Menjadi
penulis itu tak mudah. Bohong besar jika ada yang mengatakan
bahwa
menulis (yang baik) itu gampang.
Ia menuntut ketekunan untuk
menggali ide, kepiawaian merangkai kata demi kata, kemudian kesediaan
untuk merenungkan maknanya. Itu saja belum cukup. Menulis butuh tekad
yang kuat
dan kemauan keras untuk terus mencoba, menulis dan menulis,
mengulang dan mengulangnya kembali hingga akhirnya menemukan kepuasan.Apalagi
jika anda hendak menjadikan aktivitas menulis sebagai jalan
hidup. Menggantungkannya sebagai mata pencaharian (professional). Maka
jauh-jauh hari anda harus siap untuk hidup susah. Tertekan, baik lahir
maupun bathin. Rela menahan lapar karena tulisan tak kunjung dimuat di
surat kabar atau diterbitkan dalam
buku, menahan kantuk bermalam-malam,
dan bahkan rela untuk hidup sendiri menjauh dari keramaian. Sungguh ini
pilihan yang tidak mengenakkan!Tapi itulah
jalan yang dipilih Erskine Cadwell, cerpenis dan novelis besar Amerika
Serikat. Erskine memilih jalan itu dengan sadar, bukan terpaksa karena
tak memiliki pekerjaan, misalnya. Ia justru mengambil
keputusan untuk
menjadi penulis fiksi professional ketika karir wartawannya tengah naik
daun, ketika kerjanya mendapat pujian dari atasan. Bagi orang awam,
jelas itu sebuah keputusan yang sangat mengejutkan. Sebagian orang
mungkin akan menyebut keputusan itu tidak rasional.Hunter Bell,
redaktur di The Atlanta Journal, tempat Erskine mulai meniti karir
jurnalistik profesionalnya, menasehatinya agar mengurungkan niatnya.
Hunter memberikan gambaran sebuah masa depan suram bagi mereka yang
tidak beruntung dalam hidup yang berharap dapat hidup, makan, dan
berjalan di muka bumi tanpa memiliki pekerjaan tetap. Hunter berharap
Erskine akan berubah pikiran.Namun Skinny—begitu ia biasa
disapa oleh rekan kerjanya-- sudah membulatkan tekad. Siang itu,
setelah ia menerima jamuan makan dari Fred Houser, manajer The Atlanta
Convention and Tourist Bureau, atas liputannya yang memuaskan, dia
menegaskan keputusannya. Ia ingin menjadi penulis fiksi profesional.Sebenarnya
jika dirunut keputusan nekad Erskine itu terpicu oleh Peggy Mitchel,
seorang perempuan dengan personalitas menarik dan memiliki wajah cantik
menurut ukuran Erskine, yang rela meninggalkan karir jurnalistiknya
setelah bekerja selama sepuluh tahun di The Atlanta Journal.
Bagaimanapun Peggy berhasil menerbitkan bukunya Gone With The Wind.
Erskine mengaguminya karena kepercayaan dirinya untuk melepas pekerjaan
demi menulis sebuah buku. Dia bertanya pada dirinya sendiri, mampukah
aku suatu saat membuat keputusan serupa?Hari itu dia
benar-benar menantangnya, ingin membuktikan kepada dirinya sendiri
bahwa dirinya juga bisa hidup dari menulis fiksi.
Resensi lain tentang Menulis adalah Jalan Hidupku