Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Hiburan>Drama>Hapalan Shalat Delisa

Hapalan Shalat Delisa

oleh: mashar     Pengarang : tere-liye
ª
 
Tsunami di Aceh, sampai saat ini masih menduduki tempat pertama sebagai bencana yang paling menakutkan sekaligus mengerikan untuk kebanyakan rakyat aceh pada umumnya dan rakyat Indonesia pada khususnya.. Masih terbayang dengan jelas , betapa saat itu mayat-mayat tak terhitung jumlahnya ,bergelimpangan disana-sini. Perempuan, laki-laki dan anak-anak semuanya menggembung, biru karena kebanyakan minum air laut. Belum lagi yang sekujur tubuhnya patah tertimpa reruntuhan gedung dan pohon, listrik mati, tidak ada penerangan sama sekali, kehidupan yang selama ini ceria penuh canda dan suara-suara pengajian di surau ataupun anak-anak lepas berlarian. Menjadi sepi mencekam, menegangkan dan bau anyir mayat seolah makin menggenapkan kengerian itu. Diantara onggokan sampah-sampah rumah, pohon dan batu-batuan serta kanan kiri mayat. Ada sosok kecil yang masih bernafas, meskipun lirih, tapi jelas itu nafas kehidupan. Tangannya yang patah penuh darah dan kakinyapun sulit bergerak, ternyata semuanya patah. Dia hanya punya nafas dan perjuangannya untuk sekedar "menghabiskan hapalan terakhir bacaan sholatnya", diantara perjuangannya tadi. Dia bertemu dengan ibunya dan kakaknya yang hanya dapat melambaikan tangan kepadanya.. Tidak berusaha mengajaknya untuk pergi bersama bahkan ibu gurunyapun. Teman-teman sekolah, ustad pengajiannya yang selama ini baik kepadanya, hanya bisa melambai. Mereka terbang dengan baju putih yang sangat indah, bahkan disekeliling mereka banyak kupu-kupu cantik yang mengikutinya. "Aku ingin ikut, aku takut sendirian disini?" tapi seolah mereka tidak perduli. Lapar, haus dan bau anyir kerap terasa memenuhi rongga dadanya. Tubuh kecil tadi makin lemah sampai kemudian Tuhan menyelamatkannya dari keadaan tadi, ada serombongan regu penyelamat yang berhasil menyisir daerah dimana Delisa tergeletak tak berdaya. Yah, anak kecil dan manis itu bernama Delisa. Kapal Induk yang didatangkan ke daerahnya berfungsi juga sebagai rumah sakit sementara. Disanalah dia dibawa, ditangani oleh dokter dan suster-suster yang bahasanya tidak dia mengerti sama sekali. Rambut indahnya terpaksa di gunduli, ada tiga puluh enam jahitan yang menghiasi kepalanya sekarang. Kakinya yang patah dan busuk, terpaksa di amputasi. Tapi dia tidak menangis, dia tidak mengeluh. Delisa tetap tidur nyenyak, tanpa bisa diajak bercakap-cakap. Dokter dan suster mulai frustasi karena tahu gadis kecil itu belum juga siuman setelah dirawat beberapa hari lamanya. Sampai kemudian kehidupannyapun datang lagi, saat dimana ibu-ibu pasien di kapal tadi sedang melakukan shalat berjamaah. Dan dia ingat kalimat terakhir yang di ucapkan sang imam kepada ma'mumnya : "Subhnarabial a'la wa bihamdi.........!" Bibir itu mengikutinya hingga doa shalat terakhir. Bu guru aku sudah hapal bacaan sholat seluruhnya............!"

Diterbitkan di: 19 Desember, 2009   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

5 Teratas

.