Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

PERUBAHAN (CHANGE)

oleh: musTrays     Pengarang : Rhenald Kasali Ph. D
ª
 
Tak Peduli Berapa Jauh Jalan Salah yang Telah Anda Jalani, Putar Arah Sekarang Juga. Thomas Robert Malthus (1778) menulis hasil penelitiannya bahwa The power of population akan tumbuh jauh melebihi kemampuan the power in earth untuk menghasilkan makanan bagi manusia. Hal ini memecah sikap rakyat Inggris ke dalam dua kelompok, yakni kaum pesimis dan kaum optimis. Kaum pesimis hanya berkutat dalam keributan, maki-makian terhadap kerajaan, dan menyuarakan ketakutan-ketakutan. Sementara kamu optimis meneruskan kerja dan membiarkan hidupnya masuk dalam kotak zona ketidaknyamanan (discomfort zone). Mereka melakukan serangkaian penelitian, dan bertindak cermat untuk menyelamatkan kehidupan. Berkat orang-orang optimis itulah, ramalan Malthus tidak terbukti. Inggris berhasil keluar dari ancaman kekurangan pangan bagi umat manusia melalui tiga jendela besar, yakni emigrasi dengan teknologi transportasi laut, revolusi pertanian, dan revolusi industri (Kennedy, 1993). Alinea di atas mengawali buku berjudul ”Change” karya Rhenald Kasali, Ph.D. dalam Pendahuluannya. Selanjutnya buku ini mengalir menceritakan bagaimana perubahan terjadi di Ubud, Bali, dan adanya reformasi budaya di Universitas Indonesia. Perubahan juga terjadi di dunia usaha, seperti di Indofood dan Unilever yang harus bekerja ekstra keras mempertahankan pertumbuhannya, karena hadirnya pemain-pemain baru yang sangat agresif yang dulu tak terbayangkan kehadirannya. Perubahan juga terjadi di dunia penerbangan Indonesia dengan hadirnya Lion Air dan Air Asia. Di dunia internasional, pemain-pemain baru juga telah memporak-porandakan pemain-pemain tradisional. Menggambarkan kondisi tersebut Rhenald Kasali menyebut bahwa “Tidak ada kata lain dalam ilmu manajemen atau praktek bisnis yang begitu magis dan misterius selain kata change”(hal. xxxii). Ada beberapa karakteristik perubahan, yakni: Misterius, karena tidak mudah dipegang. Perlu adanya change maker(s). Tidak semua orang bisa diajak melihat perubahan. Perubahan terjadi setiap saat, karena itu perubahan harus diciptakan setiap saat pula, bukan sekali-sekali. Ada sisi keras dan sisi lembut dari perubahan. Sisi keras termasuk uang dan teknologi, sedang sisi lembut menyangkut manusia dan organisasi. Perubahan membutuhkan waktu, biaya dan kekuatan. Perlu upaya-upaya khusus untuk menyentuh nilai-nilai dasar organisasi (budaya korporat). Perubahan banyak diwarna oleh mitos-mitos, yakni: Perubahan selalu ditandai dengan kehidupan yang lebih baik. Perubahan hanya dapat dilakukan oleh orang muda. Perubahan hanya dilakukan bila ada masalah serius. Saya diangkat untuk melanjutkan hal-hal yang telah dirintis para pendahulu saya. Perubahan berarti PHK. Pemimpin bijak tdak akan membiarkan pengikutnya terus-menerus hidup dalam mitos. Mereka harus diajak melihat apa yang dilihat pemimpinnya dengan jelas dan belajar hidup dalam alam yang lebih realistis. Perubahan menimbulkan ekspekstasi, harapan dan bisa menimbulkan kekecewaan. Untuk itu, maka manajemen perubahan harus diimbangi dengan manajemen harapan. Harapan yang tidak tercapai bisa saja tidak menimbulkan kekecewaan, karena pada dasarnya manusia punya daya nalar. Sebagaimana Teori Atribusi yang menjelaskan bagaimana sikap ingin tahu bisa menemukan kesadaran baru melalui dimensi Locus of control, durasi, dan kemampuan mengendalikan penyebab tidak tercapainya harapan. Di sinilah perlunya pemimpin mengomunikasikan upaya-upaya yang telah dilakukan dan menjelaskan penyebabnya. Dengan begitu audience bisa diajak lebih memahami dan mengendalikan harapan-harapannya. Perubahan selalu menakutkan dan menimbulkan kepanikan-kepanikan. Seperti Inggris yang memilih untuk berubah, Indonesia juga harus memilih untuk berubah sendiri, bukan diubah. Dimulai dari tatanan mikro, dunia usaha, diikuti oleh sektor makro, birokrasi yang sehat. Tetapi berubah bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk bergerak manusia harus diajak melihat dan memercayai bahwa sesuatu telah berubah. Sehari-hari manusia akan berselancar pada Sigmoid Curve, dan untuk menikmati perubahan, manusia harus melompat dari satu kurva ke kurva baru. Berpindah dari comfort zone ke discomfort zone. Ini berarti manusia harus berperang melawan naluri-nalurinya, melawan sejarah hidupnya. Bila tak kuasa, ibarat pepatah, benda yang tak lentur mudah patah. Untuk melompat ke kurva ke dua, kita diajak untuk menggunakan teknik dan seni yang tinggi, seperti dilakukan nabi-nabi besar yang menciptakan perubahan dengan menghadapi cobaan-cobaan. Mereka bekerja dengan hati, mengajak orang-orang melihat, mempercayainya, bahkan menyelesaikan perubahan itu dengan sepenuh hati. Dengan pesta perubahan yang menyenangkan. Bukan dengan cacian dan makian. Meskipun buku ini tebalnya 428 halaman, tetapi menelusuri dari satu halaman ke halaman berikutnya rasanya tidak membosankan. Selain karena memuat cerita atau kasus-kasus riil yang memang biasanya lebih menarik orang untuk menyimaknya, pilihan kata-katanya juga mudah dicerna, disamping layout dan ilustrasi yang memang cukup mendukung. Kelihatannya perubahan memang masih menarik dan kelihatannya selalu akan menarik untuk dibahas selama masih ada kehidipan. Seperti kata Evelyn Waugh: ”Perubahan adalah Pertanda Kehidupan”.
Diterbitkan di: 11 Maret, 2008   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.