Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Sains>Biologi>Ibnu Sina, Dokter Ahli Yang Mafat Karena Sakit Perut

Ibnu Sina, Dokter Ahli Yang Mafat Karena Sakit Perut

oleh: wacko57     Pengarang : Hasan Basri
ª
 
IBNU SINA
Dokter Ahli yang wafat karena sakit perut

Sebagaimana sudah menjadi suratan takdir Allah swt, Ibnu Sina menjadi anak yang jenius. Kejeniusannya merupakah rahmat Allah yang tidak dimiliki oleh anak-anak seusianya pada waktu itu. Ini ditandai dengan kemampuannya menghapal sekaligus mengkhatamkan Al-Qur’an yang tiga puluh juz dalam usianya yang relati masih anak-anak, yakni 10 tahun. Di samping itu beliau juga diberikan kemampuan melahap informasi-informasi aktual yang diterimanya.
Bahkan masyarakat ilmuwan Barat dan Eropa yang menyebutnya dengan Avicenna telah memberinya gelar dengan “Raksasa Intelektual” di Abad Pertengahan, setelah ie menjadi seorang filosof muslim yang terkenal dan disegani.
Ia dilahirkan di Afshinah pada 980 M dekat Bukhara. Kedua orang tuanya kemudian memberinya nama Abu Ali Husain. Sedangkan Sina adalah nama kakeknya, Ali Sina. Ayahnya seorang Syaikhur Rais, untuk di Indonesia gelar ini sekelas dengan ‘Guru Besar’, bernama Abdullah Ibnu Hasan Ibnu Ali Sina.
Sejak awal Abu Ali Husain, demikian keluarganya memanggil, sudah menunjukkan diri mempunyai kecerdasan dan kemampuan intelegensia yang tinggi. Ini terbukti setiap materi pelajaran yang diberikan oleh ayahnya selalu dihafal dan dipahaminya dengan cepat. Sehingga dalam waktu yang cukup singkat, Ibnu Sina belia itu telah memahami dan mempraktekkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupannya, sesuatu yang tidak wajar saat itu.
Setelah materi pelajaran tentang ilmu-ilmu keislaman dan sastra Arab dianggap oleh ayahnya cukup, ia diarahkan untuk mempelajari dan menekuni matematika, fisika, astronomi dan logika. Baru setelah empat cabang ilmu pengetahuan itu benar-benar dikuasai, ia secara otodidak mempelajari dan mengkaji ilmu-ilmu kedokteran dan metafisika. Ia mempelajari secara rinci ilmu kedokteran, dan memperoleh reputasi tinggi sebagai dokter praktek, sehingga dokter-dokter yang sudah mempunyai reputasi pun berkonsultasi dengannya, bila mereka mengalami kesulitan.
Dengan kecerdasan yang dimiliki dan hasrat untuk belajar yang sangat besar, ia sering belajar kepada ilmuwan besar saat itu. Beliau pernah belajar secara privat dengan seorang ilmuwan yang kebetulan juga adalah kawan ayahnya, yaitu Syeikh Abu Abdullah dari Natili. Ibnu Sina belajar dengan tekun dan serius mengenai logika, geometri, dan astronomi. Kecerdasannya ternyata dengan cepat melampaui gurunya. Ia memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang kategori ilmu-ilmu itu, sehingga praktis pada usia 17 tahun ia sudah menguasai berbagai cabang-cabang ilmu secara luar biasa.
Ibnu Sina, adalah raksasa intelektual terbesar dari abad pertengahan, dan salah seorang tokoh terbesar sepanjang zaman, adalah jenius yang mahir dalam berbagai bidang yang mempengaruhi berbagai jalan pikiran. Ia seorang pembuat ensiklopedi terkemuka, dan memberi sumbangan abadi di dunia kedokteran, filsafat, logika, matematika, astronomi, musik, dan puisi. Bahkan ia juga mendapat gelar sebagai “Bapak Ilmu Geologi”.
Konon, ia mampu menulis rata-rata 50 halaman per hari. Dan selama hidupnya ia telah menyusun tidak kirang dari 238 buku dan risalah. Ia mulai menulis pada usia 21 tahun. Karya-karya tulisnya antara lain: di bidang filsafat seperti Asy-Syifa dan An-Najat, di bidang etika seperti Al-Magest dan Al-Insaf, di bidang kedokteran seperti Al-Qanun fi al-Thib, juga risalah-risalah kecil tentang geometri, ilmu hisab, musik, sastra, zoologi dan botani.
Sebagai seorang filosof muslim, meski pernah mempelajari ajaran proselitisme Islamiyah yang bercampur aduk antara alam pikiran Yunani, Islam dan berbagai cabang filsafat, Ibnu Sina tetap berupaya untuk mengembangkan pemikiran falsafi dalam batas-batas tidak bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits. Baginya, dua rujukan itulah yang harus dijadikan pedoman dalam berpikir dan berfilsafat.
Ibnu Sina meninggal dunia pada usia 57 tahun, tepatnya pada tahun 1037 M, akibat penyakit perut yang dideritanya, yang justru itu menjadi keahliannya. Di saat stamina menurun akibat kelelahan dalam menelurkan karya-karyanya demi masyarakat, ia terserang penyakit perut. Karena merasa ahli di bidang penyakit perut, ia mencoba mengadakan self-therapy. Tapi, sebaliknya yang terjadi overdosis, akibatnya terjdi komplikasi pada ususnya. Dunia mengenangnya sebagai sosok ilmuwan yang sekaligus intelektual muslim yang suka bekerja keras dan berjuang tanpa pamrih. Ia patut diteladani masyarakat, baik masyarakat ilmuwan maupun masyarakat awam.

Diterbitkan di: 14 Januari, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    di mana ibnu sina di makamkan ? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.