• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Sains>Sardono, Umur, dan Kepenarian

.

Sardono, Umur, dan Kepenarian

oleh : NasrulAzwar    

Pengarang : Halim HD
 
.fullpost{display:none;}
“Saya sudah tua, tidak akan lagi menari”, itulah sepotong kalimat yang diucapkan
oleh salah satu maestro dunia tari kita, Sardono W. Kusumo, pada sesi diskusi pada acara Indonesia Dance Festival (IDF) 2006, Jakarta, setelah salah satu pertunjukan di teater kecil Taman Ismail Marzuki (TIM). Saya tidak mendengarnya secara langsung. Kata-kata dari sosok yang kita segani itu saya dengar dari cerita seorang rekan yang selama beberapa hari mengikuti hajatan dunia tari yang setiap tahun senantiasa mengundang perhatian publik peminat seni pertunjukan.
Ketika teman itu membawa ole-ole berita tentang Mas Don, panggilan akrab Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), kami yang berada di daerah dan sedang nongkrong di warung pinggir jalan masuk kedalam diskusi santai. Pertanyaan yang saya lontarkan kepada beberapa teman yang nongkrong di warung depan gedung kesenian Sulsel, Societeit de Harmonie, Makassar, pada usia berapakah seorang seniman tari (juga musik dan teater) pensiun dari dunia panggung? Kenapa pula seorang Sardono W. Kusumo yang kalau tidak salah baru berusia 62 tahun menyatakan tidak akan menari lagi? Apakah profesi kepenarian seseorang bisa diukur dari usia seorang pegawai misalnya yang pensiun pada umur 56 tahun? Ataukah ketika dia sudah mengalami kecukupan sosial-ekonomi, atau sedang berada pada posisi jabatan yang memang membutuhkan enerji dan waktu yang banyak menyita dirinya untuk melakukan kegiatan yang dahulu tak pernah lengang dari satu ruang eksplorasi ke ruang eksplorasi lainnya, suatu penjelajahan dalam upaya pencarian jatidiri pribadi dan penciptaan tradisi baru?
Diterbitkan di: September 10, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.