Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Sains>Agronomi - Pertanian>Usaha meningkatkan hasil jagung manis

Usaha meningkatkan hasil jagung manis

oleh: Sejathi     Pengarang : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung
ª
 
Jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) atau
yang lebih dikenal dengan nama sweet corn mulai
dikembangkan di Indonesia pada awal tahun 1980,
diusahakan secara komersial dalam skala kecil untuk
memenuhi kebutuhan hotel dan restoran. Sejalan dengan
berkembangnya toko-toko swalayan dan meningkatnya
daya beli masyarakat, meningkat pula permintaan akan
jagung manis. Jagung manis dapat tumbuh pada daerah
beriklim sedang sampai beriklim tropik. Pertumbuhan
terbaik didapatkan pada daerah beriklim tropik
(Thompson & Kelly, 1957). Hal ini berarti bahwa usaha
pengembangan jagung manis di Indonesia mempunyai
prospek yang cukup baik. Jagung manis sebagai bahan
pangan dipanen saat masih muda, biasanya dikonsumsi
segar, dikalengkan dan dibekukan atau didinginkan
(Klingman, 1965). Tiap 100 gram bahan basah jagung
manis yang dapat dimakan mengandung 96 kalori; 3,5
gram protein; 1,0 gram lemak; 22,8 gram karbohidrat;
3,0 mg K; 0,7 mg Fe; 111,0 mg P; 400 SI vitamin A;0,15 mg vitamin B; 12 mg vitamin C dan 0,727 % air
(USDA, 1963 dalam Kusmiyati, 1988).
Di Indonesia pertanaman jagung manis
pengembangannya masih terbatas pada petani-petani
bermodal kuat yang mampu menerapkan teknik budidaya
secara intensif. Keterbatasan ini disebabkan oleh harga
benih yang relatif mahal, kebutuhan pengairan dan
pemeliharaan yang intensif, ketahanan terhadap hama
dan penyakit yang masih rendah dan kebutuhan pupuk
yang cukup tinggi. Di samping itu juga karena kurangnya
informasi dan pengetahuan petani mengenai budidaya
jagung manis serta masih sulitnya pemasaran.
Hasil jagung manis di Indonesia per hektarnya
masih rendah, rata-rata 2,89 ton tongkol basah per hektar
(Trubus, 1992), sedangkan hasil jagung manis di lembah
Lockyer Australia dapat mencapai 7-10 ton tongkol
basah per hektar (Lubach, 1980).
Dengan masih rendahnya hasil jagung manis maka
perlu adanya usaha untuk meningkatkan produksi dengan
pengaturan jarak tanam serta pemakaian pupuk kandang
sebagai sumber hara.Pupuk kandang merupakan hasil samping yang
cukup penting, terdiri dari kotoran padat dan cair dari
hewan ternak yang bercampur sisa makanan, dapat
menambah unsur hara dalam tanah (Sarief, 1989).
Pemberian pupuk kandang selain dapat menambah
tersedianya unsur hara, juga dapat memperbaiki sifat
fisik tanah. Beberapa sifat fisik tanah yang dapat
dipengaruhi pupuk kandang antara lain kemantapan
agregat, bobot volume, total ruang pori, plastisitas dan
daya pegang air (Soepardi, 1983).
Pemakaian pupuk kandang perlu dipertimbangkan,
karena pupuk kandang dapat menyebabkan
berkembangnya gulma pada lahan yang diusahakan.
Diketahui bahwa keberadaan gulma yang dibiarkan
tumbuh pada suatu pertanaman dapat menurunkan
hasil 20 % sampai 80 % (Moenandir et al., 1993).
Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menekan
hal tersebut adalah dengan penggunaan jenis pupuk
kandang yang tepat. Terdapatnya gulma pada pupuk
kandang sangat dipengaruhi oleh kebijaksanaan petani
saat mengembalakan ternaknya. Oleh karena lingkungan
pengembalaan yang berbeda, maka gulma yang dimakan
ternak juga berbeda (Zarwan et al., 1994).
Dalam suatu pertanaman sering terjadi persaingan
antar tanaman maupun antara tanaman dengan gulma
untuk mendapatkan unsur hara, air, cahaya matahari
maupun ruang tumbuh. Salah satu upaya yang dapat
dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan pengaturan
jarak tanam. Dengan tingkat kerapatan yang optimum
maka akan diperoleh ILD yang optimum dengan
pembentukan bahan kering yang maksimum (Effendi,
1977). Jarak tanam yang rapat akan meningkatkan daya
saing tanaman terhadap gulma karena tajuk tanaman
menghambat pancaran cahaya ke permukaan lahan
sehingga pertumbuhan gulma menjadi terhambat,
disamping juga laju evaporasi dapat ditekan (Dad
Resiworo, 1992). Namun pada jarak tanam yang terlalu
sempit mungkin tanaman budidaya akan memberikan
hasil yang relatif kurang karena adanya kompetisi antar
tanaman itu sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan jarak
tanam yang optimum untuk memperoleh hasil yang
maksimum.
Pemberian pupuk kandang dan pengaturan jarak tanam
merupakan suatu alternatif yang perlu dipertimbangkan
dalam usaha meningkatkan hasil jagung manis, sehingga
perlu diketahui secara pasti peranan masing-masing
faktor dalam mempengaruhi komponen pertumbuhan,
komponen hasil dan kemampuan tanaman bersaing
dengan gulma. Dari penelitian ini diharapkan dapat
diketahui jenis pupuk kandang dan jarak tanam yang
tepat, sehingga kerugian yang disebabkan oleh gulma
dapat ditekan sekecil mungkin yang pada akhirnya akan
diperoleh hasil jagung manis yang lebih tinggi.
Penelitian mengenai penggunaan beberapa
jenis pupuk kandang dan pengaturan jarak tanam
secara terpisah memang sudah banyak dilakukan,
tetapi penelitian terpadu dari kedua faktor tersebut,
pengaruhnya terhadap pertumbuhan gulma dan hasil
jagung manis belum pernah diteliti, sehingga perlu diteliti
untuk mendapatkan hasil tanaman yang maksimum.
Diterbitkan di: 24 Februari, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.