Diperkirakan lima persen penduduk dunia terinfeksi HBV dalam masa hidup mereka. Pria yang melakukan hubungan seks dengan
pria yang lain kemungkinan terkena infeksi HBV lebih besar sepuluh sampai lima belas kali. Hepatitis B adalah sebuah STD (sexually transmitted disease) yang menginfeksi liver. Sebuah virus HBV menyebar seperti HIV dan normalnya terdapat dalam darah, semen, maupun cairan tubuh lainnya dari seorang pria yang aktif berhubungan seks. STD menyebabkan liver membengkak dan berhenti berfungsi. Padahal fungsi liver adalah menjaga tubuh manusia tetap berfungsi dengan menyerang infeksi serta menghilangkan racun dari darah. Liver juga adalah sumber utama energi. Kebanyakan orang yang terkena STD melakukan hubungan seks tanpa alat pelindung dengan orang yang telah terinfeksi, berbagi jarum suntik yang mengandung obat terlarang, berbagai barang-barang pribadi (seperti sikat gigi), melakukan perjalanan ke negara tempat penyakit itu mewabah, atau bahkan tinggal dengan seseorang yang menderita HBV. Seorang ibu yang terinfeksi bisa menularkan penyakit itu ke bayinya melalui kelahiran atau susunya. Seseorang takkan menderita HBV dari berjabatan tangan, memeluk, atau berdiri di sebelah penderita HBV.
Aspek yang membingungkan dari penyakit ini adalah gejalanya. Hepatitis B biasanya membuat seseorang merasa terkena flu. Oran itu akan jatuh sakit, terkena demam, merasa lelah, menderita sakit perut yang mengarah ke diare, dan kehilangan nafsu makan. Mayoritas penderita mengeluarkan urine berwarna kuning kehitaman, kotoran berwarna tenang, dan mata serta kulit yang kekuningan. Tapi sejumlah orang tidak menunjukkan gejala-gejala di atas.
Cara terbaik untuk mengetahui seseorang terkena Hepatitis B adalah dengan menguji darahnya. Uji darah itu penting karena tidak hanya mengetahui apakan seseorang itu terkena penyakit, tapi membolehkan pula ia mengetahui seberapa serius bahaya STD yang sebenarnya. Tes penting lainnya adalah biopsi liver—tesnya lumayan simpel tapi efisien karena membolehkan dokter mengetahui apakah masih ada sisa penyakit pada sebuah liver. Dokter akan mengambil sebagian kecil jaringan liver pasien dengan sebuah jarum dan akan memeriksanya.
Orang yang sudah tertular HBV akan melalui empat macam pengobatan. Tiga diantaranya melibatkan penggunaan obat. Yang pertama disebut interferon. Obat diberikan ke penderita melalui suntikan yang diberikan secara berkala dan berakhir sekitar empat bulan kemudian. Dua pengobatan yang terakhir adalah laminvudine dan adefovir dipivoxil serta agak berbeda dari interferon. Obat dimasukkan melalui mulut dan pengobatan berlangsung sampai setahun. Tipe pengobatan yang terakhir adalah yang terekstrim dan dilakukan bila tingkatan Hepatitis B-nya parah. Pembedahan akan dilakukan bila liver berhenti bekerja. Pembedahan ini adalah sebuah transplantasi liver dan dilakukan ketika liver yang lama hancur sehingga harus digantikan oleh liver yang sehat dari seorang pendonor.