KEMISKINAN DI INDONESIA
Kemiskinan
merupakan salah satu faktor penghambat pembangunan suatu negara selain faktor
pertumbuhan penduduk, dualisme, struktur perdagangan luar negeri dan
globalisasi. Secara umum, kemiskinan diartikan sebagai keadaan dimana terjadi ketidakmampuan
untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung,
pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat
pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan
pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Kemiskinan merupakan masalah
sosial yang dapat mempengaruhi psikologi sosial suatu bangsa.
Kemiskinan bisa dikelompokan dalam
dua kategori , yaitu Kemiskinan
absolut dan kemiskinan
relatif.
Kemiskinan absolut mengacu pada satu set standard yang konsisten tidak
terpengaruh oleh waktu dan tempat / negara. Kemiskinan absolut mempunyai
pengertian jika seseorang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar minimum untuk
hidup. Kemiskinan relatif biasanya bersifat
dinamis, yakni jika kondisi ekonomi seseorang dibandingkan dengan yang lainya.
Jadi dalam pengertian ini, kemiskinan akan selalu ada.
Sebuah contoh dari pengukuran
absolut adalah persentase dari populasi yang makan dibawah jumlah yg cukup
menopang kebutuhan tubuh manusia (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk
laki laki dewasa). Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan
absolut
sebagai hidup dg pendapatan dibawah USD $1/hari dan Kemiskinan menengah
untuk pendapatan dibawah $2 per hari, dg batasan ini maka diperkiraan pada 2001
1,1 miliar orang didunia mengkonsumsi kurang dari $1/hari dan 2,7 miliar orang
didunia mengkonsumsi kurang dari $2/hari. Proporsi penduduk negara berkembang
yang hidup dalam Kemiskinan ekstrem telah turun dari 28% pada 1990 menjadi 21%
pada 2001. Melihat pada periode 1981-2001,
persentase dari penduduk dunia yang hidup dibawah garis kemiskinan $1
dolar/hari telah berkurang separuh. Tetapi , nilai dari $1 juga mengalami
penurunan dalam kurun waktu tersebut.
Meskipun kemiskinan yang paling parah terdapat di dunia
bekembang, ada bukti tentang kehadiran kemiskinan di setiap region. Di
negara-negara maju, kondisi ini menghadirkan kaum tuna wisma yang berkelana ke sana kemari dan daerah pinggiran kota dan
ghetto yang miskin. Kemiskinan dapat
dilihat sebagai kondisi kolektif masyarakat miskin, atau kelompok orang-orang
miskin, dan dalam pengertian ini keseluruhan negara kadang-kadang dianggap miskin.
Untuk menghindari stigma ini, negara-negara ini biasanya disebut sebagai negara berkembang.