Krisis finansial multidimensi tahun 1997 di Indonesia bukan sekedar sebuah ancaman bagi kelangsungan hidup bisnis,
melainkan juga peluang untuk terus tumbuh dan berkembang. Namun, salah satu perusahaan, Bank Central Asia (BCA), berhasil melalui krisis itu. Bahkan perusahaan itu pulih dari krisis dengan cepat, dan kemudian menjadikan krisis itu sebagai peluang untuk terus tumbuh dan berkembang. Bahkan, bila dalam periode 1997-1999 terdapat bank-bank yang memiliki peluang untuk tetap tumbuh dan berkembang, mereka ini adalah kelompok bank yang sebelum munculnya krisis bersikap pasif dalam aktivitas perbankan sehingga mereka tidak harus menghadapi beban non-performing loans atau negative spread yang besar. Ini berbeda dengan BCA yang relative tidak terbebanidengan non-performing loans dan negative spread meski sebelum masa krisis bukan merupakan bank yang pasif dalam perbankan Indonesia. Kendati dikenal sebagai bank paling agresif dalam memperluas bisnisnya sebelum terjadinya krisis, BCA relative bebas dari beban non-performing loans. Karena focus ekspansi BCA sebelum masa krisis adalah mendapatkan jumlah nasabah sebanyak-banyaknya dengan biaya serendah mungkin dan bukan pada ekspansi kredit corporate banking sebagaimana umumnya dilakukan bank-bank nasional. Di samping itu, BCA juga bebas dri persoalan negative spread. Keberhasilannya menjadi bank yang memiliki jumlah penabung paling banyak, diraih dengan menawarkan bunga simpanan yang rendah, bahkan yang terendah di antara bank-bank nasional. Sukses yang kini diraih BCA itu dilandasi atas pemahaman yang kuat jauh-jauh hari sebelumnya akan peta pasar perbankan Indonesia, suatu sector yang sangat kompotitif di masa mendatang. Situasi inilah yang mendorong BCA untuk memilih berkonsentrasi pada suatu sigmen pasar khusus dan kemudian membangun kompetensinya sedemikian rupa sehingga dapt mengambil tindakan-tindakan yang tepat menghadapi perkembangan prilaku target pasarnya.
PERJALANAN BISNIS BCA
BCA yang berdiri pada 21 februari 1957 mulai di perhitungkan kalangan perbankan Indonesia setelah diambil alih oleh pendiri Grup Salim, Sudono Salim tahun 1974. untuk membuat BCA bertumbuh lebih pesat, Mochtar Ryadi, yang kemudian mengendalikan Grup Lippo miliknya sendiri, diberikan saham untuk memastikan bahwa ia akan secara serius mengelola BCA. Pada tahun 1988, BCA tampaknya mendapatkan peluang untuk makin mempercepat laju pertumbuhannya. Mochtar Ryadi menggunakan suatu skema rekening tabungan / deposito dengan hadiah besar yang disebut tahapan. Pemahaman ini memdorong BCA untuk segera melakukan creative destruction dalam rangka mempertahankan sustainability-nya, dengan cara memfokuskan diri pada kegiatan funding di mass-market banking dan memilih untuk tidak bergerak agresif dalam ekspansi kredit di corporate banking. BCA tidk mu setengah-setengah menggarap sector ini. Ini dapat dilihat dari langkah BCA membentuk divisi consumer banking, yang akan menjdi tulang punggung dari aktivitas-aktivitas mass-market banking BCA. Divisi ini kemudian menyusun berbagai prioritas kegiatan yang mencakup lima aspek : membangun jaringan kuat, membangun teknologi yang kuat, mengembangkan produk-produk perbankan yang berorientasi pada masyarakat lus, mengembangkan konsep pemasran dan promosi yang bersifat massal, serta pengembangkan dan menyempurnakan layanan. Pada tahun 1994, BCA tercatat dalam sejarah perbankan Indonesia sebagai bank dengan jumlah penabung paling banyak di Indonesia. Tiga tahun kemudian, penabungnya yang sudah jutaan itu ikut mengantarkan BCA sebagai bank terbesar di Indonesia.
INDUSTRI PERBANKAN INDONESIA
Industri perbankan Indonesia merupakan salah satu sector yang mengalami pertumbuhan yang pesat antara 1992 dan 1997 dengan tingkat pertumbuhan asset sebesar 22,0% dan tingkat pertumbuhan pinjaman mata uang asing 30%. Selain itu, jumlah Bank juga tumbuh pesat menjadi 237 bank atau naik sebanyak 41 buah hingga sebelum pemerintah melikuidasi 16 bank nasional pada November 1997.
MENUJU BANK UTAMA BAGI PARA DEPOSAN
Tahapan BCA merupakan produk yang superior. Selain kenyataan bahwa tahapan BCA memberikan layanan yang lebih lengkap dan lebih luas dibandingkan bank-bank pesaing, Tahapan BCA juga merupakan satu-satunya produk dengan tingkat pangsa pasar dan mind-share tertinggi untuk kategori produk tabungan di Indonesia. Bahkan, mind-share-nya sebetulnya paling tinggi. Sejak awal tahun 1999, ternyata jumlah penabung di BCA mengalami penurunan. Penurunan itu, menurut Stepgen Liestyo, disebabkan oleh quality leverage sehingga BCA sengaja menutup saldo nol dibawah jumlah minimal Rp. 50.000 yang tidak mengalami transaksi apa pun selama enam bulan.
TAHAPAN BCA : DARI TABUNGAN MENJADI PASPOR BCA
Besarnya respon pada layanan kartu debet sekali lagi mendorong divisi consumer banking BCA untuk mengembangkan layanan cash-backnya, yang disebut tunai BCA (BCA Cash). Kartu ATM-nya yang sebelumnya mengandalkan pada jaringan ATM-nya sendiri, sejak pertengahan tahun 1999 menjadi bagian dari Cirrus, jaringan ATM Internasional untuk penarikan tunai, dan maestro, untuk kartu Debit. Sehingga, kartu ATM BCA bisa dipakai diseluruh dunia. Berbagai perkembangan pada layanan tahapan BCA, membuat nama kartu ATM-nya menjadi paspor BCA, yang menunjukan bahwa kartu ini memungkinkan seorang nasabah melakukan berbagi macam transaksi untuk memenuhi kebutuhan keuangan jangka pendeknya.