Permintaan domestik penggerak perekonomian
Investasi belum membaik dan cenderung menurun. Perlambatan investasi ini
dialami oleh industri-industri besar seperti industri logam bukan besi, industri bambu, kayu, rotan, minyak, lemak, pengilangan minyak, mesin, dan barang dari karet.
Struktur ekspor yang rentan terhadap gejolak eksternal. Masalah ini diakibatkan oleh karakteristik kegiatan ekspor Indonesia yaitu kurang terdiversifikasi negara tujuan ekspor dan besarnya komoditas ekspor yang berbasis SDA, padahal komoditas jenis inilah yang mendapat pengaruh besar dari krisis tersebut. Negara tujuan ekspor Indonesia terkonsentrasi pada negara-negara tertentu meliputi AS, Singapura, Jepang, China, dan Korea.
Karakteristik ekspor Indonesia yang seperti ini mengakibatkan industri yang mengekspor akan mendapat dampak yang signifikan. Industri-industri tersebut adalah manufaktur, pertanian dan pertambangan. Industri ini menyerap 50% PDB dan 60% tenaga kerja nasional. Krisis akan menyebabkan meningkatnya gelombang pemutusan tenaga kerja yang berpengaruh pada penurunan konsumsi masyarakat secara agregat.
Dilihat dari pergerakannya pergerakan investasi dalam negeri bergerak searah dengan perkembangan permintaan domestik.
Permintaan domestik selama sepuluh tahun terakhir ini dimotori oleh konsumsi dari sektor rumah tangga. Peningkatan konsumsi dari sektor rumah tangga mengarah sejajar dengan peningkatan upah tenaga kerja. Krisis global menuntut perusahaan-perusahaan untuk mengurangi biaya yang berakibat peningkatan jumlah tenaga kerja yang di-PHK. Kondisi ini akan menyebabkan penurunan konsumsi dari sektor rumah tangga.
Outlook Indonesia Jangka Menengah dibagi menjadi dua yaitu asumsi yang mendukung perbaikan pertumbuhan
ekonomi dan ekspansi pertumbuhan ekonomi mulai tahun 2010.
Asumsi tersebut yaitu perlambatan pertumbuhan ekonomi 2009, pemulihan perekonomian dunia mulai tahun 2010, harga komoditas meningkat namun tidak setinggi periode boom, peningkatan aliran FDI, dan peningkatan stimulus fiskal di 2009. Ekspansi pertumbuhan ekonomi 2010 membahas tentang membaiknya kinerja ekspor, peningkatan konsumsi masyarakat, peningkatan investasi karena peningkatan aliran FDI, dukungan pengeluaran pemerintah, nilai tukar cenderung stabil, dan tekanan inflasi menurun.
Meskipun mengalami tekanan berat di tahun 2009, dalam jangka menengah pertumbuhan ekonomi akan tetap meningkat makin tinggi dan inflasi akan tetap stabil. Permintaan domestik tetap menjadi sumber kekuatan pertumbuhan ekonomi. Permintaan domestik akan diimbangi oleh daya dukung kapasitas perekonomian. Kegiatan ekspor akan kembali meningkat seiring dengan perbaikkan perekonomian global di tahun 2010.
Proses pertumbuhan perekonomian dalam jangka menengah sangat dipengaruhi oleh keberhasilan upaya ekonomi dalam jangka pendek. Jika paket stimulus berjalan lancar terutama di negara-negara G-7, perekonomian dunia akan kembali baik di akhir tahun 2009. Akselerasi akan meningkat di tahun 2010 dan semakin baik di tahun 2011. Tekanan panen dalam jangka panjang akan menurun. Perkiraan ini diambil berdasarkan pertimbangan bahwa produktivitas dan perluasan lahan akan mampu mengimbangi jumlah permintaan pangan. Sebagai tambahan, permintaan akan pangan juga menurun seiring melambatnya jumlah penduduk dunia dan penurunan efek kenaikkan pendapatan terhadap kenaikkan permintaan pangan terutama di negara berkembang. Meskipun demikian permintaan biofuel meningkat yang akan memberikan tekanan pada pangan di masa depan.
Kebijakan fiskal domestik di masa yang akan datang akan ditujukan untuk memberikan stimulus pada perekonomian, dengan tetap mempertahankan sustainabilitas fiskal. Berdasarkan simulasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia, stimulus yang diberikan pada tahun 2009 sebesar Rp 71,3 trilyun akan berdampak signifikan sepanjang dijalankan dengan baik dan tepat waktu. Dampak stimulus tersebut akan mempengaruhi permintaan dan penawaran aggregat dalam perekonomian.
Kebijakan fiskal lain yang dilakukan adalah pengurangan PPh, pelonggaran bea masuk Impor bahan baku dan bahan modal dan pengeluaran pembangungan infrastruktur. Akibat dari kebijakan ini yaitu peningkatan pendapatan yang mempengaruhi peningkatan konsumsi, dan tabungan perusahaan ; peningkatan produktivitas impor ; peningkatan produksi komoditas secara sektoral ; dan menurunnya harga barang domestik atau deflasi.
Aliran FDI dalam jangka pendek akan menurun karena tingginya cash outflow ke negara-negara maju akibat kewajiban pembayaran utang multinasional, dan menutup kerugian yang dialami oleh perusahaan induk. Meskipun demikian di masa depan Indonesia akan mendapat banyak aliran FDI karena investasi di Asia Tenggara masih dianggap menarik. Yang menjadi daya tarik adalah pertumbuhan pasar dan tenaga kerja yang tinggi.
Pemerintah akan secara konsisten mengambil kebijakan dalam reformasi struktural dan peningkatan kapasitas kelembagaan. Kebijakan ini diharapkan dapat memperbaiki iklim investasi secara signifikan. Perbaikkan iklim investasi akan menciptakan iklim yang kondusif bagi kegiatan investasi maupun FDI ke Indonesia. Peningkatan masuknya FDI ke Indonesia akan meningkatkan produktivitas dalam negeri dan efisiensi produksi.
Jika kebijakan stimulus global dan domestik berjalan lancar, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan makin tinggi dibarengi dengan tetap terkendalinya tingkat inflasi. Diharapkan perekonomian Indonesia pada tahun 2013 dan 2014 akan meningkat sebesar 5,7 % -6,7 %. Sejalan dengan membaiknya sektor eksternal, pendapatan penduduk akan meningkat diikuti dengan meningkatnya konsumsi sektor rumah tangga.