Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Bisnis & Keuangan>Manajemen & Kepemimpinan>Konsep Diferensiasi Horizontal, Vertikal dan Spasial

Konsep Diferensiasi Horizontal, Vertikal dan Spasial

oleh: eagle2013    
ª
 

Menurut Robbins (1990) diferensiasi dalam sebuah organisasi dibagi menjadi tiga yaitu diferensiasi horisontal, diferensiasi vertikal, differensiasi spasial. (1) Diferensiasi Horisontal. Diferensiasi horisontal merujuk pada tingkat diferensiasi antara unit-unit berdasarkan orientasi pada anggotanya, sifat dari tugas yang mereka laksanakan, dan tingkat pendidikan serta pelatihannya. Dapat dikatakan bahwa semakin banyak jenis pekerjaaan yang ada dalam organisasi yang membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan yang istimewa, semakin kompleks pula organisasi tersebut. Orientasi yang berbeda akan lebih menyulitkan pada anggota organisasi untuk berkomunikasi dan menyulitkan manajemen untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan dalam organisasi. Bukti paling nyata pada organisasi yang menekankan pada diferensiasi horisontal adalah spesialisasi dan departemenisasi. (a) Spesialisasi. Spesialisasi merujuk pada pengelompokan aktivitas tertentu yang dilakukan satu individu. Bentuk spesialisasi yang paling dikenal adalah spesialisasi fungsional dimana pekerjaan dipecah-pecah menjadi tugas yang sederhana dan berulang. Spesialisasi fungsional ini dikenal sebagai pembagian kerja (division of labor). Spesialisasi fungsional menciptakan kemampuan substitusi diantara para pegawai dan mempermudah penggantiannya oleh manajemen. Bentuk spesialisasi yang lain adalah spesialisasi sosial, dimana para individunya yang dispesialisasi, dan bukan pekerjaannya. Spesialisasi sosial dicapai dengan menggaji tenaga profesional yang mempunyai kemampuan yang khusus Peningkatan pada salah satu bentuk spesialisasi dapat berakibat pada peningkatan kompleksitas dalam organisasi karena peningkatan spesialisasi membutuhkan metode yang lebih mahal dan lebih canggih untuk sarana koordinasi dan kontrol (Carter dan Keon, 1986). (b) Departementalisasi. Departementalisasi merujuk pada cara pengelompokan para spesialis. Departementalisasi dapat diartikan sebagai cara organisasi yang khas dalam mengkoordinasikan aktivitas yang telah didiferensiasikan secara horisontal (Robbins, 1990). Departementalisasi merupakan proses dimana organisasi secara struktural dibagi dalam kombinasi-kombinasi pekerjaan dalam sebuah departemen sesuai dengan karakteristik atau dasar yang sama. Pengelompokan pekerja dalam grup kerja membutuhkan koordinasi. Managerial yang krusial perlu ada saat penciptaan departemen-departemen digunakan sebagai dasar dari pengelompokan pekerjaan. Hal yang penting dalam menentukan dasar untuk departementalisasi adalah laporan yang harus diberikan pada top management. Departementalisasi dibagi menjadi 2 tipe yaitu fungsional departementalisasi dan divisional departementalisasi. Fungsional departementalisasi memberikan kemungkinan pada personel untuk saling tukar menukar informasi mengenai spesialisasi fungsional mereka dan meningkatkan kemampuan mereka sehingga perubahan pada semua product line yang melintasi departemen tertentu membutuhkan reorganisasi dari seluruh departemen. Sebaliknya divisional department menggunakan aliran kerja secara berkelompok-kelompok pada puncak organisasi. Masing-masing divisi dapat bertanggung jawab sendiri pada kebutuhan-kebutuhan dari pasar mereka/lebih flexible (Wagner III and Hollenbeck,1995). Semakin kompleks organisasi maka organisasi akan semakin bersifat divisional (Gibson, Ivanchevic, & Donnelly, 2000), (2) Diferensiasi Vertikal. Diferensiasi vertikal merujuk pada kedalam struktur. Diferensiasi meningkat demikian pula kompleksitasnya, karena jumlah hierarki di dalam organisasi bertambah. Makin banyak tingkatan yang terdapat diantara top management dan tingkat hierarki yang paling rendah, makin besar pula distorsi dalam komunikasi, dan makin sulit pengambilan keputusan dari pegawai manajerial, serta makin sukar bagi top management untuk mengawasi kegiatan bawahannya. Organisasi dengan jumlah pegawai yang sama tidak perlu mempunyai tingkat diferensiasi vertikal yang sama. Organisasi dapat berbentuk tinggi, dengan banyak lapisan hierarki, atau mendatar dengan sedikit tingkatan. Faktor yang menentukan diferensiasi vertikal adalah rentang kendali (span of control). Rentang kendali menetapkan jumlah bawahan yang dapat diatur dengan efektif oleh seorang manager (Robbins,1990). Rentang pengendalian harus didefinisikan tidak hanya meliputi pembagian bawahan secara formal, tetapi juga pada mementukan siapa yang mempunyai akses ke manager (Mullins,1993). Rentang kendali yang lebar menunjukkan bahwa manager akan mempunyai banyak bawahan yang melapor padanya, sedangkan rentang kendali yang sempit menunjukkan bahwa manager mempunyai sedikit bawahan. Semakin kecil rentang kendalinya, maka semakin tinggi organisasinya. Rentang Kendali yang sempit menciptakan diferensiasi vertikal yang tinggi serta organisasi yang tinggi. Struktur yang tinggi memberikan supervisi dan kontrol yang berorientasi pada atasan yang lebih ketat dan koordinasi dan komunikasi yang menjadi rumit karena banyaknya lapisan yang harus dilalui perintah-perintah. Struktur yang datar memiliki rantai komunikasi yang lebih singkat dan lebih sederhana, dengan peluang supervisi yang lebih sedikit karena tiap manager mempunyai banyak orang yang melapor padanya dan mengurangi peluang kenaikan jabatan karena tingkat manajemen lebih sedikit (Robbins, 1990). Diferensiasi vertikal dapat ditinjau dari jumlah tingkat dalam divisi-divisi tunggal yang terdalam dari organisasi, dan jumlah rata-rata tinggkat organisasi secara keseluruhan (Paramita, 1985) Jumlah hubungan antar personel antara manager dan bawahan meningkat secara geometrik sedangkan jumlah dari bawahan meningkat secara aritmatik. Hubungan ini terjadi karena manager secara potensial dihadapkan pada tiga tipe hubungan yaitu hubungan perorangan langsung, hubungan pada kelompok secara langsung dan hubungan silang. Hubungan perorangan secara langsung terjadi antara manager dan masing-masing bawahan secara individual (one-on-one), hubungan pada kelompok secara langsung terjadi antara manager dan masing-masing permutasi bawahan yang mungkin terjadi, dan hubungan silang terjadi ketika bawahan berinteraksi antara satu dengan lainnya (Mullins,1993). (3) . Diferensiasi Spasial. Diferensiasi spasial merujuk pada tingkat sejauh mana lokasi kantor, pabrik, dan personalia sebuah organisasi tersebar secara geografis. Organisasi yang tersebar secara geografis akan semakin tinggi kompleksitasnya. Elemen diferensiasi spasial memperhatikan dua hal yaitu jarak maupun jumlah. Diferensiasi spasial dapat dilihat sebagai perluasan dari diferensiasi horizontal dan diferensiasi vertikal (Robbins, 1990).


Diterbitkan di: 11 Juli, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    Kak tolong dijawab ya. kelebihan dan kekurangannya diferensiasi vertikal dan horisontal apa ya?? trims Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    kelebihan dan kekurangannya diferensiasi vertikal dan horisontalnya apa kak Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    bagaimana diferensiasi jabatan/eselon baik horisontal maupun vertikal yang sederhana namun dapat mudah dan dipahami oleh seseorang Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    contoh gambar diferensiasi horisontal, diferensiasi vertikal, differensiasi spasial Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    kelebihan dan kekurangannyadiferensiasi vertikal dan horisontalnya apa kak Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    mengapa organisasi mermelukan deferensiasi Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apakah ada hubunga dari ketiga kompleksitas diatas? alasannya? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.