• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

.

Perkebunan Pada Masa Kolonialis

oleh : kepitingangin    

Pengarang : Team Sejarah Perkebunan Negara


 Perkebunan memang sudah banyak bermunculan pada sekitar abad ke-15 dan 16. Namun terjadi perkembangan

terhadap perkebunan yang sangat luar biasa pada pertengahan abad ke-19 sampai 20 ―yaitu saat penanam modal dari Barat datang. Perlonjakkan dalam hal perkebunan ini tentunya menimbulkan berbagai pengaruh-baik pengaruh positif maupun negatif. Satu yang mengecewakan, elite-pejabat-pejabat-pribumi pun mengkhianati masyarakatnya sendiri dengan membantu musuh negaranya hanya demi keuntungan ganda yang mereka terima. Tapi, mungkin mereka juga tidak dapat sepenuhnya disalahkan, karena jika mereka melawan, mereka mungkin akan dimusnahkan. Hal itu semakin memperkuat birokrasi pada masa itu sehingga aspek-aspek selain itu tidak terlalu diperhitungkan. Di samping itu, ternyata ada juga para elite lokal yang dengan teguh mempertahankan nasionalismenya dengan tidak menuruti para penguasa kolonial. Sementara itu, lingkungan perkebunan pada masa itu terbagi menjadi dua lingkungan dimana lingkungan tersebut terdapat paling banyak di Jawa. Dalam lingkungan pertama ini, keterlibatan langsung penduduk setempat sebagai tenaga kerja sangat intensif. Bukan hanya laki-laki dewasa yang dilibatkan, tetapi juga wanita dan anak-anak. Pada saat ini diperkirakan terjadi penekanan yang cukup besar pada ekonomi desa sehingga wanita dan anak-anakpun akhirnya dijadikan tenaga kerja. Sepertinya, pada masa kolonial, para penguasa harus gencet sana-sini demi memuaskan ekonomi negara mereka. Pada saat yang sama, penduduk juga mampu memanfaatkan teknologi baru dan kesempatan kerja sebaik-baiknya. Hal ini menunjukkan pada saat itu, masyarakat menunjukkan pola pikir yang cukup kritis. Bukan ikut-ikut saja. Lingkungan kedua banyak terdapat di Sumatera dan Kalimantan. Terjadi pemisahan antara perkebunan sebagai pusat produksi komoditi untuk pemenuhan kebutuhan pasar dunia dengan lahan penduduk untuk menanamkan kebutuhan pangannya. Sudah jelas kebutuhan pasar dunia jauh lebih penting dari kebutuhan penduduk setempat. Jika mau dikata, keadaan penduduk setempat sangat memprihatinkan. Tidak seperti kita, mereka tidak bisa memperjuangkan hak mereka. Beberapa dari mereka bahkan hidup hanya untuk menjalankan kewajibannya. Berbeda dengan elite di lingkungan pertama, elite di lingkungan kedua tidak bisa mengerahkan tenaga kerja di bawah kekuasaannya sehingga membuat elite di lingkungan kedua terlihat tidak penting. Selain itu, terjadi juga kebutuhan akan tenaga kerja luar ―juga tenaga kerja kontrak. Pada lingkungan pertama, kehadiran pendatang sangat terbatas namun tinggalnya menetap. Berbeda dengan lingkungan kedua, banyak sekali pendatang yang masuk namun tinggalnya tidak menetap. Hal tersebut juga dipicu oleh digunakannya tenaga kerja dari luar. Dua lingkungan tersebut telah membentuk sebuah kultur komuntitas perkebunan. Di sisi lain, keadaan ekonomi rakyat kecil pada masa itu sangatlah memprihatikan. Hal itu disebabkan oleh kecilnya pengaruh kelompok masyarakat tersebut dan besarnya pengaruh kelompok swasta. Hal tersebut menggambarkan bahwa masyarakat dalam negri belum mampu melawan kekuasaan yang berasal dari luar meskipun kekuasaan tersebut dipaksakan kepada mereka. 


Diterbitkan di: Februari 03, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.