Antara tahun 1930 sampai dengan tahun 1940 an terjadi depresi yang berdampak hebat sehingga bank-bank mengalami krisis
likuiditas. Saat itu menggema asumsi semua kewajiban bank dari berbagai
sumber digabung
dan diperlakukan sebagai sumber dana tunggal mengabaikan karakteristik individual. Dan lantas dana tunggal dialokasikan berdaarkan prioritas penggunaan sesuai kebijakan serta strategi manajemen juga harus pula memenuhi ketentuan-ketentuan bank sentral. Prioritas pertama dialokasikan untuk
cadangan primer, setelah cadangan primer barulah cadangan sekunder memperoleh perhatian sebagai anak tiri.
Bukan, bukan maksud menilai melainkan demi pengetahuan. Pendekatan yang telah dideskripsikan mengaburkan kenyataan bank mampu untuk memperoleh laba dari operasionalnya. Juga, mengabaikan peran interkasi aktiva dengan pasiva dalam penyediaan likuiditas musiman, memperkecil peranan cadangan sekunder, mengabikan likuiditas dari portfolio kredit lewat pembayaran cicilan dan bunga berkesinambungan,
tidak terdapat pertimbangan perubahan giro deposito tabungan serta sumber-sumber lainnya. Akhirnya ditemukan adalah iya tidak terlupakan penghitungan biaya dana relative simple dilakukan dimana pengelolaannya pun tidak rumit membuat pusing kepala
tujuh keliling. Tapi ini tidak berarti saat itu obat sakit kepala
bintang tujuh tidak laku keras terjual. Emm.mh emangnya bintang tujuh ada karena apa pak Iman ? canda pak Hendra Wiguna sambil tetrsenyum. Ada karena bintang lima dan bintang kedjora dikenal.
Resensi lain tentang Pendekatan MAP Era 30, 40