Bayi maupun anak-anak yang tidak cukup mengonsumsi makanan yang mengandung
zat besi akan berisiko
terkena anemia,
karena tubuh mereka memerlukan lebih banyak zat besi untuk masa
pertumbuhan.Bayi akan lebih berisiko terkena anemia di masa
pertumbuhannya yang berjalan cepat karena tidak memperoleh masukan zat besi
dalam jumlah yang cukup. Begitu juga dengan bayi yang berat badannya terlalu
rendah atau bulan lahirnya kurang dari normal, mereka memiliki risiko
menderita anemia karena persediaan zat besi dalam tubuhnya hanya sampai umur dua
bulan saja. Demikian halnya
anak umur 1-3 tahun mudah sekali terserang anemia,
karena anak pada usia tersebut sulit sekali mengonsumsi makanan yang mengandung
banyak zat besi. Anak dengan gangguan anemia dapat ditandai dengan tubuh
yang lesu atau lemah, daya tahan menurun, serta mudah sakit (terutama terkena
infeksi) sehingga badannya terus melemah,
dan akhirnya tidak memiliki nafsu makan.
Zat besi paling banyak terkandung dalam
kelompok lauk-pauk, seperti
hati, daging sapi, telur, dan ikan sebagai sumber protein hewani yang mudah
diserap. Dari kelompok zat tepung, dapat berupa gandum, jagung, kentang, ubi
jalar, talas, beras merah atau putih, dan ketan hitam. Dari kelompok sayuran
terdiri dari kacang-kacangan, kismis, tahu, dan kacang mete. Dan dari kelompok
buah, terdapat pada kurma, apel, jambu, pepaya, belimbing, alpukat, nangka,
salak, dan srikaya.
Abstrak lain tentang Anak Kurang Konsumsi Zat Besi Berisiko Terkena Anemia