Biawak Komodo (Varanuskomodoensis, Varanidae, Reptil) adalah biawak terbesar di dunia. Beratbadan Komodo dewasa jantan dapat
mencapai 85 kg dan panjang tubuh hingga 305cm. Telur Komodomenetas dari sarangnya sekitar bulan Februari – Maret.
Tetasan Komodo memilikipanjang rata-rata 42 cm dan berat 100 gram, sedangkan anak memiliki panjanghingga 150 cm dan berat hingga 10 kg. Penelitian biawak Komodo telah dilakukansecara intensif sejak tahun 1969, namun hingga kini belum ada penelitian yangmenyelidiki secara khusus mengenai ekologi spasial kelas umur tetasan dan anakKomodo. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki pola-pola dalam ekologispasial pada tetasan dan anak Biawak Komodo di Taman Nasional Komodo, NusaTenggara Timur, Indonesia. Untuk menyelidiki aspek ekologi spatial tetasan dananak Komodo secara rinci, metode ‘radiotelemetri’ dilaksanakan di Loh Liang,pulau Komodo, antara bulan Maret hingga Juni 2004 dan 2005. Sedangkan untukmengetahui kemampuan
pergerakan jarak jauh pada tetasan dan anak, dalam penelitianini metode Capture-Mark-Release andRecapture (Tangkap-Tandai-Lepas dan Tangkap Ulang) diterapkan di 10 lembah utama yang meliputi 4 pulau besar, Komodo,Rinca, Nusa Kode, dan Gili Motang, di TNK sejak 2003 sehingga 2005.Selama penelitian tetasan Komodo yangbaru keluar dari sarang menunjukkan pola pergerakan linear, mengindikasikanbahwa mereka melakukan strategi dispersal, bergerak menjauhi daerahkelahirannya. Pada anak Komodo, pergerakan mereka menunjukkan pola tortuos (patah-patah atau berbelok-belok). Dari hasil penelitiantersebut diketahui juga bahwa kemampuan dan jarak pergerakan tetasan biawakKomodo lebih rendah (32.62 ± 12.67 m/hari) dari pada anak (129.14 ± 41.71m/hari). Wilayan tetasan Komodo secara nyata delapan kali lebih kecil (3.02 ± 0.73 ha)dari pada luasan wilayah aktivitas pada anak(24.31 ± 8.38 ha). Pada kelas umur anak, terdapat tumpang wilayahaktivitas yang melibatkan 5 dari 6 individu anakan (kisaran persentase tumpangtindih 4.84 – 91.01 %). Hal ini menunjukkan pentingnya habitat tersebut yangmemungkinkan anak Komodo dapat menggunakan sumber daya secara bersama.Dalam penggunaan habitat, Komodo padakelas umur tetasan menghabiskan sebagian besar waktunya (97.70%) di pohon, ataudengan kata lain bersifat arboreal. Sedangkan anak Komodo lebih banyakmenghabiskan waktunya di tanah (71.0%), bersifat terestrial. Tetasan Komodo menunjukkankecenderungan untuk memilih pohon Asam Jawa (Tamarindus indica) (45.37 %) sebagai tempat berteduh. Sedangkananakan lebih memilih celah-celah diantara batu karang (51.77 %), meski juga banyakmenggunakan pohon Asam Jawa (70.9%) di antara pohon lainnya. Namun baik tetasanmaupun anak Komodo menunjukkan pemilihan pengunaan habitat dengan tipe vegetasihutan terbuka (masing-masing 76.4% dan 77.7% untuk tetasan dan anak).Dari penelitian tersebut diperolehgambaran bahwa pergerakan tetasan dan anak Komodo dibatasi oleh luasan dantopografi lembah, dalam hal ini kemiringan lereng yang membatasi lembah. Tidakterdapat satu pun individu yang tercatat menyeberang ke lembah terdekat ataupulau lain. Seluruh individu tercata tertangkap ulang di dalam lembah yang samadi mana pertama kali mereka tertangkap. Akan tetapi pergerakan mereka tidakdipengaruhi oleh tipe vegetasi lembah yang didominasi oleh tipe Hutan Terbukadengan Asam Jawa sebagai pohon dominan.Secara umum, penelitian inimenunjukkan bahwa pergerakan tetasan dan anak Komodo sangatlah terbatas. Tidakterdapat perpindahan Komodo baik tetasan atau anak ke luar dari lembah tempatmereka tinggal, apa lagi ke pulau lain. Terbatasnya perpindahan antar lembah maupunantar pulau pada tetasan dan anakan biawak Komodo dapat berdampak kepadarendahnya pertukaran variasi gen pada populasi pulau. Pihak pengeloladisarankan merancang strategi pengelolaan dan konservasi Biawak Komodo untukmemfasilitasi pertukaran sumber variasi gen bagi populasi terisolasi.