijin.
Jakarta, sesuai UU 26/2007 tentang tata ruang, 30 persen
wilayah ibukota adalah wilayah terbuka. Tapi saat ini wilayah terbuka hanya 9
persen.
"Ini sangat tidak ideal sekali. Kita selalu
merekomendasikan sekarang ini stop, tidak ada lagi pembangunan yang memakan
wilayah kosong. Kalau bisa wilayah tanah kosong yang sudah terlanjur dibeli
pengembang, kalau pemerintah mau, segera diambilalih lagi atau dibeli lagi oleh
pemerintah."
Banjir kanal
Yang kedua, pemerintah harus segera memperbaiki
saluran-saluran air atau drainase serta kali-kali di kota yang semrawut ini.
Banjir kanal yang saat ini sedang dibangun juga harus dipercepat. Karena sampai
saat ini masih belum selesai. Sementara musim penghujan segera datang.
"Paling tidak akhir Desember dan awal Januari prediksi
kita, Jakarta akan mengalami banjir yang besar lagi musim tahunan itu."