Kongres
Sastra Jawa atau KSJ II di Semarang, Jumat (1/9) dibuka.
Kongres yang berlangsung hingga Minggu (3/9) itu digelar, selain
sebagai kelanjutan KSJ I di Solo tahun 2001 dan
menjadi tempat
pertemuan sastrawan Jawa, juga untuk mewujudkan
kemitraan antara
pengarang Jawa dengan
berbagai kalangan yang peduli sastra Jawa. Sebab, sastra Jawa tak mungkin berkembang tanpa
dukungan dari berbagai kalangan, terutama dari mereka mencintai
bahasa,
sastra, dan budaya Jawa. Tema ini diangkat karena kemitraan (kerja sama) perlu
mendapatkan prioritas pembahasan agar sastra Jawa mendapat tempat yang
memadai untuk beraktualisasi. Untuk mawas diri
Darmanto meminta, KSJ menjadi ajang bagi sastrawan dan siapa pun yang peduli dengan sastra dan budaya Jawa untuk mawas diri. Bahasa, sastra, dan kebudayaan Jawa dapat berkembang jika mengikuti perkembangan zaman itu. Jawa tidak perlu menjadi kaku (fundamentalis), jika ingin berkembang.
"Kongres Sastra Jawa pun ra''sah meri (tak perlu iri) dengan Kongres Bahasa Jawa (KBJ) yang akan digelar," tandasnya. Bahkan, keduanya bisa menjadi kekuatan yang saling melengkapi untuk mengembangkan bahasa, sastra, dan budaya Jawa.Sastra Jawa sebagai buah dari kebudayaan Jawa
tetap hidup, meski mungkin perkembangannya tidak seperti yang diharapkan.
"Sejarah menunjukkan, sastra Jawa sebagai buah dari budaya Jawa
(kejawen), tetap hidup, tetap menghidupi, dan tetap dapat ditemukan di
berbagai tempat.
Abstrak lain tentang Kongres Sastra Jawa Ujudkan Kemitraan