Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Bisnis & Keuangan>Investasi>Pangsa Pasar Kartu Kredit di Indonesia

Pangsa Pasar Kartu Kredit di Indonesia

oleh: HajiJatmiko     Pengarang : Semut Kroto
ª
 
Negara-negara maju dan kota-kota besar di dunia merupakan target pasar kartu kredit secara global karena memang produk kartu kredit dibutuhkan. Selain itu salah satu poin penetrasi pasar lainnya adalah melihat jumlah penduduk di negara atau kota tersebut. Indonesia yang menempati urutan ke-5 dari populasi negara terpadat di dunia, tentu menjadi pangsa pasar yang sangat menggiurkan untuk bisnis apapun termasuk bisnis kartu kredit. Dengan total katakanlah 250 juta penduduk di tahun 2012, dan andaikan bank beserta afiliasinya bisa menjangkau 10%-nya saja, itu sudah merupakan lahan bisnis yang begitu luar biasa. Mengapa bisa saya katakan demikian? Anda bisa menemukan jawabannya di bawah ini.

Pangsa Pasar Kartu Kredit di Indonesia

Kami ingin mengajak Anda untuk memikirkan satu hal: mengapa bank-bank yang ada begitu gencar memasarkan kartu kreditnya atau ikut beramai-ramai terjun ke bisnis kartu kredit? Semua ini bukan semata-mata karena tuntutan tren, teknologi atau manfaat kartu kredit bagi masyarakat, melainkan karena potensi keuntungan yang bisa dikeruk sedemikian rupa. Coba Anda simak penjelasan di bawah ini:

Tahun 1990 jumlah kartu kredit yang beredar di Indonesia tercatat ada sekitar 300.000 lembar. Tujuh tahun kemudian (1997), menurut catatan AKKI (Asosiasi Kartu Kredit Indonesia) jumlahnya naik mencapai 1,8 juta lembar dengan perincian: 1.000.000 lembar (VISA), 700.000 lembar (MasterCard), sisanya AMEX, JCB, Diners Club, dsb. Volume transaksi juga meningkat tajam dari Rp 790 miliar di tahun 1990 menjadi Rp 7,6 triliun pada tahun 1996.
Tahun 2001 pemegang kartu kredit naik menjadi 3,4 juta orang dengan transaksi sebesar 50 juta transaksi. Saat ini melonjak melebihi 117 juta transaksi atau 216 transaksi kartu kredit setiap hari. Maksudnya ya digunakan untuk gesek berbelanja atau membayar ini dan itu melalui kartu kredit. AKKI mengemukakan terjadinya peningkatan jumlah kartu kredit yang beredar menjadi 8,7 juta lembar kartu per September 2007 dengan total nilai kredit sebesar Rp 25,2 triliun. Di tahun 2010 ini menurut data Bank Indonesia, jumlah transaksi kartu kredit sudah melebihi Rp 163,2 triliun, dengan kata lain naik 2,5 kali lipat dari tahun 2007 yang hanya mencapai Rp 72,6 triliun. Wow! Uniknya lagi, tren ini lebih besar didorong oleh bank-bank nasional terutama bank-bank berplat merah (BUMN). Karena bank BUMN juga tidak mau menyia-nyiakan pangsa pasar kartu kredit ini. Bisa Anda bayangkan? Dengan transaksi seperti itu, berapa keuntungan yang bakal diraih bank dan berapa kaya bankir-bankir Indonesia? Anda hitung sendiri nanti.

Pasar Potensial Kartu Kredit Indonesia

Berbicara soal marketing, pasar berarti jumlah keseluruhan penduduk yang ada di suatu tempat. Sedangkan pasar potensial adalah jumlah dari keseluruhan penduduk yang ada yang dimungkinkan untuk memiliki kartu kredit (konsumen). Secara konsep maka semua penduduk pasti membutuhkan kartu kredit pada suatu hari. Sebab kartu kredit memiliki keunikan dan kelebihan yang tidak dimiliki semua kartu lainnya termasuk transaksi tunai. Data-data yang disebutkan di atas adalah data tahun 2010. Saat ini kita sudah menapak 2012 dan akan menuju tahun 2013, di mana sudah pasti angkanya terus meningkat. Ada kemungkinan jumlah kartu yang beredar sudah menembus 12 juta lembar yang tentunya setiap nasabah bisa memiliki lebih dari 3 kartu kredit.

Kalau Anda mau tahu, sebenarnya yang dibidik pihak perbankan bukan seberapa banyak jumlah kartu kredit yang beredar. Mereka tahu bahwa seseorang mungkin saja memiliki lebih dari 3 kartu kredit bahkan lebih karena persaingan industri kartu kredit itu sendiri. Yang lebih dikejar oleh perbankan adalah pasar potensial (potential market) itu sendiri. Pasar potensial ini terus membesar seiring kebijakan pemerintah di era demokrasi dan reformasi ini. Di daerah-daerah sejak otonomi daerah diberlakukani banyak muncul orang-orang kaya atau pengusaha-pengusaha baru terutama daerah yang sumber daya alamnya melimpah. Otomatis mereka-mereka inilah yang menjadi pasar potensial buat bisnis kartu kredit. Bankir sudah lama tahu mengenai hal-hal seperti ini dan mereka memiliki jalur koneksi ke dalam pemerintahan untuk bisa membaca berbagai kebijakan yang akan diterapkan pemerintah di masa yang akan datang. Jalur bankir itu adalah BI, menko ekuin dan menperindag, HIPMI, KADIN, dsb.

Bankir tahu bahwa dari total jumlah penduduk yang katakanlah 250 juta jiwa, pasar yang memungkinkan bisa berkisar dari 10% - 25% yang menyebar di seluruh kota Indonesia. Katakanlah kita tidak perlu muluk-muluk cukup 10% saja maka total pemilik dan pengguna kartu kredit di Indonesia ada kurang lebih 25 juta nasabah. Lalu apa pengaruhnya? Begini:

Katakanlah dari total transaksi yang disebutkan di atas yakni Rp 163,2 triliun, pihak bank memanen keuntungan fee 1% saja dari penyediaan mesin gesek, berapa keuntungan bank itu sendiri? Kurang lebih ada sekitar Rp 1,6 triliun yang masuk ke kantong bankir. Harap Anda ingat bahwa persenan fee 3% yang sering Anda temui tiap transaksi gesek kartu kredit, itu sebagian dimakan oleh merchant. Dari bank tidak setinggi itu dan bisa 0,5% - 2%. Kita ambil rata-ratanya saja yakni 1%. Apakah penghasilan Rp 1,6 triliun itu sangatlah kecil? Makanya sekarang Anda tahu mengapa banyak orang ingin mendirikan bank, mengapa orang ingin kawin sama anak bankir, mengapa banyak pejabat mengincar kursi komisaris atau direktur bank BUMN, dsb. Ujung-ujungnya kembali ke soal nilai nominal fulus.

Kita ilustrasikan saja dari biaya iuran tahunan yang katakanlah kita ambil per kartu cukup Rp 100.000. Kita kesampingkan dulu antara kartu jenis silver, golddan platinum. Jika bank bisa menguasai 10% pangsa pasar katakanlah 25 juta nasabah, ini berarti keuntungan rutin per tahun sebuah bank adalah Rp 2,5 triliun. Itu rutin sampai kiamat! Itu cuma 10% saja loh pangsa pasar yang kita andaikan. Padahal saat ini dengan kemajuan teknologi Internet, belanja online,marketing online dan otonomi daerah, sudah pasti nasabah kartu kredit semakin meningkat dan proses penetrasi pasar semakin mudah.

Diterbitkan di: 15 April, 2013   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.