Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Sains>Agronomi - Pertanian>Klasifikasi Iklim dan Penentuan Tipe Iklim Metode Oldeman

Klasifikasi Iklim dan Penentuan Tipe Iklim Metode Oldeman

oleh: agussupriatna     Pengarang : faizal Habibie
ª
 
1. Klasifikasi Iklim dan Penentuan Tipe Iklim Metode Oldeman

Unsur-unsur iklim yang menunjukan pola keragaman yang jelas merupakan dasar dalam melakukan klasifikasi iklim. Unsur iklim yang sering dipakai adalah suhu dan curah hujan (presipitasi). Klasifikasi iklim umumnya sangat spesifik yang didasarkan atas tujuan penggunaannya, misalnya untuk pertanian, penerbangan atau kelautan. Pengklasifikasian iklim yang spesifik tetap menggunakan data unsur iklim sebagai landasannya, tetapi hanya memilih data unsur-unsur iklim yang berhubungan dan secara langsung mempengaruhi aktivitas atau objek dalam bidang-bidang tersebut.

Thornthwaite (1933) dalam Tjasyono (2004) menyatakan bahwa tujuan klasifikasi iklim adalah menetapkan pembagian ringkas jenis iklim ditinjau dari segi unsur yang benar-benar aktif terutama presipitasi dan suhu. Unsur lain seperti angin, sinar matahari, atau perubahan tekanan ada kemungkinan merupakan unsur aktif untuk tujuan khusus.

Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, oleh sebab itu pengklasifikasian iklim di Indonesia sering ditekankan pada pemanfaatannya dalam kegiatan budidaya pertanian. Pada daerah tropik suhu udara jarang menjadi faktor pembatas kegiatan produksi pertanian, sedangkan ketersediaan air merupakan faktor yang paling menentukan dalam kegiatan budidaya pertanian khususnya budidaya padi.

Klasifikasi adalah suatu proses dasar bagi semua ilmu pengetahuan dengan mengadakan kelompok dalam group, kelas, atau tipe. Hal ini berlaku juga di lapangan ilmu iklim. Bentuk-bentuk klasifikasi iklim antara lain adalah klasifikasi Koppen, sistem klasifikasi Thornthwaite, sistem klasifikasi Mohr, sistem klasifikasi Schmidt-Ferguson, dan sistem klasifikasi Oldeman.

Klasifikasi iklim menurut Koeppen dan Thornthwaite berdasarkan dua unsur iklim, yaitu curah hujan dan suhu. Unsur iklim suhu udara di Indonesia sepanjang tahun konstan, tetapi sebaliknya unsur iklim curah hujan sangat berubah terhadap musim,oleh karena itu metode ini kurang tepat digunakan di Indonesia, sedangkan klasifikasi iklim menurut Mohr didasarkan antara penguapan dan besarnya curah hujan, untuk langkah pertama menentukan bulan basah dan bulan kering sudah sesuai bagi iklim petanian di Indonesia, akan tetapi langkah kedua dari metode ini dengan berdasarkan pada rata-rata bulanan kurang sesuai untuk iklim di Indonesia. Kalsifikasi iklim di Indonesia pada umumnya hanya memakai unsur iklim curah hujan saja seperti klasifikasi menurut Schmidt dan Ferguson, dan kalsifikasi menurut Oldeman. Schmidt dan Fergoson (1951) dalam Tjasyono (2004), menentukan jenis iklim di Indonesia berdasarkan perhitungan jumlah bulan kering dan bulan basah, mereka memperoleh delapan jenis iklim dari iklim basah sampai iklim kering, sehingga metode ini lebih tepat digunakan untuk tanaman tahunan atau tanaman kehutanan. Oldeman (1975) dalam Tjasyono (2004), juga memakai unsur iklim curah hujan sebagai dasar klasifikasi iklim di Indonesia, metode ini lebih menekankan pada bidang pertanian, karenaya sering disebut klasifikasi iklim pertanian.

Klasifikasi iklim Oldeman didasarkan kepada jumlah kebutuhan air oleh tanaman, pertumbuhan dan produksinya terutama pada tanaman padi. Daerah tropis lebih disifatkan oleh agak seragamnya suhu udara, radiasi surya, kelembaban relatif, kecepatan angin dan evaporasi. Perubahan musim dari unsur-unsur diatas relatif kecil bila dibandingkan dengan perubahan hujan musim. Saat hendak menanam tanaman perlu diperhatikan pula kapasitas menahan air dari tanah (water holding capacity). Kapasitas air tergantung dari profil, tekstur, kandungan bahan organik, dalam perakaran, dan tingkat habisnya air (soil water depletion level). Kapasitas menahan air ini sangat penting untuk rainfed-crop, sedanglan untuk tanaman padi sawah perlu diperhatikan kecepatan perkolasi air (Ratri dan Haryadi, 2009).

Tjasyono (2004), penyusunan tipe iklim Oldeman didasarkan pada jumlah bulan basah yang berlangsung secara berturut-turut. Tanaman padi sawah memerlukan rata-rata curah hujan bulanan sebesar 200 mm dan untuk tanaman palawija memerlukan curah hujan bulanan 100-200 mm. Dengan demikian dapat dirinci sebagai berikut:

1) Bulan basah (BB) adalah bulan dengan curah hujan ≥ 200 mm

2) Bulan kering (BK) adalah bulan dengan curah hujan ≤ 100 mm

Penentuan tipe iklim dilakukan dengan mengelompokkan menjadi lima kelas yang didasarkan pada jumlah bulan basah (BB) berturut-turut, kemudian akan ditentukan sub divisi masing-masing tipe yang didasarkan pada jumlah bulan kering (BK) berturut-turut di setiap wilayahnya.

Diterbitkan di: 09 April, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    kenapa klasifikasi iklim i sarankan menggunakan penggolongan limas Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.