Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Sains>Agronomi - Pertanian>Meningkatkan hasil kakao hingga 4 ton kering per hektar

Meningkatkan hasil kakao hingga 4 ton kering per hektar

oleh: Teguhtrindaman     Pengarang : teguh triwahyudi
ª
 

Kakao merupakan salah satu komoditas utama yang diandalkan subsektor perkebunan di Indonesia. Komoditi ini merupakan penghasil devisa terbesar ke tiga subsektor perkebunan setelah kelapa sawit dan karet dengan produksi 792.761 ton dan total ekspor 655.429 ton senilai US$ 950,6 juta. Sentra tanaman kakao di Indonesia tersebar di Sulawesi (63,8%), Sumatera (16,3%), Jawa (5,3%), Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Bali (4,0%), Kalimantan (3,6%), Maluku dan Papua (7,1%) (Dirjen Perkebunan, 2010). Selain itu, kakao merupakan sumber pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja, mendorong agribisnis dan agroindustri serta pengembangan wilayah.

Peningkatan pendapatan perkebunan kakao di Indonesia sangat berkaitan erat dengan manajemen budidaya. Untuk perkebunan kakao rakyat di Lampung, varietas serta klon kakao jarang mendapatkan perhatian dalam budidaya tanaman kakao, sedangkan jumlah produksi yang akan dihasilkan dipengaruhi oleh varietas dan klon yang dibudidayakan serta umur tanaman. Akibat dari dua hal tersebut, kebanyakan dari para petani kakao memperoleh produksi biji kakao yang rendah. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan produktivitas kakao hingga mencapai produksi standar dengan cara melakukan rehabilitasi tanaman baik terhadap tanaman yang kurang produktif, maupun tanaman yang telah tua dan rusak karena terserang penyakit akar. Upaya yang bisa dilakukan untuk memperbaiki produktivitas tanaman kakao antara lain adalah dengan cara penanaman ulang (peremajaan) dan penyambungan dengan klon unggul. Metode yang dipilih harus memperhatikan keefektifan pertumbuhan tanaman, lamanya waktu hingga tanaman menghasilkan dan biaya yang akan dikeluarkan untuk melakukan rehabilitasi tanaman tersebut.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu dilakukan perbaikan tanaman kakao yang kurang produktif dengan memperhatikan keefektifan metode yang dilakukan untuk melakukan hal tersebut.

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman";}
Diterbitkan di: 25 September, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.