Jangan remehkan suasana hati kita. Sebab kalau sedang dalam kondisi sangat buruk, seseorang
bisa mengakhiri nyawanya sendiri. Ilmuwan Amerika belum lama ini menemukan
bahwa kasus
bunuh diri di kalangan
remaja justru dipicu akibat suasana hati yang buruk.
Belakangan, kasus bunuh diri di kalangan remaja belakangan mulai meningkat. Data resmi di Kepolisian Daerah Metro Jaya menyatakan, selama 2003 tercatat 62 kasus bunuh diri. Jumlah ini merupakan kelipatan tiga kali lebih banyak daripada angka tahun 2002. Usia pelaku bunuh diri, tidak main-main, ada yang masih belasan tahun.
Apa sesungguhnya pemicu keinginan mengakhiri hidup sendiri itu? Ternyata semua kasus ”horor” tersebut dilandasi pada mood atau suasana hati seseorang. Dr. Ghanshyam Pandey beserta timnya
dari University of Illinois, Chicago, menemukan bahwa aktivitas enzim di dalam pikiran manusia bisa mempengaruhi mood yang memicu keinginan mengakhiri nyawa sendiri. Pandey mengetahui fakta tersebut setelah melakukan eksperimen terhadap otak 34 remaja yang 17 di antaranya meninggal akibat bunuh diri. Ditemukan bahwa tingkat aktivitas protein kinase C (PKC) pada otak pelaku bunuh diri lebih rendah dibanding mereka yang meninggal bukan karena bunuh diri. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Archives of General Psychiatry menyatakan bahwa PKC merupakan komponen yang berperan dalam komunikasi sel, terhubung erat
dengan gangguan mood seperti depresi di masa lalu.
Pandey dan timnya sangat tertarik untuk mengatahui kaitan lain antara PKC dengan kasus bunuh diri di kalangan remaja belasan tahun. Dari 17 remaja yang meninggal akibat bunuh diri, sembilan di antaranya memiliki sejarah gangguan mental. Delapan yang lain tidak mempunyai riwayat gangguan psikis namun dua di antaranya mempunyai sejarah kecanduan alkohol dan obat terlarang. Aktivitas PKC pada otak para remaja tersebut jumlahnya sangat kecil dibanding dengan remaja yang meninggal bukan karena bunuh diri. Dari sini disimpulkan bahwa kondisi abnormal PKC bisa menjelaskan mengapa sebagian remaja memiliki keinginan bunuh diri.
Studi Lanjutan”PKC bisa menjadi target intervensi terapi pada pasien-pasien yang memiliki perilaku kecenderungan untuk bunuh diri,” ujar Pandey seperti yang dikutip BBC News Online belum lama ini. Namun masih menjadi misteri mengapa ketidaknormalan PKC bisa berpengaruh sedemikian besar.
Dr Peter Parker, ilmuwan dari Cancer Research London Research Institute, berkomentar bahwa studi tersebut belum bisa dikatakan final. Materi fisik yang dijadikan sampel dari orang yang sudah meninggal bisa jadi sudah rusak akibat waktu ketika dilakukan penelitian. Sementara seorang juru bicara Depression Alliance, yayasan yang melakukan terapi pada remaja yang cenderung bunuh diri menyatakan pihaknya cukup senang dengan temuan Pandey. ”Insiden depresi pada remaja dan mereka yang berusia muda cenderung meningkat di tahun-tahun belakangan dan semakin mengkhawatirkan. Sebanyak 20 persen dari orang muda meninggal akibat bunuh diri,” ujarnya.
Memahami lebih banyak mengenai enzim PKC bisa memberi pencerahan dalam memberi pengobatan efektif bagi pasien-pasien yang memang memiliki kebiasaan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. ”Kasus bunuh diri remaja juga menjadi perhatian di dalam bidang kesehatan. Selama ini sudah banyak diketahui faktor psikososialnya. Tetapi masih sangat sedikit sekali yang diketahui dari sisi faktor neurobiologinya,”tulis Pandey dan kawan-kawan mengenai studi mereka.
Dengan mengetahui fakta neurobiologi para korban bunuh diri, diharap kelak pengobatan dan terapi terhadap pasien penderita depresi bisa lebih efektif. Setidaknya formula obat yang dibuat bisa lebih tepat lagi, demikian pula terapi lain seperti konsultasi dan bercakap-cakap dengan remaja yang memiliki kecenderungan bunuh diri.
Abstrak lain tentang Suasana Hati Pengaruhi Keinginan Bunuh Diri