Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Bisnis & Keuangan>Bisnis Internasional>Franchisor Amerika Meneropong Indonesia

Franchisor Amerika Meneropong Indonesia

oleh: ucokpengembara     Pengarang : Fredy Wansyah
ª
 

Saat ini tidak lagi sulit mencari tempat nongkrong yang punya pretise-ekonomi atau gengsi. Produksi dalam dinamika globalisasi membuat orang tidak lagi sekadar mengonsumsi objek, melainkan konsumsi makna. Konsumen memilih komoditas yang punya branding di mata masyarakat. Dari prestise itulah muncul keramaian di tempat-tempat tertentu yang bisa dijadikan tempat nongkrong. Tempat-tempat bergengsi telah menjamur.

J.Co, Starbucks, dan terakhir 7Eleven. Tiga nama “branding” yang sering kita temui. Banyak lagi di luar ketiga “branding” itu yang mudah kita temui di beberapa kota, bahkan di kota-kota tertentu jarak antar lokasi tidak jauh. Kemudian, konsumen pun merasa diuntungkan dengan menjamurnya tempat-tempat seperti itu, dengan alasan jangkauannya efisien. Di sisi lain, maraknya konsumen berduyung-duyung ke tempat seperti itu merupakan target C3000 (consumen 3000). Istilah “C3000” ditujukan untuk pertumbuhan segmen kelas menengah, dalam pencapaian Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar $3000.

Selain branding, kepraktisan pemesanan serta fasilitas-fasilitas lainnya pun mendukung kunjungan konsumen. Misalnya, bila ke 7Eleven Anda akan disuguhi keju cair secara cuma-cuma. Tempat berselancar dunia maya pun tersedia dengan disediakannya jaringan akses internet.

Di lain pihak, Menko Prekonomian Hatta Rajasa menegaskan akan menjaga daya beli masyarakat melalui APBN 2012. Diperkirakan oleh besan Presiden ini daya beli masyarakat atau sharing dari belanja masyarakat terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) masih tinggi pada angka 55 persenan. Sama seperti tahun ini, 2011. Daya beli ini juga ditopang penghasilan/pendapatan masyarakat. Regulasi pendapatan itu ada pada UMK/UMR. Secara akumulatif tiap tahunnya pun, konsumsi di Indonesia terus meningkat.

Pengembang bisnis waralaba pun melirik pasar Indonesia. Tujuannya tidak lain mencari pasar strategis dan memiliki daya beli yang cukup baik, seperti Indonesia. Ketua Komite Tetap Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) Amir Karamoy mengemukakan beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan masuknya waralaba asing, termasuk dari AS. Kondisi ekonomi AS yang belum pulih membuat pelaku waralaba AS mencari pasar baru seperti Asia.

Pada tahun 2010 tercatat terdapat 13 warabala asing yang mendapaftar di Indonesia. Sementara itu, Ketua Umum Wali (Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia) Lepita Supit mengatakan pertumbuhan waralaba di Indonesia, asing maupun lokal terus berkembang. Hingga 2010, Wali mencatat setidaknya sudah ada 1.198 waralaba di Indonesia termasuk asing. Waralaba asingnya mencapai 28%. Keseluruhannya omzet penjualan mencapai Rp 114 triliun.

Franchisor (istilah pemodal waralaba) pun datang berduyun-duyun ke Indonesia. Pada akhir tahun ini, Desember 2010, Indonesia kedatangan franchisor dari AS. Kedatangan itu menggaet para investor lokal untuk bekerja sama.

Ada 16 merek waralaba yang mandaftar akhir menjelang akhir tahun ini. Franchisor ini didominasi oleh jenis makanan yang telah menjadi primadona bagi pasar di Indonesia sejak tiga tahun ke belakang. Salah satu franchisor telah menginjakkan sebelah kakinya di Indonesia. Wa­ra­laba itu adalah Johnny Rockets. Johny Rockets telah mendapatkan izin. Johnny Rockets juga menandatangani Memorandum of Understanding (MOU) dengan Sahid Group untuk membawa merek restoran AS terkenal tersebut ke Indonesia. Outlet pertamanya dibuka di Bali. Johnny Rockets dibawa oleh PT Rianti Investama Interna­sional. Sementara itu, keenambelas merek waralaba itu dibawa 12 perusahaan yang tergabung dalam tergabung Misi Perdagangan Fran­chise Times/International Fran­chise Association/U.S. Commer­cial Service Trade Mission yang pertama kalinya datang ke Indo­nesia. Pada tanggal 12-13 (Desember) kemarin telah didatangkan delegasi ke Indonesia.

Keenam belas waralaba itu adalah Applebee’s, Denny’s, Johnny Rockets, Carvel Ice Cream, Cinnabon, Schlotzsky’s, Moe’s Southwest Grill, Great American Cookies, Marble Slab Creamery, Pretzelmaker, Pollo Tropical, Rita’s Italian Ice, Which Wich, Wing Zone, Crestcom (waralaba pelatihan kepemimpinan), dan The Vitamin Shoppe.

Waralaba AS kali ini tidak jauh berbeda dari kedatangan 7Eleven. Pada akhir 2009 7Eleven mendapatkan izin mengembangkan bisnis waralaba di Indonesia, hingga kini kian menjamur di beberapa tempat strategis yang tingkat daya beli dan ekonominya di atas rata-rata. Kedatangan warabala AS ini ke Indonesia seakan meneropong keberhasilan 7Eleven.

Target konsumsinya cukup menjanjikan. Liat saja populasi penduduk di Indonesia. Populasi Indonesia telah mencapai 250 juta jiwa. Ditopang pula dengan daya konsumsi tadi. Bisnis ini cukup menjanjikan bagi franchisor AS. Kedatangan waralaba AS ini pun mendapat respon dari Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minu­man, Franky Sibarani, yang menyatakan bahwa seharusnya pemerintah lebih mengutamakan pelaku waralaba lokal.

Maka, bersiap-siaplah Anda menebalkan saku demi menghadapi menjamurnya outlet waralaba yang didominasi oleh waralaba asing. Apalagi waralaba pada jenis makanan. Keberagaman jenis makanan dari pihak asing mungkin saja terasa asing bagi perut kita, tapi itulah serbuan waralaba yang akan kita hadapi. Tahun 2012 dan 2013 beberapa outlet baru akan dibuka, dan semakin mudahlah kita menemukan tempat nongkrong yang bergengsi dengan suasana terbuka (outdoor) maupun berdinding transparan.

Fredy Wansyah
(majalah Mimbar Politik)

Diterbitkan di: 28 Februari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.