Memenuhi tuntutan akan kebutuhan konsumen dan persepsi mereka tentang PTS, ada beberapa aspek
penting yang perlu diperhatikan.
Sebagai konsumen, calon
mahasiswa baru akan mempertimbangkan komponen harga dan
kualitas suatu PTS, sebelum mereka memutuskan untuk mendaftar. Oleh sebab itu pihak PTS harus memprioritaskan dua komponen penting tersebut dalam upayanya memperoleh mahasiswa dalam jumlah dan dengan mutu yang optimal.
Kenyataannya, ditemukan bahwa tingkat pengenalan konsumen terhadap PTS pada umumnya masih rendah. Kebanyakan mereka mengenal PTS melalui media dari mulut ke mulut, informasi dari teman/saudara, dan iklan, baik virtual maupun cetak dan elektronik. Disamping itu, proses pengenalan konsumen juga didukung oleh faktor lokasi yang strategis.
Temuan lainnya adalah kenyataan bahwa jenjang pendidikan sarjana (S1) masih merupakan ‘primadona’ dibandingkan dengan program-program diploma (D3). Adapun persepsi konsumen tentang kualitas suatu PTS adalah bahwa PTS yang bermutu menyediakan sarana laboratorium yang memadai, dosen-dosen yang handal, kelompok studi yang berprestasi, koleksi perpustakaan yang lengkap, bukan hanya sekedar fasilitas olah raga dan kesenian.
Menanggapi kondisi dan fenomena konsumen PTS sebagaimana diuraikan di atas, maka pihak PTS perlu mempertimbangkan hal-hal berikut :
1. Melakukan kegiatan-kegiatan promosi yang lebih intensif kepada calon mahasiswa baru (konsumen)
2. Meningkatkan kualitas pelayanan konsumen (service excellence)
3. Mengarahkan target promosi ke sekolah-sekolah umum, dimana motivasi dan kemampuan keuangan peserta didiknya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan mereka di sekolah vokasional/kejuruan
4. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang bersifat akademis, seperti lomba karya ilmiah.
PTS memiliki segmen pasar tersendiri, terutama para konsumen yang tidak memiliki kompentensi cukup untuk masuk ke PTN. Dengan optimisme PTS mampu bersaing menjaring mahasiswa baru dengan kuantitas dan kualitas yang maksimal.