Gajah mati meninggalkan gading,
macan
mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama dan ilmunya.
Itulah yang terjadi pada Peter F Drucker.
Meski dia telah di alam kubur sejak
empat tahun silam, namun ilmunya tak kunjung padam. Kematiannya dalam usia 95
tahun, 11 November 2005, tak membuat orang melupakan pemikiran-pemikirannya.
Pandangan-pandangannya memang memiliki karakter tersendiri. Terlebih
setelah diluncurkannya buku perdananya, The End of Economic Man sekitar tahun 1939,
namanya kian melambung. Sebutan sebagai analis politik, ekonomi, dan sosial
yang tegas, tidak ortodoks, dan independent pun disandangkan kepadanya. Bahkan
pemikiran-pemikirannya tentang bisnis besar dan lembaga nirlaba mengarahkannya
sebagai penemu teori manajemen modern dan sosial.
Dalam buku ini, Drucker menyoroti
secara khusus peran eksekutif dalam menjalankan roda perusahaan. Dia mendefinisikan eksekutif sebagai
individu pekerja pengetahuan (knowledge worker) yang ada dalam organisasi
modern. Jadi, menurutnya, setiap orang yang bertanggung jawab memberikan
kontribusi dan secara material memengaruhi jalannya organisasi serta hasilnya
adalah eksekutif.
Jadi, posisi eksekutif tidaklah dibatasi oleh jabatan. Dia bisa merupakan
orang yang memiliki otoritas dan pengaruh besar. Tetapi bisa juga orang yang
baru saja dicopot dari jabatannya. Kata kuncinya adalah tanggung jawab dalam
memberikan kontribusi dalam organisasi.
Lantas bagaimana untuk menjadi eksekutif yang efektif? Menurut Drucker, untuk
mencapainya tidak dibutuhkan bakat, kemampuan, dan pelatihan khusus. Tidak juga
mengharuskan untuk menjadi seorang kharismatik atau memiliki kepribadian
tertentu.
Efektivitas, menurutnya, adalah bidang ilmu yang bisa dipelajari siapa
pun dan berlatih untuk menerapkannya.
Untuk itu, Drucker menyarankan lima latihan yang perlu dijalankan untuk
menjadi eksekutif yang efektif, yakni mengelola waktu, menentukan kontribusi
apa yang bisa dilakukan bagi organisasi, mengetahui bagaimana dan dimana
mengerahkan kekuatan untuk hasil terbaik, menyusun prioritas secara tepat, dan
merangkum semuanya dalam pengambilan keputusan yang efektif.
Dalam buku ini Drucker mencontohkan
Alfred Sloan saat memimpin General Motors tahun 1920-an hingga 1950-an. Sloan
selalu menyampaikan tujuan rapat saat memulai rapat. Dia lantas mendengarkan,
tidak mencatat, dan bahkan sedikit bicara kecuali meminta penjelasan atas
sesuatu yang membingungkan. Pada akhir rapat, Sloan merangkum, mengucapkan
terima kasih, lantas meninggalkan ruangan rapat. Tahap selanjutnya, dia membuat
memo untuk semua peserta rapat. Isinya berupa rangkuman dan kesimpulan rapat,
seraya menyebutkan setiap tugas masing-masing sebagaimana hasil keputusan
bersama. Dalam memo itu dia juga menulis khusus tentang tenggat dan orang yang
bertanggung jawab atas maisng-masing tugas. (*)