Generasi Technopreneurship Di Era Informasi
Summary rating: 4 stars
3 Tinjauan
Kunjungan:
352
kata:
900
Diterbitkan di: Oktober 05, 2007
Globalisasi ekonomi dan era informasi mendorong industri
menggunakan sumber daya manusia lulusan perguruan tinggi yang kompeten
dan memiliki jiwa kewirausahaan. Akan tetapi tidak setiap lulusan
perguruan tinggi memiliki jiwa kewirausahaan seperti yang diinginkan
oleh lapangan kerja tersebut. Kenyataan menunjukkan bahwa hanya
sebagian kecil lulusan perguruan tinggi yang memiliki jiwa
kewirausahaan. Di sisi lain, krisis ekonomi menyebabkan jumlah lapangan
kerja tidak tumbuh, dan bahkan berkurang karena bangkrut.Dalam kondisi
seperti ini, maka lulusan perguruan tinggi dituntut untuk tidak hanya
mampu berperan sebagai pencari kerja tetapi juga harus mampu berperan
sebagai pencipta kerja. Keduanya memerlukan jiwa kewirausahaan. Oleh
karena itu, agar supaya perguruan tinggi mampu memenuhi tuntutan
tersebut, berbagai inovasi diperlukan diantaranya adalah inovasi
pembelajaran dalam membangun generasi technopreneurship di era
informasi sekarang ini.
Ada suatu pendapat bahwa, saat ini sebagian besar lulusan
perguruan tinggi di Indonesia masih lemah jiwa kewirausahaannya.
Sedangkan sebagian kecil yang telah memiliki jiwa kewirausahaan,
umumnya karena berasal dari keluarga pengusaha atau dagang. Dalam
kenyataan menunjukkan bahwa kewirausahaan adalah merupakan jiwa yang
bisa dipelajari dan diajarkan. Seseorang yang memiliki jiwa
kewirausahaan umumnya memiliki potensi menjadi pengusaha tetapi bukan
jaminan menjadi pengusaha, dan pengusaha umumnya memiliki jiwa
kewirausahaan. Proses pembelajaran yang merupakan inkubator bisnis
berbasis teknologi ini dirancang sebagai usaha untuk mensinergikan
teori (20%) dan Praktek (80%) dari berbagai kompetensi bidang ilmu yang
diperoleh dalam bidang teknologi & industri. Inkubator bisnis ini
dijadikan sebagai pusat kegiatan pembelajaran dengan atmosfir bisnis
yang kondusif serta didukung oleh fasilitas laboratorium yang memadai.Tujuan implementasi inovasi dari kegiatan inkubator bisnis
berbasis teknologi ini adalah menumbuh kembangkan jiwa kewirausahaan
bagi mahasiswa sebagai peserta didik. Sedangkan manfaat yang diperoleh
bagi institusi adalah tercapainya misi institusi dalam membangun
generasi technopreneurship dan meningkatnya relevansi antara dunia
pendidikan dengan dunia industri. Sedangkan manfaat bagi mitra kerja
adalah terjalinnya kerja sama bisnis dan edukasi. Kerjasama ini
dikembangkan dalam bentuk bisnis riil produk sejenis yang memiliki
potensi ekonomi pasar yang cukup tinggi.Proses globalisasi yang sedang terjadi saat ini, menuntut perubahan perekonomian Indonesia dari resourced based ke knowledge based. Resource based
yang mengandalkan kekayaan dan keragaman sumber daya alam umumnya
menghasilkan komoditi dasar dengan nilai tambah yang kecil. Salah satu
kunci penciptaan knowledge based economy adalah adanya technology entrepreneurs atau disingkat techno-preneur yang merintis bisnis baru dengan mengandalkan pada inovasi. Hightech business merupakan contoh klasik bisnis yang dirintis oleh technopreneurs.Bisnis teknologi dunia saat ini didominasi oleh sektor
teknologi informasi, bioteknologi dan material baru serta berbagai
pengembangan usaha yang berbasiskan inovasi teknologi. Bisnis teknologi
dikembangkan dengan adanya sinergi antara teknopreneur sebagai pengagas
bisnis, Perguruan Tinggi dan lembaga penelitian sebagai pusat inovasi
teknologi baru, serta perusahaan modal ventura yang memiliki kompetensi
dalam pendanaan.Jumlah usaha kecil menengah berbasis teknologi (UKMT) di
Indonesia berkembang dengan pesat. Kecenderungan peningkatan ini lebih
didorong oleh terbatasnya peluang kerja di industri-industri besar
karena pengaruh krisis ekonomi dan mulai munculnya technopreneurship di
kalangan lulusan pendidikan tinggi teknik.Dalam menghadapi era globalisasi, persaingan akan semakin
ketat, sehingga sangat dibutuhkan kebijakan-kebijakan dan
aktivitas-aktivitas secara langsung yang dapat meningkatkan daya saing
UKMT di kemudian hari. Kesulitan dan hambatan pada UKMT di Indonesia
dalam mengembangkan usahanya adalah lemahnya jalur pemasaran, dukungan
teknologi dan terbatasnya permodalan. Terlebih lagi, bagi pengusaha
pemula, masalah ini akan terlihat lebih besar dan menjadi kendala cukup
besar dalam mengembangkan usahanya.Sampai saat ini belum banyak institusi pemerintah maupun swasta
yang dapat memberikan dukungan secara langsung untuk pengembangan UKMT
khususnya bagi pengusaha pemula. Sehingga sangat dibutuhkan suatu wadah
yang dapat memberikan dukungan langsung berupa fasilitas-fasilitas yang
dapat membantu UKMT khususnya membantu pengusaha pemula dalam
melaksanakan dan mengembangkan usahanya.Dalam rangka turut serta membantu dan mendukung secara langsung
kegiatan UKMT khususnya kegiatan pengusaha pemula, maka dipandang
sangat perlu untuk dapat membangun suatu wadah yang memiliki fasilitas
yang dapat mendukung secara langsung kegiatan operasional, promosi,
pemasaran, konsultasi teknologi produksi, investasi dan permodalan.
Dengan adanya fasilitas-fasilitas tersebut, diharapkan UKMT khususnya
pengusaha pemula di Indonesia dapat mengembangkan usahanya lebih cepat
dan terarah.Menatap masa depan berarti mempersiapkan generasi muda yang
memiliki kecintaan terhadap pembelajaran dan merupakan terapi kesehatan
jiwa bagi anak bangsa, semoga munculnya generasi technopreneurship
dapat memberikan solusi atas permasalahan jumlah pengangguran
intelektual yang ada saat ini. Selain itu juga bisa menjadi arena untuk
meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga kita bisa
mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global. mulailah dari
diri sendiri untuk berbuat sesuatu guna menciptakan pendidikan kita
bisa lebih baik dan berkualitas, karena ini akan menyangkut masa depan
anak-anak kita dan juga Bangsa Indonesia.
___________Tata Sutabri S.Kom, MM --
Deputy Chairman of STMIK INTI INDONESIA,
Pemerhati Dunia Pendidikan TI,
Jl. Arjuna Utara No.35 – Duri Kepa Kebon Jeruk,
Jakarta Barat 11510 Telp. 5654969,
e-mail : tata.sutabri@inti.ac.id .