Menurut Robbins (1990) diferensiasi
dalam sebuah organisasi dibagi menjadi tiga yaitu diferensiasi
horisontal, diferensiasi vertikal, differensiasi spasial. (1) Diferensiasi Horisontal. Diferensiasi
horisontal merujuk pada tingkat diferensiasi antara unit-unit berdasarkan
orientasi pada anggotanya, sifat dari tugas yang mereka laksanakan, dan tingkat
pendidikan serta pelatihannya. Dapat dikatakan bahwa semakin banyak jenis
pekerjaaan yang ada dalam organisasi yang membutuhkan pengetahuan dan
ketrampilan yang istimewa, semakin kompleks pula organisasi tersebut.
Orientasi yang berbeda akan lebih menyulitkan pada anggota organisasi untuk
berkomunikasi dan menyulitkan manajemen untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan
dalam organisasi. Bukti paling nyata pada organisasi yang
menekankan pada diferensiasi horisontal adalah spesialisasi dan
departemenisasi. (a) Spesialisasi. Spesialisasi merujuk pada pengelompokan
aktivitas tertentu yang dilakukan satu individu. Bentuk spesialisasi yang
paling dikenal adalah spesialisasi fungsional dimana pekerjaan dipecah-pecah
menjadi tugas yang sederhana dan berulang. Spesialisasi fungsional ini dikenal
sebagai pembagian kerja (division of labor). Spesialisasi fungsional
menciptakan kemampuan substitusi diantara para pegawai dan mempermudah penggantiannya
oleh manajemen. Bentuk spesialisasi yang lain adalah spesialisasi sosial,
dimana para individunya yang dispesialisasi, dan bukan pekerjaannya.
Spesialisasi sosial dicapai dengan menggaji tenaga profesional yang mempunyai kemampuan
yang khusus Peningkatan pada salah satu bentuk spesialisasi dapat berakibat
pada peningkatan kompleksitas dalam organisasi karena peningkatan spesialisasi
membutuhkan metode yang lebih mahal dan lebih canggih untuk sarana koordinasi
dan kontrol (Carter dan Keon, 1986). (b) Departementalisasi. Departementalisasi
merujuk pada cara pengelompokan para spesialis. Departementalisasi dapat
diartikan sebagai cara organisasi yang khas dalam mengkoordinasikan
aktivitas yang telah didiferensiasikan secara horisontal (Robbins, 1990).
Departementalisasi merupakan proses dimana organisasi secara struktural
dibagi dalam kombinasi-kombinasi pekerjaan dalam sebuah departemen sesuai
dengan karakteristik atau dasar yang sama. Pengelompokan pekerja dalam grup
kerja membutuhkan koordinasi. Managerial yang krusial perlu ada saat penciptaan
departemen-departemen digunakan sebagai dasar dari pengelompokan pekerjaan. Hal
yang penting dalam menentukan dasar untuk departementalisasi adalah laporan
yang harus diberikan pada top management. Departementalisasi dibagi menjadi
2 tipe yaitu fungsional departementalisasi dan divisional departementalisasi.
Fungsional departementalisasi memberikan kemungkinan pada personel untuk saling
tukar menukar informasi mengenai spesialisasi fungsional mereka dan meningkatkan
kemampuan mereka sehingga perubahan pada semua product line yang melintasi
departemen tertentu membutuhkan reorganisasi dari seluruh departemen.
Sebaliknya divisional department menggunakan aliran kerja secara
berkelompok-kelompok pada puncak organisasi. Masing-masing divisi dapat
bertanggung jawab sendiri pada kebutuhan-kebutuhan dari pasar mereka/lebih
flexible (Wagner III and Hollenbeck,1995). Semakin kompleks organisasi maka organisasi akan
semakin bersifat divisional (Gibson, Ivanchevic, & Donnelly, 2000), (2) Diferensiasi
Vertikal. Diferensiasi vertikal merujuk pada kedalam struktur.
Diferensiasi meningkat demikian pula kompleksitasnya, karena jumlah hierarki di
dalam organisasi bertambah. Makin banyak tingkatan yang terdapat diantara
top management dan tingkat hierarki yang paling rendah, makin besar pula
distorsi dalam komunikasi, dan makin sulit pengambilan keputusan dari pegawai manajerial,
serta makin sukar bagi top management untuk mengawasi kegiatan bawahannya.
Organisasi dengan jumlah pegawai yang sama tidak perlu mempunyai tingkat
diferensiasi vertikal yang sama. Organisasi dapat berbentuk tinggi,
dengan banyak lapisan hierarki, atau mendatar dengan sedikit tingkatan. Faktor
yang menentukan diferensiasi vertikal adalah rentang kendali (span of control).
Rentang kendali menetapkan jumlah bawahan yang dapat diatur dengan efektif oleh
seorang manager (Robbins,1990). Rentang pengendalian harus didefinisikan tidak
hanya meliputi pembagian bawahan secara formal, tetapi juga pada mementukan
siapa yang mempunyai akses ke manager (Mullins,1993). Rentang kendali yang
lebar menunjukkan bahwa manager akan mempunyai banyak bawahan yang melapor
padanya, sedangkan rentang kendali yang sempit menunjukkan bahwa manager
mempunyai sedikit bawahan. Semakin kecil rentang kendalinya, maka semakin
tinggi organisasinya. Rentang Kendali yang sempit menciptakan diferensiasi
vertikal yang tinggi serta organisasi yang tinggi. Struktur yang
tinggi memberikan supervisi dan kontrol yang berorientasi pada atasan yang
lebih ketat dan koordinasi dan komunikasi yang menjadi rumit karena banyaknya
lapisan yang harus dilalui perintah-perintah. Struktur yang datar memiliki
rantai komunikasi yang lebih singkat dan lebih sederhana, dengan peluang
supervisi yang lebih sedikit karena tiap manager mempunyai banyak orang yang
melapor padanya dan mengurangi peluang kenaikan jabatan karena tingkat
manajemen lebih sedikit (Robbins, 1990). Diferensiasi vertikal dapat ditinjau
dari jumlah tingkat dalam divisi-divisi tunggal yang terdalam dari organisasi,
dan jumlah rata-rata tinggkat organisasi secara keseluruhan
(Paramita, 1985) Jumlah hubungan antar personel antara manager dan bawahan
meningkat secara geometrik sedangkan jumlah dari bawahan meningkat secara
aritmatik. Hubungan ini terjadi karena manager secara potensial dihadapkan pada
tiga tipe hubungan yaitu hubungan perorangan langsung, hubungan pada kelompok
secara langsung dan hubungan silang. Hubungan perorangan secara langsung
terjadi antara manager dan masing-masing bawahan secara individual (one-on-one),
hubungan pada kelompok secara langsung terjadi antara manager dan masing-masing
permutasi bawahan yang mungkin terjadi, dan hubungan silang terjadi ketika
bawahan berinteraksi antara satu dengan lainnya (Mullins,1993). (3) .
Diferensiasi Spasial. Diferensiasi spasial merujuk pada tingkat sejauh mana
lokasi kantor, pabrik, dan personalia sebuah organisasi tersebar
secara geografis. Organisasi yang tersebar secara geografis akan semakin
tinggi kompleksitasnya. Elemen diferensiasi spasial memperhatikan dua hal yaitu
jarak maupun jumlah. Diferensiasi spasial dapat dilihat sebagai perluasan dari
diferensiasi horizontal dan diferensiasi vertikal (Robbins, 1990).