Pada 23 Agustus 2004, bersamaan dengan ulang tahun ke-37
LIPI ,
diluncurkan jasa publik LIPI berbasis teknologi informasi
(http://www.lipi.go.id). Situs ini bertujuan memasok informasi
ilmiah bagi masyarakat Indonesia secara cuma-cuma lewat internet. Layanan yang
diperkenalkan terdiri dari 3 jenis : umum, jasa ilmiah
dan portal ilmiah. Layanan umum memuat informasi LIPI, layanan jasa ilmiah memuat
antara lain jurnal online, informasi HAKI, data base riset, sedangkan
portal ilmiah mewadahi bidang fisika, komputasi, energi dan kimia.
Keberadaan situs ini merupakan angin segar yang berhembus, di tengah
maraknya isu mahalnya pendidikan dan sulitnya melakukan penelitian di
Indonesia. Telah umum diketahui bahwa anggaran untuk mendanai kegiatan
iptek di Indonesia relatif kecil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,
maupun dibandingkan dengan negara yang lain. Anggaran iptek tahun 2004
hanya 0.05 persen dari PDB (Rakornas Ristek 2004). Angka ini relatif
sangat kecil dibandingkan misalnya dengan negara jiran Malaysia, yang
menganggarkan 0.5 persen dari PDB untuk mendorong pertumbuhan iptek di
negeri tersebut. Dari dana 0.05 persen PDB ini masih dibagi-bagi untuk
pengadaan alat dan bahan, sehingga anggaran untuk pengadaan literatur
ilmiah akan jauh lebih kecil lagi. Padahal informasi ilmiah yang antara
lain berupa jurnal, proseding seminar, merupakan kebutuhan pokok bagi
seorangpeneliti di perguruan tinggi maupun industri.
Seorang peneliti dituntut untuk rajin mengikuti perkembangan teknologi
di bidangnya. Sumber utama adalah jurnal ilmiah, yang jumlahnya ribuan
dan diterbitkan di berbagai bidang. Akan tetapi akses terhadap
literatur ilmiah memiliki keterbatasan. Tidak semua perpustakaan
berlangganan jurnal ilmiah dalam versi cetak, yang cukup lengkap dan
memenuhi kebutuhan peneliti. Dalam hal ini keberadaan
digital library
merupakan solusi yang sangat membantu seorang peneliti untuk menemukan
sumber informasi yang diperlukannya.
Manfaat terbesar dari digital library
ini adalah akses tak terbatas terhadap sebuah artikel ilmiah. Artikel
yang berada dalam format elektronik tidak pernah out of print,
sedangkan artikel yang terbit dalam versi cetak, seringkali terbatas
jumlah terbitannya. Digital library yang dapat diakses online membuat
akses terhadap artikel ilmiah pun menjadi lebih mudah. Dengan
bermodalkan PC yang terhubung ke internet, sebuah artikel terbaru yang
diterbitkan
di journal The Institute of Electrical and Electronics Engineers
(IEEE) di Amerika, misalnya, dapat diperoleh di Indonesia dalam
hitungan detik. Dengan kata lain, informasi online akan menghilangkan
kendala geografis, yang selama ini merupakan masalah utama dalam
mencari sumber ilmiah.
Di negara maju, misalnya di Jepang, informasi online merupakan sumber
penting bagi penelitian. Perpustakaan di perguruan tinggi dan lembaga
penelitian biasanya berlangganan jurnal elektronik, seperti Nature,
Science, atau journal-journal ilmiah yang diterbitkan Elsevier dsb.
Selain itu informasi literatur di berbagai perpustakaan di Jepang dapat
diketahui dengan layanan NACSIS Webcat. NACSIS Webcat ini merupakan
sistem berbasis www, yang dapat mencari database katalog untuk buku,
majalah, journal ilmiah dan material yang disimpan di perpustakaan
perguruan tinggi di Jepang. Dengan memanfaatkan NACSIS Webcat, seorang
peneliti dapat menemukan lokasi dimana artikel ilmiah yang
diperlukannya berada. Kalau artikel tersebut tidak terdapat di
institusi-nya, dia dapat memesan artikel itu ke perpustakaan lain yang
memilikinya. Sehingga peneliti di Jepang memiliki kesempatan yang sama
dalam mengakses literatur ilmiah.
Kesempatan akses informasi yang besar ini ternyata memberikan pengaruh
lain. Steve Lawrence melaporkan bahwa artikel yang dimuat online
memiliki frekuensi rujukan yang lebih tinggi daripada informasi yang
dimuat offline. Penelitian yang dimuat dalam majalah ilmiah terkemuka,
Nature tahun 2001 (Vol.411, No.6837,halaman 5221), mengamati frekuensi
rujukan terhadap sekitar 120 ribu paper ilmiah di bidang komputer, yang
dipublikasikan secara offline (versi cetak), maupun yang dapat diakses
secara online. Pengamatan yang dilakukan pada publikasi paper ilmiah
dalam interval 10 tahun, dari 1989-2000 ini berkesimpulan bahwa paper
yang dapat diakses secara online memiliki frekuensi rujukan lebih dari
dua kali lipat paper yang tidak dapat diakses secara online. Hal ini
berimplikasi, artikel yang dipublikasikan secara online memiliki
potensi lebih besar untuk mewarnai perkembangan iptek, karena temuan
yang tertulis pada paper tersebut dapat diakses oleh siapa saja.
Sebaliknya, sebuah ide yang cemerlang, apabila tidak dapat diakses
dengan mudah, akan lebih sedikit mendapat perhatian dari komunitasnya.
Sehingga kontribusinya terhadap dunia iptek mungkin kurang dapat
dirasakan.
Hal ini yang melatar belakangi, dewasa ini banyak peneliti yang memuat
publikasinya di situs pribadi, agar dapat dibaca oleh peneliti yang
lain. Disamping situs pribadi, ada juga situs yang khusus menerima
deposito artikel, misalnya http://citeseer.ist.psu.edu/ yang menerima
tulisan di bidang komputer dalam format elektronik (pdf). Situs semacam
ini bertujuan untuk meningkatkan diseminasi literatur iptek, sehingga
dapat membuat proses pencarian sumber ilmiah berlangsung lebih mudah
dan efisien.
Hal ini yang kita harapkan akan dapat diwujudkan juga di Indonesia.
Dengan membuat sumber ilmiah di Indonesia dapat diakses online,
diharapkan berbagai penemuan yang dokumentasinya selama ini tersebar di
berbagai publikasi Indonesia, dapat diintegrasikan ke dalam sebuah
portal online yang dapat diakses siapa saja.
Hal ini sangat penting mengingat komunitas Indonesia di dunia maya
cukup besar. Menurut penelitian Onno Purbo porsi diskusi keilmuan di
internet berada pada kisaran 19 persen dari keseluruhan posting di
internet. Angka ini termasuk jumlah yang signifikan, dan menempati
peringkat kedua setelah posting yang sifatnya silaturahmi (21.9
persen). Pornografi yang selama ini dikhawatirkan ternyata berada pada
prosentase yang lebih kecil, yaitu 12.9 persen. Penelitian Onno yang
dimuat di situs ilmukomputer.com ini, memberikan harapan segar bahwa
ternyata perhatian masyarakat terhadap perkembangan iptek cukup besar.
Sangat disayangkan bila potensi ini dilewatkan begitu saja, dan kurang
mendapat suplai informasi ilmiah karena akses yang terbatas. Komunitas
yang haus akan informasi iptek ini diharapkan dapat memanfaatkan secara
optimal informasi online yang disediakan oleh LIPI, maupun situs serupa
yang dewasa ini mulai menjamur. Dengan demikian, walaupun alokasi dana
penelitian dari pemerintah sangat terbatas, diharapkan keberadaan
layanan LIPI ini dapat memasok kekurangan informasi yang diperlukan
bagi perkembangan iptek di Indonesia.
Sumber : Berita IPTEK (4 September 2004)
Abstrak lain tentang Iptek dan media online Merangsang Pertumbuhan Iptek dengan Informasi Online