Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Iklim

oleh: agussupriatna     Pengarang : faizal Habibie
ª
 
3.1 Iklim

Iklim yang dikehendaki oleh sebagian besar tanaman jagung adalah daerah-daerah beriklim sedang hingga daerah beriklim tropis basah, adapun faktor-faktor iklim yang perlu diperhatikan agar tanaman jagung dapat tumbuh baik dan berproduksi cukup tinggi.

Unsur-unsur iklim yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman ialah sinar matahari, suhu, curah hujan, dan kelembapan. Respon tanaman pada masing-masing unsur tersebut berbeda-beda tiap jenis tanaman.


(1) Suhu atau temperatur

Suhu udara merupakan faktor lingkungan yang penting karena berpengaruh pada pertumbuhan tanaman dan berperan hampir pada semua proses pertumbuhan. Suhu udara merupakan faktor penting dalam menentukan tempat dan waktu penanaman yang cocok, bahkan suhu udara juga dapat sebagai faktor penentu dari pusat-pusat produksi tanaman. Setiap jenis tanaman mempunyai batas suhu minimum, optimum, dan maksimum untuk setiap tingkat pertumbuhannya (Tjasyono, 2004).

Menurut Warisno (1998), suhu yang optimal untuk tanaman jagung antara 21ºC - 30ºC, untuk jagung hibrida suhu yang optimum adalah 23ºC - 27ºC, menurut Dinas Pertanian dan Kehutanan, (2009) menerangkan bahwa suhu optimal untuk tanaman jagung adalah 24°C - 30°C. Suhu yang terlalu tinggi dan kelembaban yang rendah akan dapat mengganggu proses persarian. Suhu yang rendah (sekitar 15°C) akan mengakibatkan perkecambahan tertunda sehingga muncul di atas tanah lebih dari tujuh hari, suhu sekitar 25°C akan mengakibatkan perkecambahan biji jagung lebih cepat, yaitu kurang dari tujuh hari, apabila suhu tinggi (lebih dari 40°C) akan mengakibatkan kerusakan embrio sehingga tanaman jagung tidak jadi berkecambah (Warisno, 1998).


(2) Curah hujan

Curah hujan yang normal untuk pertumbuhan tanaman jagung yaitu berkisar antara 250 mm per bulan atau 2000 mm per tahun dan yang paling penting adalah distribusinya pada setiap tahap pertumbuhan (Warisno, 1998). Menurut Sutoro dkk., (1988), dalam BBPP Lembang, (2009), bahwa curah hujan yang terjadi selama bulan penanaman cukup tinggi sebesar 309 mm dan 501 mm (rata-rata 427 mm per bulan), nilai curah hujan yang cukup tinggi apabila dibandingkan dengan distribusi hujan yang ideal bagi pertumbuhan jagung yaitu 200 mm per bulan.

Menurut Warisno (1998), jagung memerlukan air yang cukup untuk pertumbuhan, terutama pada saat berbunga dan pengisian biji. Setelah biji jagung berkecambah, diharapkan hujan tidak terlalu banyak. Semakin bertambah umur tanaman, curah hujan diharapkan semakin banyak dan semakin meningkat sampai semua daun mencapai ukuran penuh. Pada saat keluar malai, kebutuhan air paling banyak, setelah itu, hujan diharapkan berkurang sampai tidak ada hujan. Hujan yang terlalu banyak atau terlalu sedikit merupakan faktor penghambat bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung. Hujan yang banyak jatuh selama pertumbuhan tanaman dapat mengakibatkan pertumbuhan vegetatif panjang sehingga umur tanaman bertambah panjang. Bila hujan sangat kurang dan keadaan ini berlangsung agak lama maka mengakibatkan sel-sel kipas kempes (mengerut), daun-daun jagung menggulung ke atas, mengering, dan akhirnya mati.

.

(3) Intensitas matahari

Tanaman jagung akan dapat tumbuh dengan baik dan sempurna serta dapat menghasilkan dengan produktivitas yang tinggi bila mendapatkan radiasi matahari yang cukup. Hasil jagung akan lebih tinggi bila ditanam di tempat yang terbuka dibandingkan bila ditanam di tempat yang terlindung. Dari hasil penelitian, intensitas cahaya yang tinggi baik untuk pertumbuhan tanaman jagung, apabila intensitasnya rendah (ternaungi) akan berakibat tanaman jagung tumbuh memanjang (tinggi), tongkolnya ringan, dan bijinya kurang berisi (Warisno, 1998).


(4) Kelembaban

Menurut Warisno (1998), kelembaban mempengaruhi evapotranspirasi (evaporasi + transpirasi) dan jumlah air. Apabila kelembaban rendah maka akan mempengaruhi pada jaringan-jaringan tanaman seperti dehidrasi (pengeringan), sedangkan apabila kelembabannya tinggi akan mudah timbul penyakit bagi tanaman jagung. Kelembaban banyak hubungannya dengan suhu, curah hujan, dan angin.

(5) Penguapan

Penguapan adalah proses keluarnya uap dari permukaan air. Besarnya penguapan dinyatakan dengan bilangan dalam millimeter yang menyatakan banyaknya air yang hilang karena menguap melalui tiap satuan luas tiap satuan waktu. Misalnya banyaknya penguapan sebesar 1 mm per hari berarti air yang berubah menjadi uap tiap 1 m selama sehari sebanyak 1 m2 x 1 mm = 1000.000 mm3 = 1 liter. Laju penguapan termasuk hal penting dalam pertanian. Penguapan yang melalui permukaan benda bukan air, misalnya permukaan tanah, daun, dan lain sebagainya disebut sebagai “penguappeluhan”. Besarnya laju penguapan dan penguappeluhan bergantung banyak faktor, antara lain sinaran matahari, suhu, angin, kelembaban, tekanan atmosfer, jenis permukaan, dan jenis tanah (Wirjohamidjojo dan Swarinoto, 2007).

Kondisi penguapan yang cukup tinggi bisa berdampak kurang baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung, kemungkinan yang terjadi dari dampak penguapan pada tanaman yang tinggi terjadinya dehidrasi (pengeringan) jaringan tanaman, kemudian daun kering, dan berguguran.

Diterbitkan di: 09 April, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mengapa pada musim hujan yang tinggi jagung tidak dapat tumbuh Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.