5. Faktor imunologi
Seorang pria dapat memiliki kelainan dalam sistem kekebalan berupa terbentuknya antibodi yang
dapat mengganggu
sperma. Macam-macam penyebabnya, antara lain adalah trauma, infeksi pada testis, varikokel yang meluas, pembedahan pada testis, atau faktor lain yang tidak dapat dijelaskan. Adanya antibodi tersebut pada gilirannya akan mengganggu kinerja perjalanan sperma. Penetrasi sperma ke dalam saluran reproduksi wanita dapat terganggu. Juga dapat mengganggu sperma untuk dapat menembus zona pelusida (selaput luar sel telur). Selain itu antibodi tersebut juga dapat mengganggu proses penggabungan sel sperma dan sel telur. Bagi pria yang mengalami kelainan ini maka dapat dilakukan tindakan ICSI, yaitu penyuntikan sperma langsung ke dalam sel telur.
6. Kegagalan
Testis Menghasilkan SpermaPada beberapa pria, infertilitas yang dia alami merupakan akibat dari kegagalan testis memproduksi sperma. Hal itu terjadi karena epitel seminiferus merupakan tempat dimana sperma diproduksi mengalami gangguan dalam fungsinya. Terdapat kegagalan sperma untuk mencapai usia yang matang atau karena sel yang akan terbentuk menjadi sperma memang kurang, kondisi ini dikenal dengan hipospermatogenesis. Hal itu bisa disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya abnormalitas genetik, faktor hormonal, atau karena varikokel
7. Gangguan Hormonal
Untuk merangsang testis menghasilkan sperma, dibutuhkan hormon yang dihasillkan oleh kelenjar ptituari. Bila hormon tersebut tidak ada, atau jumlahnya menurun dalam jumlah yang signifikan maka sudah barang tentu kinerja testis tidak akan sempurna. Kondisi ini biasanya disebabkan karena penggunaan hormon steroid pada pria untuk memperbaiki bentuk tubuhnya (body building) baik digunakan secara oral atau suntikan.
8. Infeksi
Pada pria mungkin terjadi infeksi pada saluran reproduksinya. Hal ini dapat berupa prostatitis (infeksi prostat), epididimitis (infeksi di epididimus) atau orkitis (pada testis). Infeksi pada saluran reproduksi dapat disebabkan oleh bakteri melalui penyakit menular seksual. Jika memang disebabkan karena infeksi bakteri mungkin akan terjadi sumbatan akibat perlekatan dari saluran reproduksi pria. Selain itu infeksi bakteri atau virus yang aktif terjadi dapat mengakibatkan efek yang buruk bagi produksi atau fungsi dari sperma itu sendiri. Salah satu reaksi tubuh akibat adanya proses infeksi adalah terbentuknya sel darah putih. Sel darah putih sendiri dapat memberi efek yang negatif bagi membran pada sperma, membuat sperma tersebut menjadi kurang aktif.Jika pada pemeriksaan cairan semen didapatkan sel darah putih atau bakteri lebih dari 1 juta/cc, harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui jenis bakteri yang ada, meskipun pada pria itu sendiri tidak terdapat gejala terjadinya infeksi (infeksi asimptomatik). Jenis infeksi tersebut biasanya disebabkan oleh mikoplasma, ureaplasma, dan klamidia. Jika jenis mikrorganisme dan sel darah putih masih tetap ada/persisten, maka perlu dipertimbangkan penggunaan antibiotik.