• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Sains>Posisi Naskah Drama Dalam Sastra Indonesia

.

Posisi Naskah Drama Dalam Sastra Indonesia

oleh : NasrulAzwar     

Pengarang : Putu Wijaya
Posisi Naskah Drama Dalam Sastra Indonesia
Oleh PUTU WIJAYA
AJIP Rosidi pernah memopulerkan istilah "drama kloset,"

untuk memetakan naskah-naskah drama yang tidak pernah dipentaskan atau
jarang dipentaskan. Hal itu terjadi bukan karena naskah itu jelek, tapi
karena memang lebih untuk dibaca saja dari dipentaskan (sulit
dipentaskan) . Barangkali yang bisa dimasukkan ke
dalam kelompok itu adalah naskah seperti "Prabu dan Putri" karya
Rustandi Kartakusuma, atau kumpulan naskah drama Sitor Situmorang yang
ada dalam "Jalan(an) Mutiara."Barangkali yang bisa dimasukkan ke dalam kelompok itu
adalah naskah seperti "Prabu dan Putri" karya Rustandi Kartakusuma,
atau kumpulan naskah drama Sitor Situmorang yang ada dalam "Jalan(an)
Mutiara."
Naskah drama dalam kasus itu, kemudian memang lebih merupakan rencana pementasan yang memisahkan dirinya dari sastra. Itu bagi saya lebih didorong oleh kekesalan tak adanya kritik yang mengamati secara khusus penulisan naskah drama.
Bukan hanya karena kritik memang sangat sedikit dan hampir hilang dalam
kegiatan sastra, tetapi juga karena sedikitnya penerbitan naskah drama,
sehingga tambah menyulitkan adanya penulisan kritik. Skripsi atas naskah drama masih banyak dibuat di berbagai fakultas sastra, walaupun naskah drama tersebut belum diterbitkan. Khazanah naskah drama Indonesia yang terpacu karena
adanya sayembara penulisan drama oleh BPTNI dan DKJ (Bank Naskah)
menjadi seperti rimba yang belum terjamah secara tuntas. Arifin C. Noer kalau bukan seorang sutradara terkenal,
mungkin akan disebut sastrawan, karena dia menulis banyak naskah drama
yang penting buat kehidupan naskah lakon Indonesia.
Memang ada situasi tertentu yang sudah menyebabkan mengapa para penulis
naskah drama di Indonesia, tidak berkibar seperti penulis naskah untuk
film/televisi.Apabila penerbitan galak dan kritik hidup secara
sehat, akan jelas bahwa penulisan naskah drama, para penulis naskah
drama juga adalah bagian dari kekayaan sastra Indonesia. Kecuali dalam kasus-kasus tertentu yang sudah disebut di atas.
Bahkan ketika seorang penulis naskah drama berontak dan ingin
memisahkan dirinya dari sastra pun, ada kemungkinan dia akhirnya
menghasilkan karya sastra dan menjadi terkategorikan sebagai sastrawan.
Barangkali FTI perlu memikirkan bagaimana menyelamatkan dan menambahkan apa-apa yang ada di dalam Bank Naskah itu. Itu sebagai awal dari kehidupan penulisan drama, juga sebagai bukti yang konkret bahwa naskah drama aalah bagian dari sastra.
Tetapi juga sama sekali tidak menutup kemungkinan, berkembangnya
rancangan pengadegan (naskah dalam bentuk lain) tontonan yang sama
sekali tidak berbasis pada sastra/bahasa dan yang sama sekali bukan
sastra lagi.
Diterbitkan di: Oktober 08, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.