• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Bisnis & Ekonomi>Bisnis Internasional>Kebangkitan Asia, Kebangkitan Indonesia!

.

Kebangkitan Asia, Kebangkitan Indonesia!

oleh : RGiovanie    

Pengarang : Guspiabri Sumowigeno
Krisis global telah
mengubah konstelasi kekuatan ekonomi dunia. G- 7 (AS, Inggris, Jepang,
Prancis,
Jerman, Kanada, dan Italia) yang selama puluhan tahun menjadi pengendali
pergerakan ekonomi dunia pun kini tergusur oleh G-20 yang kini merupakan
kelompok elit baru di pentas dunia.

Presiden AS Barack Obama
sendiri dalam penutupan pertemuan G-20 di London beberapa waktu lalu secara
eksplisit mengakui terjadinya pergeseran kekuatan ekonomi yang cukup
fundamental. Ia bahkan menyebutnya sebagai titik balik perekonomian global.


Meningkatnya peran
G-20 memang terlihat nyata. Salah satu simbolnya, Cina bakal mendapatkan suara
lebih besar dan kepemimpinan di IMF serta Bank Dunia, menghentikan dominasi AS
dan Barat.


Yang pasti, bahwa
ekonomi dunia memang sudah sejak lama diprediksikan bakal bergeser ke kawasan
Asia. Konsultan bisnis dan keuangan Goldman Sach, misalnya, sejak tahun 2003
telah memprediksikan bahwa lima besar ekonomi dunia pada 2040 adalah Cina, AS,
India, Jepang dan Jerman. Jadi, tiga di antaranya merupakan negara Asia.


Lantas bagaimana
dengan Indonesia? Ternyata, negeri tercinta ini juga memiliki posisi terhormat
dalam tatanan ekonomi global mendatang. Bahkan organ intelijen Pemerintah AS, National
Intelligence Council (NIC), secara konsisten menyebutkan  Indonesia sebagai bagian dari Asia yang
diperhitungkan dalam pergeseran peta kekuatan global.
Pada tahun 2005,
misalnya, NIC mengekspos kajian berjudul Rising Powers: The Changing
Geopolitical Landscape 2020. Disitu disebutkan bahwa dunia pada 2020 adalah
dunia kompleks dan akan diwarnai kehadiran kelompok negara yang pengaruhnya sedang
bangkit dan memiliki peran penting dalam ekonomi global. Negara-negara itu adalah Cina,
India,Indonesia,Afrika Selatan,dan Brasil. Studi NIC untuk kedua kalinya juga
tak jauh beda dengan tetap menyebut Indonesia sebagai negara potensial.


Yang menarik, krisis
global mempercepat pergeseran peta kekuatan ekonomi itu. Melesatnya peran G-20 adalah
buktinya. Sementara laporan lain Goldman Sach mengenai prediksi perekonomian
global 2050 menyebut Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor 7 dunia
setelah Cina, AS, India, Jepang, Rusia, dan Brasil. Ini melampaui Korea
Selatan, Turki, Prancis, Inggris, Jerman, Italia, dan Kanada.


Sementara Price Waterhouse and Cooper (PWC) menyebutkan,
pada 2050 akan muncul kelompok negara besar bernama E-7, beranggotakan AS,
Cina, India, Jepang, Brasil, Indonesia, dan Rusia. Pun majalah ekonomi
terkemuka The Economist terbitan London dalam laporan berjudul The World in
2007 menyebutkan Indonesia beraada di urutan ke-21, padahal tahun 2004 di peringkat
ke-26 dunia. Pada 2008, peringkat Indonesia
naik ke urutan 20 melampaui Taiwan.
Pada 2010 melampaui Swiss, Swedia, dan Belgia dengan PDB sebesar USD 550 miliar.
Pada 2025 Indonesia akan berada di posisi
ke-14 dunia.


Menginternasionalnya
sejumlah perusahaan besar di Indonesia kian mengukuhkan kiprah Indonesia di
peta ekonomi dunia. Sebagai contoh adalah Krakatau Steel yang dilirik raksasa
baja asal India, Mittal; saham Indosat dibeli Q-Tel dari Qatar, Telkomsel dibeli
Temasek Singapura, Lippo Bank diambil alih Khazanah-Malaysia; BCA, BII, dan
Bank Buana dimiliki perusahaan Singapura, dan sebagainya.


Tetapi, seberapa jauh
peran Indonesia di pentas ekonomi global sangat ditentukan oleh strategi dan
kebijakan pemerintah bersama usaha nasional dalam mengimplementasikan kesepakan
forum G-20, khususnya mengenai perundingan liberalisasi perdagangan dengan
akses pasar lebih besar bagi negara berkembang. (*)




Diterbitkan di: Mei 07, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.