TIDAK bisa dimungkiri kalau Konferensi Tingkat Tinggi
Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) yang berlangsung di Bangkok,
Thailand, didominasi oleh Presiden AS George W Bush. Selama 32 tahun kekuasaan Orde Baru, masalah keamanan
dan kesejahteraan menjadi tema sentral kekuasaan yang dirumuskan dalam
Trilogi Pembangunan (pembangunan ekonomi, pemerataan, dan stabilitas
nasional).Sejak pertemuan APEC di Shanghai pada tahun 2001, isu
politik internasional dalam memerangi
terorisme sudah mulai mendominasi
KTT APEC dan terus bergulir sampai pertemuan di Bangkok yang lalu.
Konsep keamanan dan kesejahteraan sebagai prasyarat pertumbuhan ekonomi
dan pemerataan yang meluas, sudah lama dianut Asia Tenggara yang juga
menjadi acuan penting dalam berbagai dokumen ASEAN.
Sehingga, kawasan ini sebenarnya lebih mengerti dan memahami konsep ini
ketimbang Presiden Bush karena kemajuan yang dicapai kawasan ini
sebenarnya berdiri atas rasa tidak aman dan tidak meratanya
kesejahteraan akibat pertikaian politik global masa lalu.
Rumusan Deklarasi Bangkok 2003 yang melulu bernuansa politik
mengisyaratkan adanya pergeseran platform APEC yang lebih luas dan bisa
menyimpang bagi tercapainya tujuan Deklarasi Bogor 1993 menjadikan
Asia-Pasifik sebagai kawasan perdagangan dan investasi bebas pada dua
tahap, tahun 2010 untuk negara maju dan 2020 untuk negara berkembang. Terorisme lahir karena sikap frustrasi dan
berkembangnya pemikiran fundamentalisme yang tidak lagi
mempertimbangkan akal sehat dan condong mengorbankan orang-orang tidak
bersalah untuk mencapai tujuannya.
Namun, yang patut kita catat dalam perkembangan pascaserangan udara
teroris terhadap Kota New York adalah berkembangnya pemahaman
fundamentalis lain yang bertumpu pada kepentingan nasional yang
diterjemahkan secara sederhana siapa kawan siapa lawan. Ini yang kita baca dalam lawatan Presiden Bush ke kawasan ini dengan mengunjungi enam negara Asia bersamaan dengan KTT APEC.
Agenda keamanan AS yang kental melawan terorisme ini
bisa mengacaukan terbentuknya kerja sama ekonomi multilateral kawasan
Asia-Pasifik, sebuah kerja sama yang berakar karena krisis identitas
Australia tahun 1980-an dan menguatnya dinamisme ekonomi Asia Timur.
Upaya memerangi terorisme sekarang ini memang telah membawa Australia
kembali menjadi episentrum yang menjembatani kepentingan AS di kawasan
ini.
Satu hal yang perlu dicermati dan dipahami adalah obsesi melawan
terorisme global jangan sampai menghilangkan arah dan tujuan upaya
kerja sama multilateral dengan menjadikan APEC menjadi sebuah
organisasi kuasi keamanan dan politik yang memenuhi kepentingan
dominasi Washington saja.