Menguak Spiritualitas dalam Kosmologi Modern
Resensi Buku: Membaca Alam Semesta
DEWASA ini, pandangan baku kalangan kosmolog tentang jagat raya adalah pengakuan
tentang ekspansi semesta. Awalnya, kejadian alam berupa hawa sangat panas dan
padat. Lalu terjadi pendinginan dan terbentuklah berbagai jenis partikel elementer,
seperti elektron-nukleon dan proton-netron. Nukleon merupakan batu bata bagi
terbentuknya inti atom-atom.Sementara itu, elektron merupakan kulit pembungkus
inti dalam struktur atom yang terbentuk kemudian. Pandangan kosmologis seperti
ini disebut Ledakan Besar alias Big Bang.Namun teori Big Bang itu kini telah
diverifikasi oleh observasi yang berlimpah karena sejumlah persoalan misterius.
Misteri-misteri yang tak terpecahkan ini sebenarnya berkaitan dengan struktur
metafisik dan realistis. Misteri pertama menyangkut keterlibatan kondisi awal
dan konstanta-konstanta universal hukum-hukum alam.
Salah satu misteri yang tampak adalah munculnya pertentangan sains-agama. Namun,
pertentangan ini berakhir di dunia Barat saat agama mengakui bahwa
kosmologi tidak ada hubungannya dengan agama. Sesungguhnya, alasan mengapa kedua
bidang ini tidak bersinggungan adalah karena sains telah menjajah seluruh realitas.
Demi tujuan itu, sains mendefinisikan realitas hanya sesuatu yang
bisa dipelajari secara ilmiah. Sehingga para teolog dewasa ini, termasuk penulis
buku ini (Bruno Abd Al Haqq Guiderdoni), menjelaskan mengapa Tuhan seolah-olah
bersembunyi di balik tirai fenomena yang pekat.
Menurut Bruno, gagasan-gagasan seperti kenosis dan tsimtsum yang tumbuh dalam
pemikiran teologis Kristen dan Yahudi, mengalami kebangkitan kembali secara
mengagumkan dan kini digunakan para teolog dari kalangan itu, untuk menjelaskan
mengapa Tuhan beristirahat dan membiarkan jagat
raya diatur oleh hukum-hukumnya sendiri, tanpa intervensi langsung yang bersifat
ketuhanan (hlm 126-127).
Kita tidak akan pernah dapat menjangkau Esensi Tuhan melalui formula dogmatis,
yang formula itu pun dianggap sebagai misteri oleh institusi yang
mengajukannya. Oleh karena itu, kita harus memiliki gagasan (sangkaan) tertinggi
tentang Allah, seperti firman-Nya dalam hadis qudsi, Aku selalu mengikuti
persangkaan hamba-Ku (ana inda zhanni abdi bi). Tak heran bila penjelasan
seperti ini ditolak banyak kosmolog.
Oleh karena itu, sejumlah kosmolog mencoba mencari penjelasan lain yang tidak
memerlukan eksistensi Tuhan. Penjelasan itu adalah teori inflasi. Secara teoritik
buku ini mengungkap apa yang sesungguhnya terjadi itu perihal keterkaitan kosmologi
dan teologi.
Menurut Armahedi Mahzar dalam kata pengantar, agama-agama dapat menyelesaikan
masalah fundamental sains modern. Sebab, mungkin hal menarik dalam sains modern
abad ke-20 adalah dia menghadapi cakrawala-cakrawala keterbatasan dirinya sendiri.
Bahwa sains meluangkan sebuah ruang untuk pendekatan-pendekatan lain yang juga
melibatkan makna-makna.
Ironisnya, kebanyakan kosmolog justru meniadakan penjelasan kausa final yang
dipahami secara kontemplatif. Mereka membuat teori-teori baru ketika menemukan
fenomena baru. Namun, tampaknya mereka selalu menghadapi jenis paradoks yang
sama. Misalnya, selalu muncul persoalan ketertalaan yang cermat di alam semesta.