Saat ini tidak lagi sulit mencari tempat
nongkrong yang punya pretise-ekonomi atau gengsi. Produksi dalam dinamika
globalisasi membuat orang tidak lagi sekadar mengonsumsi objek, melainkan
konsumsi makna. Konsumen memilih komoditas yang punya branding di mata masyarakat. Dari prestise itulah muncul keramaian
di tempat-tempat tertentu yang bisa dijadikan tempat nongkrong. Tempat-tempat
bergengsi telah menjamur.
J.Co,
Starbucks, dan terakhir 7Eleven. Tiga nama “branding” yang sering kita temui.
Banyak lagi di luar ketiga “branding” itu yang mudah kita temui di beberapa
kota, bahkan di kota-kota tertentu jarak antar lokasi tidak jauh. Kemudian,
konsumen pun merasa diuntungkan dengan menjamurnya tempat-tempat seperti itu,
dengan alasan jangkauannya efisien. Di sisi lain, maraknya konsumen
berduyung-duyung ke tempat seperti itu merupakan target C3000 (consumen 3000). Istilah “C3000” ditujukan untuk pertumbuhan segmen kelas
menengah, dalam pencapaian Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar $3000.
Selain branding, kepraktisan pemesanan serta fasilitas-fasilitas lainnya
pun mendukung kunjungan konsumen. Misalnya, bila ke 7Eleven Anda akan disuguhi
keju cair secara cuma-cuma. Tempat berselancar dunia maya pun tersedia dengan
disediakannya jaringan akses internet.
Di lain pihak, Menko Prekonomian
Hatta Rajasa menegaskan akan menjaga daya beli masyarakat melalui APBN 2012.
Diperkirakan oleh besan Presiden ini daya beli
masyarakat atau sharing dari belanja
masyarakat terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) masih tinggi pada angka 55
persenan. Sama seperti tahun ini, 2011. Daya beli ini juga ditopang
penghasilan/pendapatan masyarakat. Regulasi pendapatan itu ada pada UMK/UMR. Secara
akumulatif tiap tahunnya pun, konsumsi di Indonesia terus meningkat.
Pengembang bisnis waralaba pun
melirik pasar Indonesia. Tujuannya tidak lain mencari pasar strategis dan
memiliki daya beli yang cukup baik, seperti Indonesia. Ketua Komite Tetap
Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Amir Karamoy mengemukakan beberapa tahun
terakhir terjadi peningkatan masuknya waralaba asing, termasuk dari AS. Kondisi
ekonomi AS yang belum pulih membuat pelaku waralaba AS mencari pasar baru
seperti Asia.
Pada tahun 2010 tercatat terdapat 13 warabala
asing yang mendapaftar di Indonesia. Sementara itu, Ketua Umum Wali (Perhimpunan
Waralaba dan Lisensi Indonesia) Lepita Supit mengatakan pertumbuhan waralaba di Indonesia,
asing maupun lokal terus berkembang. Hingga 2010, Wali mencatat setidaknya
sudah ada 1.198 waralaba di Indonesia termasuk asing. Waralaba asingnya
mencapai 28%.
Keseluruhannya omzet penjualan mencapai Rp 114 triliun.
Franchisor (istilah
pemodal waralaba) pun datang berduyun-duyun ke Indonesia. Pada akhir tahun ini, Desember
2010, Indonesia kedatangan franchisor dari
AS. Kedatangan itu menggaet para investor lokal untuk bekerja sama.
Ada 16 merek waralaba yang mandaftar akhir
menjelang akhir tahun ini. Franchisor
ini didominasi oleh jenis makanan yang telah menjadi primadona bagi pasar di
Indonesia sejak tiga tahun ke belakang. Salah satu franchisor telah menginjakkan sebelah kakinya di Indonesia.
Waralaba itu adalah Johnny Rockets. Johny Rockets telah
mendapatkan izin.
Johnny Rockets juga menandatangani Memorandum
of Understanding (MOU) dengan Sahid Group untuk membawa merek restoran AS
terkenal tersebut ke Indonesia. Outlet pertamanya dibuka di Bali. Johnny Rockets dibawa oleh
PT Rianti Investama Internasional. Sementara itu, keenambelas merek waralaba
itu dibawa 12 perusahaan yang tergabung dalam tergabung Misi Perdagangan Franchise
Times/International Franchise Association/U.S. Commercial Service Trade
Mission yang pertama kalinya datang ke Indonesia. Pada tanggal 12-13
(Desember) kemarin telah didatangkan delegasi ke Indonesia.
Keenam
belas waralaba itu adalah Applebee’s, Denny’s, Johnny Rockets, Carvel Ice Cream,
Cinnabon, Schlotzsky’s, Moe’s Southwest Grill, Great American Cookies, Marble
Slab Creamery, Pretzelmaker, Pollo Tropical, Rita’s Italian Ice, Which Wich, Wing
Zone, Crestcom (waralaba pelatihan kepemimpinan), dan The Vitamin Shoppe.
Waralaba AS kali ini tidak jauh berbeda
dari kedatangan 7Eleven. Pada akhir 2009 7Eleven mendapatkan izin
mengembangkan bisnis waralaba di Indonesia, hingga kini kian menjamur di
beberapa tempat strategis yang tingkat daya beli dan ekonominya di atas
rata-rata. Kedatangan warabala AS ini ke Indonesia seakan meneropong
keberhasilan 7Eleven.
Target konsumsinya cukup menjanjikan. Liat saja
populasi penduduk di Indonesia. Populasi Indonesia telah mencapai 250 juta
jiwa. Ditopang pula dengan daya konsumsi tadi. Bisnis ini cukup menjanjikan
bagi franchisor AS. Kedatangan
waralaba AS ini pun mendapat respon dari Sekretaris Jenderal Gabungan
Pengusaha Makanan dan Minuman, Franky Sibarani, yang menyatakan bahwa
seharusnya pemerintah lebih mengutamakan pelaku waralaba lokal.
Maka, bersiap-siaplah
Anda menebalkan saku demi menghadapi menjamurnya outlet waralaba yang
didominasi oleh waralaba asing. Apalagi waralaba pada jenis makanan. Keberagaman
jenis makanan dari pihak asing mungkin saja terasa asing bagi perut kita, tapi
itulah serbuan waralaba yang akan kita hadapi. Tahun 2012 dan 2013 beberapa
outlet baru akan dibuka, dan semakin mudahlah kita menemukan tempat nongkrong
yang bergengsi dengan suasana terbuka (outdoor)
maupun berdinding transparan.
Fredy Wansyah
(majalah Mimbar Politik)