Bencana alam yang terus-menerus
terjadi belakangan ini menyebabkan banyak orang mengungsi atau tinggal di
tempat-tempat darurat. Dalam beberapa
kondisi, kejadian bencana menyebabkan rusaknya sarana dan prasarana sosial di
lokasi bencana yang memutus akses korban terhadap ketersediaan air bersih dan bahan
bakar (api, sumber energi) sehingga korban mengalami kesulitan untuk memperoleh
kebutuhan pangannya. Disamping itu,
kerusakan infrastruktur yang terjadi juga menyebabkan pemberian bantuan pangan
ke lokasi menjadi sulit. Semua kondisi
ini membuat tingginya kebutuhan terhadap bantuan pangan untuk korban bencana,
terutama pangan darurat yang dapat langsung dikonsumsi dan memenuhi kebutuhan nutrisi
korban dalam masa panik (beberapa hari pasca bencana sebelum dapur umum dapat
beroperasi secara baik), serta mudah dikirimkan ke lokasi bencana.
Sayang
sekali, bantuan pangan untuk korban bencana alam sampai saat ini masih belum
mendapat perhatian yang serius dari berbagai pihak.
Solusi
untuk mengatasi masalah rawan pangan termasuk kondisi tanggap darurat sampai
saat ini masih mengacu pada penyediaan beras dan mie instant sebagai cadangan
pangan. Dalam kondisi dimana korban mengalami
kesulitan untuk mendapatkan air bersih, bahan bakar dan peralatan masak maka
bantuan pangan dalam bentuk beras atau mie instant seringkali tidak dapat
mengatasi kekurangan pangan secara cepat.
Pada kondisi ini, pemberian beras dan mie instant bisa jadi
memicu rasa kesal dan putus asa seperti yang terekam dalam keluhan korban
melalui media massa
bahwa mereka membutuhkan makanan yang dapat dikonsumsi langsung.
Berkaca
dari pengalaman dimasa lalu dan saat ini, dimasa depan kita perlu mengembangkan
dan menyiapkan stock pangan dalam bentuk produk pangan darurat (emergency
foods) siap santap yang dapat langsung dikonsumsi. Produk tersebut hendaknya tidak sekedar
menjadi pengganjal perut, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menjadi
pengganti fungsi sarapan dan makan dalam arti mampu memberi energi dalam jumlah
yang cukup.
Secara
umum, pangan darurat dapat didefinisikan
sebagai produk pangan olahan yang dirancang khusus untuk dikonsumsi pada
situasi yang tidak normal seperti banjir, longsor, gempa bumi, musim kelaparan, kebakaran, peperangan dan
kejadian lain yang mengakibatkan manusia tidak dapat hidup secara normal Sejatinya, produk ini memang tidak umum
dikonsumsi pada keadaan normal karena selain komposisinya yang khusus, juga
harganya relatif mahal untuk dikonsumsi sebagai makanan harian.
Pangan darurat sendiri dapat dikelompokkan
dalam dua bagian yaitu produk pangan yang dirancang untuk kondisi dimana air
bersih dan bahan bakar untuk memasak masih tersedia, dan produk pangan yang
dirancang untuk menghadapi situasi dimana air bersih
tidak tersedia dan tidak bisa memasak. Pangan darurat untuk korban bencana, terutama
yang bersifat siap santap, sampai saat ini belum dikembangkan di Indonesia
tetapi sudah banyak berkembang untuk kepentingan tentara di lapangan.
Produk pangan darurat siap santap diformulasi sedemikian rupa sehingga bisa memberikan asupan energi harian (sekitar
2100 kalo untuk orang dewasa). Selain
itu, ada lima karakteristik lainnya yang juga harus dipenuhi oleh suatu produk
pangan darurat siap santap yaitu aman dikonsumsi dengan warna, bau, aroma,
tekstur dan penampakan yang dapat diterima, kemudahan dalam pendistribusian dan
kemudahan dalam penggunaan, dan memiliki kandungan nutrisi yang lengkap. Pemberian
produk ini dilakukan bersama-sama dengan pemberian air minum untuk menurunkan
tekanan osmotik yang disebabkan karena mengkonsumsi pangan berkalori tinggi ini. Pemberian produk ini bermanfaat untuk
mempertahankan kehidupan sampai isolasi daerah dapat dibuka atau ketika
kehidupan normal telah berlangsung.
Agar dapat berfungsi sebagai stok p